Meneladani Asma binti Abu Bakar dalam Menjaga Hak Suami dan Kehormatannya

Minggu, 07 Februari 2016 - 11:37 WIB | Dilihat : 3098
Meneladani Asma binti Abu Bakar  dalam Menjaga Hak Suami dan Kehormatannya Ilustrasi: Istri Shalihah Menjaga Hak Suami
SI Online - Dalam kehidupan berumah tangga Allah SWT melarang masing – masing pihak, laki-laki dan perempuan untuk bersikap sewenang-wenang terhadap kelebihan dirinya dibandingkan yang lain. Dalam sebuah ayat Allah Swt berfirman :
 
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nisa : 32)
 
Allah Swt juga telah meletakan hak dan kewajiban kepada suami dan isteri dalam menjalankan kehidupan rumah tangga. Dalam hal ini seorang isteri memiliki kewajiban untuk menjaga hak suami, serta menaati seluruh perintah suaminya, sepanjang perintah tersebut tidak mengandung unsur kemaksiatan kepada Allah Swt. Diantara kewajiban tersebut yakni dilarang keluar rumah tanpa seizin suami, tidak diperkenankan melakukan puasa sunah tanpa seizin suami, walaupun puasa merupakan ibadah. Bahkan andai saja Allah Swt memerintahkan manusia bersujud kepada manusia lain, pastilah wanita diminta bersujud pada suaminya. 
 
Terkait perintah menaati atau menjaga hak suami oleh seorang wanita, kisah Asma binti Abu Bakar r.a yang merupakan isteri dari Zubair r.a berikut dapat menjadi tauladan yang baik bagi para isteri atau seluruh kaum wanita. Diriwayatkan kisah dari Asma binti Abu Bakar r.a,” . . . Suatu hari aku datang, sementara biji kurma masih ada di atas kepalaku, kemudian aku bertemu dengan Rasululah Saw yang bersama dengan sekelompok sahabat Anshar. Beliau mengundangku sembari bersabda : “Kemarilah! Beliau ingin memboncengkanku di belakangnya. Aku merasa malu untuk berjalan bersama kaum laki-laki. Aku juga ingat dengan kecemburuan Zubair, dimana dia merupakan orang yang sangat pencemburu. Segera Rasulullah Saw menyadari bahwa aku malu, segera beliau meneruskan perjalanan.

Aku pun datang kepada Zubair. Aku berkata : “Aku bertemu dengan Rasulullah Saw sementara di atas kepalaku ada biji kurma. Beliau bersama dengan kelompok orang Anshar, segera beliau merundukan untanya supaya aku dapat naik. Namun aku malu dan aku mengetahui kecemburuanmu.” Dia berkata : “ Demi Allah Swt kamu membawa biji kurma itu lebih memalukan bagiku, ketimbang kamu harus naik unta bersama Rasulullah Saw . . . “ (HR.Bukhari, Muslim)
 
Seorang Muslimah yang beriman kepada Allah Swt dia akan memahami bahwa segala sesuatu yang dia lakukan tidak ada yang sia – sia di mata Allah. Sesungguhnya hal tersebut memperoleh imbalan pahala yang besar dan kedudukan yang mulia baginya. Untuk itu menjaga kehormatan diri, melaksanakan perintah dan menjaga hak suami akan dijalani dengan penuh keikhlasan untuk mengharap ridho dari Allah Swt.
 
Hal sebaliknya pun telah ditetapkan syari’at untuk seorang suami, ketika seorang isteri telah diperintahkan untuk berlaku taat dan memuliakan suaminya , maka hal yang sama pun ditujukan pada seorang suami. Bahkan Rasulullah Saw sendiri telah menetapkan bahwa menjaga isteri merupakan sebuah parameter bagi kebaikan suami. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata:
 
Rasulullah Saw bersabda : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling baik di antara mereka adalah orang yang paling baik kepada isterinya.” (HR.Ahmad )
 

(Yunita Nurwidiya) 

0 Komentar