Tanamkan Sikap Amanah Sejak Dini

Jumat, 14 Juni 2013 - 13:42 WIB | Dilihat : 19258
Tanamkan Sikap Amanah Sejak Dini

Sifat amanah dan kejujuran mulai langka. Padahal kebangkitan dan kejayaan umat Islam ditentukan oleh sikap amanah dari generasi penerus.  Banyak muslim yang berpikir pragmatis dalam bekerja dan berdakwah.  “Apa yang bisa saya dapatkan”, bukan “Apa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan”. Pakai jurus ‘aji mumpung’.  Akibatnya, banyak anggota DPR dan pejabat negara yang tersandung kasus korupsi dan masuk bui. Aktivis dakwah pun begitu.  “Untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya bisa saya nikmati.” 

Masyarakat kehilangan rasa saling percaya, tumbuh sikap saling curiga (negative thinking), menjamurnya mental hipokrit, apriori terhadap tugas dan kewajiban, serta sifat-sifat tercela lainnya. Umat Islam menjadi miskin produktivitas dan prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah dan untuk memperjuangkan umat Islam.
Mulai sekarang, kita harus segera menanamkan sikap amanah sejak dini.

Pengertian Amanah

Amanah secara bahasa, berarti jujur, dapat dipercaya. Amanah menurut istilah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya, segala sesuatu yang diambil manfaatnya dengan ijin pemiliknya, tidak mengambil sesuatu melebihi haknya dan tidak mengurangi hak orang lain.

Setiap orang yang telah baligh, memikul beban amanah berupa hak dan kewajiban. Orang yang mengingkari amanah berarti mengingkari perintah Allah.  Amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman. Jadi, mu’min berarti orang yang beriman, mendatangkan keamanan, juga memberi dan menerima amanah. Rasulullah bersabda: “Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak pandai memeliharanya.” (HR Imam Ahmad bin Hambal).

Alloh SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh" (QS Al Ahzab: 72).  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS Al Anfaal: 27).

Secara hablun min Allah, amanah Allah kepada manusia adalah Tauhid. Pengakuan bahwa hanyalah Allah yang harus disembah, Allah yang berhak mengatur kehidupan manusia dan Allah yang harus menjadi akhir tujuan hidup. Pelanggaran terhadap tauhid adalah syirik. Musyrik berarti berkhianat kepada Allah. Amanah manusia terhadap Tuhan adalah memelihara semua ketentuanNya, dengan melaksanakan semua perintahNya dan meninggalkan semua laranganNya.

Secara hablun min Naas, amanah adalah memenuhi hak dan kewajiban terhadap sesama manusia sesuai dengan syariat Allah. Amanah manusia kepada orang lain, misalnya mengembalikan titipan kepada yang punya, tidak menipu dan curang, serta menjaga rahasia. Amanah pada diri sendiri adalah menggunakan seluruh umur yang diberikan Allah untuk mengabdi kepadaNya. Amanah pada keluarga yaitu memenuhi hak dan kewajiban sebagai suami, isteri, orangtua, anak. Amanah pada masyarakat, menggunakan seluruh waktu yang dianugerahkan Allah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat dan bangsa.

Sikap amanah dalam pribadi anggota masyarakat menciptakan harmonisasi hubungan, kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa, jujur, transparan, tanggung jawab, disiplin, saling percaya, dan positif thinking.

Rasulullah dikenal sebagi orang yang paling terpercaya dalam menjalankan amanah.  Sejak kecil Nabi saw dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Kejujuran dan amanah menjadi kunci sukses Nabi saw sebagai direktur pemasaran dalam bisnis Khadijah, figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, suami saudagar kaya Khodijah, pemimpin umat, dan utusan Allah SWT.

Muslim yang amanah memiliki etos kerja yang baik, yaitu segala aktivitas dalam rangka mendapat ridho Allah.  Dia tidak akan berbuat curang, korup, dan tindakan tercela yang merusak kualitas imannya. Hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan amanah Alloh SWT, sehingga kebangkitan umat Islam akan tegak di muka bumi.

