Haram Menelantarkan Anak

Sabtu, 30 Mei 2015 - 07:08 WIB | Dilihat : 23182
Haram Menelantarkan Anak Ilustrasi : anak pengungsi Rohingya di Aceh sedang beristirahat di atas lantai tanpa mengenakan baju. (foto: viva.co.id)

Penelantaran anak yang terjadi baru-baru ini di perumahan elite di Citra Grand, Cibubur, sungguh sangat memprihatinkan. Padahal sang ayah, merupakan dosen STT Muhammadiyah di Cileungsi, Bogor. Sedangkan ibunya, merupakan ibu rumah tangga. Bagaimana Islam memandang masalah penelantaran anak?

Kewajiban Orangtua adalah Hak Anak

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” [QS At Tahrîm: 6].  Seorang tabi’in, Qatadah menafsirkan, “Engkau perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan larang mereka durhaka kepada-Nya. Engkau terapkan perintah Allah kepada mereka, perintahlah dan bantulah mereka untuk menjalankannya.  Jika engkau lihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegahlah mereka.”

Rasululloh Saw bersabda:”..., pria adalah pemimpin didalam keluarganya dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin rumah suami dan anak-anaknya, dia akan ditanya tentang kepemimpinannya... (HR Bukhari Muslim).

Menurut Zakiyah Darajat dkk, orang tua mempunyai 3 peran terhadap anak: merawat fisik anak agar tumbuh kembang dengan sehat, proses sosialisasi anak agar belajar menyesuaikan diri dengan lingkungannya, serta kesejahteraan psikologis dan emosional anak.  Kewajiban orangtua adalah hak anak untuk: hidup, nama yang baik, disembelihkan aqiqahnya, ASI 2 tahun, makan/minum/pakaian, pendidikan agama, pendidikan shalat, tempat tidur terpisah antara pria dan wanita, pendidikan adab, pengajaran al-Qur’an/baca tulis, perawatan dan pendidikan kesehatan/kebersihan, pengajaran keterampilan, kasih sayang, keamanan, dan perlindungan.
 
Pentingnya Pendidikan Anak

Rasulullah Saw bersabda:“Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik” (HR Al Hakim).

Imam Abu al-Hamid al-Ghazali ra berkata, “...Jika anak dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, maka dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Setiap orang yang mendidiknya (orang tua maupun para pendidik yang lain) akan turut memperoleh pahala sebagaimana pahala sang anak atas amal shalihnya.  Jika dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, maka dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa.  Dosa yang diperbuatnya turut ditanggung oleh orang-orang yang berkewajiban mendidiknya”.

Imam Ibnu al-Qayyim ra, “Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua mengabaikan mereka, tidak mengajarkan berbagai kewajiban dan ajaran agama. Orang tua yang menelantarkan anak-anaknya ketika mereka kecil, membuat mereka tidak berfaedah bagi dirinya dan orang tuanya ketika mereka telah dewasa. Ada orang tua yang mencela anaknya yang durjana, lalu anaknya berkata, “Ayah, engkau durjana kepadaku ketika kecil, maka aku pun durjana kepadamu setelah aku besar. Engkau menelantarkanku ketika kecil, maka aku pun menelantarkanmu ketika engkau tua renta”.

Langkah-langkah dalam mendukung perkembangan  pendidikan anak adalah memahami cara belajar anak, memahami fitrah (sifat bawaan) anak, menggunakan pendekatan metode pendidikan.

Bahaya Doa Jelek Orangtua terhadap Anaknya

Rasulullah Saw bersabda, "3 doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik orang tua pada anaknya" (HR Ibnu Majah).  "Ada 3 jenis doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.
Orang tua harus selalu berdoa yang baik untuk anaknya.  Orangtua harus sabar dan kuat menahan amarah ketika melihat kenakalan anaknya.  Berpikir keras untuk mencari solusi terbaik untuk memperbaiki anaknya.

Para nabi dan orang sholeh selalu mendoakan kebaikan pada anak keturunannya.  “...jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat... " (QS Ibrahim: 40).  "...jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala" (QS Ibrahim: 35).  "... anugrahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa" (QS Al Furqan: 74)

Katsir bin Ziyad bertanya kepada al Hasan, “Apakah yang dimaksud qurrata a’yun terjadi di dunia atau di akhirat? Al Hasan menjawab, “Bahkan terjadi di dunia.” Katsir: “Bagaimana bisa?” Al Hasan:  “Demi Allah, Allah akan memperlihatkan kepada seorang hamba, istri, saudara dan kolega yang taat kepada Allah.  Demi Allah, tidak ada yang menyenangkan hati seorang muslim selain melihat anak, orang tua, kolega dan saudara yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla”.

