Hubungan Jarak Jauh dalam Pernikahan, Begini Pandangan Islam

Sabtu, 19 Maret 2016 - 07:12 WIB | Dilihat : 9154
Hubungan Jarak Jauh dalam Pernikahan, Begini Pandangan Islam Ilustrasi: Long Distance Relation (LDR)
SI Online - Membangun sebuah bingkai pernikahan, bukan sekedar menyatukan dua hati atau keluarga yang berbeda. Sejatinya, tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk mewujudkan rasa aman, nyaman serta menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah,  warrahmah. Sebagaimana  firman Allah SWT; 
 
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum : 21) 
 
Kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah sesungguhnya dapat terealisasi, jika salah satu diantaranya adalah apabila pasangan suami isteri dapat hidup saling berdampingan setiap waktu. Dengan demikian pasangan suami isteri dapat saling menjaga, menumpahkan kasih sayang dengan lebih mudah, serta mengamati atau mengawasi proses tumbuh kembang anak secara bersama. 
 
Namun pada kenyataannya, keinginan yang dimiliki setiap pasangan suami isteri tersebut tidak selalu sejalan dengan realita yang ada. Sebab, setiap rumah tangga memiliki ujian pernikahan yang berbeda satu dengan lainnya. 
 
Diantara ujian pernikahan tersebut adalah terpisahnya suami isteri atau menjalani hubungan jarak jauh dalam pernikahan. Hal ini bisa terjadi karena berbagai faktor diantaranya adalah karena pekerjaan atau tempat mencari nafkah. Tidak sedikit suami ataupun isteri rela menjalankan hubungan jarak jauh demi mempertahankan karir atau pekerjaan mereka. 
 
Dalam Islam, kebersamaan pasangan suami isteri berada dalam satu rumah merupakan hal yang esensial. Selain dapat saling berkasih sayang dan memenuhi kebutuhan biologis, juga mampu saling mendukung disaat salah satu pasangan memiliki masalah. 
 
Sesunguhnya, bagaimana  pandangan Islam mengenai hubungan jarak jauh antar suami istri?
 
Syaikh Dr Su’ad Shalih mengatakan jika batas maksimum suami diperbolehkan berada jauh dari istrinya adalah 4 bulan, dan menurut ulama Hanbali batasnya adalah 6 bulan. Dan batas ini merupakan waktu maksimum seorang wanita dapat bertahan perpisahan dari suaminya.
 
Penah juga dikisahkan dari khalifah Umar Bin Khattab, kala itu beliau sedang berkeliling di tengah malam untuk melihat kondisi nyata masyarakatnya, tiba-tiba disebuah rumah dia mendengar suara seorang wanita yang tengah meratap.
 
“Malam ini panjang, berselimut dingin dan kegelapan; Saya tidur sendiri tanpa teman, Demi Allah, seandainya bukan karena takut kepada-Nya, niscaya ranjang itu sudah bergoyang.”
 
Khalifah Umar  lalu menyelediki, ternyata wanita tersebut memang ditinggal suaminya untuk dinas militer (berperang). Kemudian, Khalifah Umar bertanya pada putrinya Hafsah, yang merupakan janda Rasulullah SAW mengenai berapa lama seorang wanita dapat bertahan ditinggal pergi suaminya? Dan Hafsah pun menjawab selama empat bulan. 
 
Ahirnya peristiwa ini memicu Khalifah Umar membuat peraturan, jika tentara yang berperang melawan musuh atau menjaga perbatasan, maka ia harus pulang dan digantikan oleh yang lain tidak lebih dari 4 bulan.
 
Namun, jika istri merelakan suami untuk  pergi lebih dari 4 bulan untuk urusan tertentu, ikhlas untuk tidak diberi hak-hak secara batiniah selama itu, maka hal ini merupakan suatu pengecualian saat keduanya ada sebuah kesepakatan untuk ridha.
 
Menjalankan hubungan pernikahan jarak jauh bagi suami isteri memang mengandung resiko yang besar.  Namun jika hal tersebut terpaksa dilakukan, akan lebih baik jika pasangan suami isteri perlu memperhatikan hal penting berikut, diantaranya adalah menjaga tali komunikasi antara kedua belah pihak, perlunya menciptakan quality time ketika bertemu, dan yang terpenting diatas itu semua adalah tetap menjaga komitmen pernikahan baik kepada Allah SWT dan antar pasangan masing-masing. 
 

(Yunita Nurwidiya) 

0 Komentar