Tanamkan amanah sejak dini

Rasulullah menanamkan amanah sejak usia dini. Abdullah yang masih kecil disuruh ibunya menyampaikan setandan anggur kepada Rasulullah. Tapi di jalan, mungkin karena kehausan, beberapa anggur dimakan oleh Abdullah. Ketika anggur itu diberikan, Rasulullah mengetahui hal itu. Lalu Rasulullah menjewer telinga Abdullah sambil mengucapkan kalimat, “Hai pengkhianat” sebanyak tiga kali.

Kenalkan anak dengan hak dan kewajibannya, sehingga dia bisa membedakan mana haknya atau bukan haknya, serta kewajibannya. Didik anak agar menjaga hak orang dan tidak punya keinginan untuk memiliki barang orang lain, sekalipun ada di tengah jalan, dan ajak mereka untuk mencari pemiliknya.

Latihlah anak untuk berpuasa. Puasa menuntut sikap amanah dalam segala hal: menuntaskan puasa sampai tenggelam matahari, menghindari bohong, amarah, serta perilaku yang merugikan orang lain, menunaikan semua hak orang lain yang ada di dalam dirinya, membayar zakat. Biasakan anak untuk menjaga amanah serta jauhkan anak dari khianat dan dampak buruknya.

Tumbuhkan sikap jujur pada anak, baik ucapan atau perbuatan. Orang tua memberi contoh untuk tidak berdusta kepada anak meskipun saat bercanda. Jika menjanjikan anak (sesuatu), orang tua harus memenuhinya”. Sifat jujur membuat anak selalu berbuat ikhlas, tidak suka cari muka, jauh dari niat buruk dan berkata benar, sehingga bisa menegakkan amanah. Hadits Nabi saw:  “Selalulah kamu jujur, karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan kebaikan itu sesungguhnya mengantarkan pada surga. Sedangkan dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka. (Mutafaqun Alaih).

Orang tua menjadi teladan untuk menjauhi ucapan yang buruk: celaan, umpatan, serta kata-kata kotor.  Nabi bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau diam (saja) (HR. al-Bukhari). Larang anak untuk berkata buruk dan tidak senonoh.

Pilihkan teman pergaulan yang baik dan jauhkan anak dari teman yang buruk. Kerusakan pertama pada anak terjadi karena kawannya.

Jauhkan anak dari benih-benih penyimpangan sejak dini. Anak yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya. Didik anak dengan ajaran Islam dan ajarkan anak hal-¬hal yang dibutuhkannya dalam urusan agama dan dunianya.  Kembangkan kepribadian anak dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik.

Doakan agar anak bisa memiliki sikap amanah. Nabi saw bersabda :  Ada tiga doa yang mustajab, tidak diragukan doa itu : doa orang tua bagi anaknya, doa musafir, dan doa orang yang terzholimi”.

Tempa jiwa anak menjadi kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan dan perjuangan mengarungi kehidupan. Segala sarana dan metode yang membentuk pribadi anak menjadi cengeng, lemah, mudah marah, mudah patah semangat dan putus asa harus dihilangkan. Misalnya, lagu cengeng dan film picisan.

Rasulullah saw mengajarkan Ibnu Abbas (di bawah sepuluh tahun): “....Ketahuilah. bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan manfaat kepadamu, mereka tak akan mampu melakukannya lebih dari yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka bersatu ingin mencelakakanmu, mereka tak akan mampu melakukannya lebih dari yang telah Allah tetapkan atasmu.... “...Ketahuilah. Bahwa pertolongan Allah datang melalui kesabaran, bersama perjuangan ada pengorbanan, dan bersama kesulitan ada kemudahan...” (HR. At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas)

Terakhir, tumbuhkan sikap rajin pada anak sejak dini.  Nabi saw bersabda:  “Bersemangatlah kalian kepada apa-apa yang bermanfaat bagi kalian. Mohonlah pertolongan kepada Allah untuk itu dan jangan pesimis dan merasa lemah” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

[Ummu Hafizh]

0 Komentar