Manfaat Kesholehan Orangtua terhadap anak

Orang tua yang baik, sumber yang baik, akan menghasilkan keturunan yang baik ” (QS Ali Imran: 34).  Keshalihan orang tua menyebabkan Allah akan menjaga anak bahkan cucu-cucunya.  Ibnu Katsir ra menafsirkan “ayah” yang dimaksud dalam Qur’an Surat Al Kahfi: 82, adalah kakek ketujuh dari dua anak yatim ybs.

Di surga, Allah SWT akan mengumpulkan anak bersama orang tua mereka yang shalih, meskipun amalan anak tidak sebanding amalan orang tua, dengan syarat mereka beriman (QS Ath Thuur: 21).

Seorang tabi’in, Sa’id ibn Al Musayyib ra berkata, “Ada kalanya ketika aku shalat, aku teringat akan anakku, maka aku pun menambah shalatku (agar anak-anakku dijaga oleh Allah SWT).”

Dampak Buruk Penelantaran Anak

Islam melarang  penelantaran anak, karena anak akan melanjutkan apa yang dimiliki orang tuanya terutama untuk menjaga keturunan keluarganya supaya tidak punah, harapan agama dan bangsa untuk perjuangan di masa depan.  Orang tua wajib menjaga, memelihara, serta mendidik anaknya supaya menjadi generasi yang kuat, sehingga mampu memajukan dan memperjuangkan agama dan bangsa dengan baik, bukan menelantarkan anaknya sehingga menjadi generasi yang lemah (QS An Nisa’: 9).

Dampak buruk penelantaran anak, adalah banyak anak terlantar yang menjadi  pengemis, gelandangan, pengangguran, akhirnya muncul masalah kriminalitas dan kenakalan remaja.  Secara fisik terlihat: perkembangan fisik maupun emosional tidak normal, bayi yang kurang kasih sayang orang tua alami gangguan kemampuan sosial dan bahasa, sikap curiga/tidak tegas/sangat gelisah, sering bolos sekolah/prestasi di sekolah kurang baik, penampilan tampak sangat lusuh tidak terawat.

“Cukup berdosa seorang yang mengabaikan orang yang menjadi tanggungannya”.(HR. Abu Daud Nasa’i dan Hakim). 

Jika Ayah Tidak Mampu Memberi Nafkah

Jika ayah telah bekerja keras namun penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan primer anak, maka ayah harus minta bantuan ahli warisnya anak, karena ahli waris juga berkewajiban menafkahi anak tersebut (QS Al Baqarah:233).

Waris di sini adalah siapa saja yang berhak mendapat warisan jika sang anak meninggal dunia. Jika yang meninggal orang dewasa, maka ada 25 orang yang bisa menjadi ahli waris: 15 orang dari kalangan pria dan 10 orang dari kalangan wanita. Jika anak belum dewasa, ahli warisnya (selain ayahnya) ada 6 pihak: 3 orang dari kalangan pria dan 3 orang dari kalangan wanita.

3 orang pria adalah: kakeknya anak dari pihak bapak (bapak dari bapak dan seterusnya hingga ke atas), pamannya anak (baik yang seibu-sebapak dengan bapak), maupun paman sebapak (saudara pria bapak yang sebapak).  3 wanita yang menanggung nafkah anak adalah: ibunya anak (karena ayah sedang tidak sanggup), nenek dari pihak ibunya anak (ibu dari ibu dan seterusnya hingga ke atas), nenek dari pihak ayahnya anak (ibu dari ayah atau ibu dari kakek dan seterusnya hingga ke atas).

Islam mendorong dan memuliakan karib kerabat yang mau menolong kerabatnya yang sedang kesulitan, termasuk kesulitan ekonomi menafkahi anak-anaknya. Rasulullah Saw bersabda: “Penghuni surga itu ada 3 golongan: 1. penguasa yang adil, suka bersedekah, dan sesuai dengan syariat. 2. orang yang penyayang, hatinya mudah terenyuh untuk membantu kerabat dan  orang Islam. 3. orang yang menjaga kesucian diri dan terjaga kesuciannya, sementara ia mempunyai keluarga.”

Jika anak sebatang kara karena keluarga besar terkena krisis keuangan atau bencana alam, maka nafkahnya menjadi tanggung jawab Negara Islam. Rasulullah Saw bersabda, “Siapa saja yang meninggalkan harta, maka untuk warisnya. Dan siapa saja yang meninggalkan “kalla” (orang yang lemah dan tidak punya anak dan orang tua), maka dia menjadi kewajiban kami.”  Muhammad Saw juga kepala negara Daulah Islamiyah. 

“Lindungilah anak-anak kita, didiklah mereka, agar menjadi generasi sholih, pejuang Islam yang tangguh, pemimpin umat masa  depan yang kuat”.

[Ummu Hafizh]

0 Komentar