Mengajarkan Sikap Kepemimpinan Pada Anak

Kamis, 30 Juni 2016 - 22:08 WIB | Dilihat : 3207
Mengajarkan Sikap Kepemimpinan Pada Anak   Ilustrasi: Anak-anak sedang mengantri berwudhu

Ada anak yang terlahir dengan bakat memimpin. Tetapi, ternyata kepemimpinan itu lebih banyak diperoleh dari proses belajar. Orangtua harus berusaha menjadi model dan mengajarkan anak-anaknya dengan keterampilan untuk memimpin dirinya sendiri dan orang lain, di dunia yang penuh persaingan ini. Ataukah kita akan biarkan anak-anak menjadi budak pemikiran dominan yang merusak?

Sifat-sifat Pemimpin
 
Pemimpin dalam konteks luas, anak terjun ke lingkungan sosial dan mulai tumbuh untuk berinteraksi secara dewasa.  Pemimpin dalam lingkup kecil, yaitu memimpin dirinya sendiri agar dapat mengatur diri, menyelesaikan konflik serta dapat membawa pengaruh positif terhadap lingkungan di sekitar.  Kelak, mampu memimpin keluarganya dan mampu mengarahkan orang lain atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama.
 
Sifat-sifat pemimpin: beriman dan beramal shaleh, ikhlas lillahi ta”ala.  Bersifat tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta melaksanakan aturan hukum yang sesuai dengan Allah SWT dan Rasulnya. 
 
Bersifat lemah lembut.  Doa Rasullullah: "Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya".
 
Berpegang pada hukum Allah.  Allah berfirman,  ”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49).
 
Memutuskan perkara dengan adil.  Rasulullah bersabda, ”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).
 
Senang menasehati. Rasulullah bersabda, ”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”
 
Bersifat sidiq (jujur), Tabligh (menyampaikan), amanah (dapat dipercaya), fatonah (cerdas). Membantu orang lain, menjaga sopan santun dan tata krama. 
 
Tips Menumbuhkan Jiwa Pemimpin
 
Tumbuhkan rasa percaya diri, dengan membiasakan mengeluarkan pendapat sendiri. Anak tumbuh menjadi berani, semangat, orisinil, tindakannya bisa menginspirasi orang lain untuk menjadi yang terbaik.  
 
Tumbuhkan kemampuan mempengaruhi orang lain. Membujuk seseorang untuk melakukan sesuatu, mendelegasikan sesuatu atau mengajak melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. Belajar bergaul dengan orang lain, untuk latihan berdiskusi dan mengarahkan orang lain.
 
Tumbuhkan kemampuan berkomunikasi yang tepat, dengan memperbanyak pengalaman berinteraksi dan bersosialisasi.  Orang tua sebaiknya mendengarkan dan berinteraksi agar anak terbiasa untuk menjalin komunikasi dengan lingkungannya.  Beri contoh dan bimbing anak agar terampil berkomunikasi untuk memperoleh apa yang diinginkan dan meminta bantuan. Mampu berkomunikasi persuasif: dapat membaca suasana hati orang lain dan memberi respon yang sesuai, menemukan cara yang tepat untuk meminta barang atau bantuan, mampu berdiskusi untuk hal-hal yang sederhana.  Asah ketrampilan anak dengan banyak di bacakan buku cerita, mendongeng, bernyanyi bersama.
 
Tingkatkan kecerdasan emosional (EQ).  Mampu mengelola perilaku, memberi arah dalam pergaulan sosial, dan membuat keputusan pribadi yang positif.  Anak-anak belajar kecerdasan emosional dari orang tua. Orangtua menjadi teladan dalam kesadaran emosi, konrol perilaku dalam merespon emosi dan bagaimana reaksi kita menanggapi emosi anak. Faktor EQ mencapai 58% dari kinerja pemimpin.  
 
Jangan fokus pada prestasi individu.  Para pemimpin terbaik dikelilingi oleh orang-orang hebat, karena mereka tahu tidak dapat melakukannya sendiri.
 
