Ketika Peran Pendidikan Keluarga tak Berfungsi

Minggu, 15 Mei 2016 - 10:09 WIB | Dilihat : 2028
Ketika Peran Pendidikan Keluarga tak Berfungsi Ilustrasi

 

Ghazwul fikri merupakan problematika serius yang sedang dihadapi umat Islam modern ini. Perang pemikiran jelas bertujuan untuk merusak masyarakat Muslim dan dunia umumnya. Salah satu kesuksesan ghazwul fikri dalam membuat ketimpangan dalam kehidupan adalah, hilangnya fungsi keluarga dalam mendidik anak-anak, baik sejak dini hingga dewasa nanti.    
 
Hilangnya fungsi keluarga yang terjadi di kalangan masyarakat, menjadi virus serius yang mengancam kesehatan sebuah bangsa. Bagaimana tidak, jika keluarga sudah tidak baik maka secara otomatis bangsa akan mengalami kemunduran yang nyata dan jelas. Saat ini, keluarga hanyalah bernilai sebatas status sosial belaka. Pengakuan seorang suami memiliki isteri, dan seorang isteri memiliki suami. Hanya sebatas itu, tanpa mengandung arti yang lebih dalam dan bermakna.
 
Keluarga memiliki fungsi yang hebat, mengandung makna yang dalam, begitu seharusnya. Karena keluarga adalah sekolah pertama bagi para anak-anak, dari keluarga mereka dididik oleh kedua orangtuanya. Sebagai kedua orangtua jelas menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Jika melihat sejarah, maka akan didapati bahwa lahirnya orang-orang hebat sejak dulu sampai sekarang berawal dari sebuah keluarga. 
 
Bagaimana cara orangtua mendidik anaknya, bagaimana mereka menjadi suri tauladan baginya, mengajarkan adab dan akhlak, etika maupun norma agar nilai-nilai kemanusiaan tidaklah rusak. Semua itu sangat lah dipengaruhi oleh peran seorang ayah dan ibu. Pendidikan bukan hanya sekedar di bangku sekolah, bukan hanya di jenjang kuliah, namun pendidikan yang sebenarnya adalah, bagaimana pendidikan mampu menjadikan pribadi yang tangguh dsn sanggup menyikapi sekaligus menghadapi ujian dan musibah dalam alur roda kehidupan.   
 
Adab dan akhlak anak perlu kita perhatikan, bukan hanya kepintaran yang perlu ditingkatkan, bukan hanya kekayaan yang harus didapatkan. Namun lebih dari itu, menjadikan anak berbudi pekerti luhur dan mampu berpikir baik dengan tingkat kecerdasan intelektual yang tinggi. Mari sejenak menelisik dan mengambil pelajaran dari apa-apa yang dihasilkan dan terjadi di Negara Jepang. Negara modern, yang terkanal kemajuan teknologinya dan kedisiplinan tata sosialnya. 
 
 
Dikisahkan potret kehiduapan di Jepang, tidak ada suara klakson yang bising di jalanan, antara satu mobil dengan mobil yang lain sangat menghargai kenyamanan berkendara, dan tidak ada sampah yang berserakan di pinggiran jalan. Ketertiban dan kebersihan lingkungan membuat nyaman warga jepang, terpupuk rasa kekompakan antara warga dan pemerintahan, setiap individu tidak mau menganggu kehidupan yang lain, begitu juga dalam hal perekonomian. Tidak ada riba atau bunga di berbagai instansi perbankan di Jepang, namun pajak sangat diperhatikan, bayangkan pengambilan pajak bisa mencapai 40% dari setiap individu. 
 
Namun sekali lagi, yang dikatakan keberhasilan, kesuksesan dan kebahagian, tidaklah hanya diukur dengan kekayaan dan kemajuan materi, tetapi lebih dari itu. Yaitu ketenangan hati yang menjadikan seseorang itu mempu sukses dan berhasil menjalani kehidupan di dunia ini. Jepang semakin hari semakin berkembang teknologinya dan perekonomiannya, namun ada masalah yang serius dalam bidang pendidikan, terutama pendidikan moral dan etika, dalam Islam yaitu aspek adab dan akhlak. 
 
Para pemuda pemudi Jepang setalah SMA biasanya sudah lepas dari orang tua. Orangtua seakan tidak ada kesempatan lagi untuk ikut campur mengurusi urusannya. Dia mau kemana, dia mau bersama siapa, tidak ada wewenang orangtua terhadap anaknya. Sehingga terjadinya perzinaan dikalangan para remaja jepang dan nasib para orangtuapun terlantarkan. Karena orangtua tidak lagi bersama anak-anaknya. Tidak tau anaknya kemana, tidak tau bagaimana keadaannya, orangtua mereka kecewa atas tingkah laku mereka. Mereka meninggalkannya ketika dewasa padahal ia sudah dirawat sampai usia ramaja. Banyak didirikan TK di sana (Taman Kakek-Kakek) untuk menampung dan membantu nasib para orangtua yang sudah lanjut usia. 
 
Banyak orangtua yang berdatangan ke lereng gunung Fujiyama untuk berintrospeksi diri dan meratapi nasibnya. Banyak orangtua yang kaya raya, memiliki mobil merah, rumah megah namun hatinya resah dan gundah. Mereka kaya akan harta, namun miskin iman dan agama. Mereka tidak suka dengan adat dan kebiasaan pemuda Jepang yang meninggalkan orangtuanya dan melantarkannya. 
 
Fenomena ini membuat kita sadar bahwa pendidikan keluarga sangatlah penting bagi kehidupan diri kita pribadi, sangat berpangaruh dalam kerukunan anggota keluarga dan menjadi modal utama perkembangan sebuah negara. 

[Ahmad Nuzul Hidayat]
 
0 Komentar