Jangan berlebihan memuji anak.  Pujian perlu untuk membangun harga diri. Rasa percaya diri dibutuhkan untuk menjadi pemimpin sukses.  Pujian berlebihan dan tidak sesuai dengan prestasi, membuat anak bingung dan tumbuh kepercayaan diri yang semu.
 
Perlu pengalaman risiko dan kegagalan.  Resiko mendorong kesuksesan. Terlalu protektif melindungi anak dari kegagalan, bukan meningkatkan harga diri malah menyulitkan anak menerima kegagalan, tidak berani mengambil risiko dan konsekuensinya. 
 
Tidak memanjakan anak.  Kesuksesan pemimpin diperoleh setelah mampu menunda kepuasan dan bekerja keras untuk hal-hal yang benar-benar penting. Tingkatkan kesabaran anak.  Mereka harus menetapkan tujuan dan bekerja keras untuk meraihnya. Tidak memanjakan anak hanya mengecewakan sesaat, tetapi mereka akan mendapatkan yang lebih.
 
Belajar memecahkan masalah sendiri.  Jika orang tua terus memecahkan masalah anaknya, maka anak tidak mampu mengembangkan kemandirian, tidak belajar dan kurang pengalaman dalam mengatasi konflik.  Pemimpin bertindak, mengambil alih, bertanggung jawab dengan penuh perhitungan, fokus dan tidak mudah putus asa, memiliki ide baru dan kreatif dalam memecahkan masalah, menggunakan pengalaman dan keberhasilan masa lalu dalam menghadapi situasi baru, merancang pemecahan masalah sebelum melakukannya.  Anak sebaiknya pernah mengalami masalah dengan teman-temannya, agar dia belajar mengatasi masalah tersebut.
 
Orangtua tidak perlu menutupi kelemahannya.  Betapapun marah dan menantangnya anak, orangtua tetap menjadi pahlawan dan model masa depannya.  Orangtua  tidak perlu menyembunyikan kesalahan masa lalu, karena takut anak akan mengulanginya.  Orangtua yang tidak terlihat kelemahannya, membuat anak merasa hanya dirinyalah  yang  bersalah karena kegagalan.  Pemimpin mampu memproses kesalahan, belajar dari kesalahan, dan terus maju menjadi lebih baik. 
 
Tumbuhkan inisiatif: berbuat positif tanpa diminta, membina diri secara mandiri, senang membantu dengan ikhlas.
 
Tumbuhkan kemampuan bekerjasama:  tertarik pada kegiatan berkelompok, mau berbagi mainan dan bermain bersama, menolong anggota kelompok yang kesulitan, kooperatif dalam melakukan kegiatan dalam kelompok kecil, bernegosiasi untuk menentukan aturan main dalam kelompok.
 
Tumbuhkan sikap bertanggung jawab: mampu menyelesaikan tugas, mengakui dan meminta maaf apabila melakukan kesalahan, konsisten dengan ucapan.  Beri kesempatan anak untuk berperan serta ketika ia ingin membantu, dan tidak sering melarang saat ia berinisiatif melakukan sesuatu.  Dorong anak untuk melakukan sesuatu dan tidak mudah menyerah.  Beri kesempatan untuk gagal, lalu bantu anak mencari solusi dan tidak putus asa.
 
Berikan pujian jika anak menunjukkan sikap kepemimpinan. Bantu anak menunjukkan kemampuan memimpin.  
 
Tumbuhkan rasa percaya diri sejak dini, sehingga dia mau melakukan suatu perbuatan. Jangan membuat anak minder dengan langsung memarahi anak sedang salah.  Jangan dibentak jika anak tidak mau melakukan sesuatu. Jika anak berbuat salah, ajari cara mengatasinya dengan penuh kasih sayang.
 
Khatimah
 
Generasi muda Islam adalah calon-calon pemimpin masa depan.  Kita harus bisa mencetak calon-calon pemimpin masa depan, yang akan memimpin dunia dengan aturan Alloh dan RasulNya.  Amin Ya Robbal ‘alamin. []
0 Komentar