Kelanjutan Pesantren Ramadhan dalam Keluarga

02 Juli 14:09 | Dilihat : 570
Kelanjutan Pesantren Ramadhan dalam Keluarga Ilustrasi

Ramadhan telah berlalu. Kita sudah sebulan penuh latihan untuk meningkatkan: kesabaran, kedekatan kepada Alloh SWT, kesadaran adanya pengawasan Allah, kepedulian kepada sesama manusia, keterikatan terhadap syariat, semangat belajar Islam dan memperjuangkannya, semangat ibadah dan dakwah. Di bulan syawal, kita mulai memasuki ujian kehidupan yang sebenarnya. Maka kita harus mengevaluasi Pesantren ramadhan keluarga kita.

Imam Mu'alla bin al-Fadhl berkata, "Dulu para salaf berdoa selama 6 bulan agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa selama 6 bulan berikutnya agar Dia menerima amal-amal sholeh yang mereka kerjakan."

Suatu ketika, Nabi Saw menaiki mimbar. Ketika naik tingkat pertama, beliau mengucapkan, "Ãmiin." Kemudian menaiki yang kedua, beliau mengucapkan, "Ãmiin." Kemudian menaiki yang ketiga, beliau mengucapkan "Ãmiin." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Kami mendengarmu mengucapkan `Ãmiin' tiga kali?" Beliau bersabda, "Saat aku naik anak tangga pertama, Jibril mendatangiku. Ia berkata, `Sengsaralah seorang hamba yang mendapati Ramadhan dan meninggalkan bulan itu, namun ia tidak diampuni.' Maka aku mengucapkan, `Ãmiin.' Kemudian ia berkata, `Sengsaralah seorang hamba yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya, namun hal itu tidak memasukkannya ke surga.' Maka aku mengucapkan, `Ãmiin.' Ia berkata lagi, `Sengsaralah seorang hamba yang engkau disebut di sisinya, namun ia tidak bershalawat kepadamu.' Maka aku katakan, `Ãmiin" (HR Bukhori).

Imam Bisyr bin al-Harits al-Hafi pernah ditanya tentang orang-orang yang hanya rajin dan sungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan.  Beliau menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, karena tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan. Hamba Allah yang sholeh adalah orang yang rajin dan sungguh-sungguh beribadah dalam setahun penuh".  Alloh SWT berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan; Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah akan turun kepada mereka para malaikat seraya mengatakan; Janganlah kalian takut dan jangan sedih, dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan kepada kalian." (QS 41: 30)

Evaluasi dan Follow Up Pesantren Ramadhan

Evaluasi program pesantren ramadhan yang dilakukan setiap anggota keluarga: shaum sunnah, Istigfar, zikir, doa, qiyamul lail, Infaq harian, sholat dhuha, baca buku Islam, ODOJ (One Day One Juz, sehingga khataman setiap bulan), sholat jamaah, sholat di masjid, OWOA (tahfizh One Week One Ayat, dengan arti per kata dan tafsirnya), ODOH (One Day One Hadits), dakwah cyber dengan SMS/WA/BBM/Facebook/Twitter(bisa share ayat, hadits, up date berita muslim, agenda perjuangan umat), kajian ke Islaman, I’tikaf sebulan sekali, up date agenda perjuangan umat.

Untuk balita, program mendengarkan bacaan Al-Qur’an bersama, nonton bareng kisah nabi dan sahabat, atau akhlaq Islam, pembacaan buku cerita Islami atau mendongeng.  

Buat buku muhasabah setelah lebaran, program terus dievaluasi dan siapkan reward untuk motivasi.

Jaga kebersamaan dan kerjasama antar anggota keluarga dalam suasana fastabiqul khairat, membiasakan saling menasihati dalam kebenaran, bekerjasama dan saling tolong menolong dalam beramal shalih.  Ibu rajin bertanya kepada anaknya setiap hari, sehingga bisa segera terdeteksi jika ada masalah. Pengajian keluarga untuk menjaga silaturrahmi dengan kerabat.

Hakikat Shiyam

Orang yang benar shiyamnya, pasti akan taat kepada hukum syariat Allah SWT yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah.  Dia tidak akan berani menerima sebagian syariat Allah SWT dan menolak sebagian lainnya, karenamenunjukkan ketidaktaatan kepada Allah SWT.  Allah SWT berfirman:  Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat (QS 2: 85).

Target puasa yang sukses adalah Taqwa.

Ketaqwaan sangat diperlukan dalam menghadapi ujian berat di dunia, dengan hati yang sabar dan wajah tetap menghadap kepada Allah SWT.  Alloh berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS 2: 183).

Buya Hamka menafsirkan kata takwa tidak selalu diartikan takut. Takwa juga mengandung makna cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, sabar, berani, dan lain-lain sebagainya. Takwa adalah pelaksanaan dari iman dan amal sholih.  Memelihara hubungan dengan Tuhan, bukan saja karena takut, tapi karena ada kesadaran diri sebagai hamba.


Orang-orang yang kembali kepada fithrah berarti kembali kepada Quran.  Alloh SWT berfirman: “Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(QS 2: 1).  “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS 56: 79).  Orang yang mengambil petunjuk selain Quran, kelak akan menyesal sejadi-jadinya.  Alloh SWT berfirman: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?". Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan" (QS 20: 125 – 126).

Lanjutkan Pesantren Ramadhan Untuk Melahirkan Generasi Qur’ani 

Allah SWT berfirman: Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…. (QS 2: 185).

Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah SWT memilih bulan Ramadhan untuk menurunkan Al Quran, sebagaimana juga kitab-kitab samawi lainnya seperti Injil dan Taurat.  Namun, berbeda dengan kitab-kitab samawi yang lain yang diturunkan secara sekaligus, Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur.  Karena Al Qur’an adalah jawaban dan petunjuk dari setiap realitas yang dihadapiRasulullah saw dalam dakwahnya.   Allah SWT berfirman: “Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"Demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).  Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya(QS 25: 32-33).

Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa “hudan linnaas wa bayyinaat minal huda wal furqan” adalah pujian kepada Al Quran yang Allah turunkan sebagai petunjuk (huda) bagi hati-hati para hamba-Nya yang beriman kepada Al Quran, membenarkannya, dan mengikutinya.  Al Quran juga berfungsi sebagai dalil dan argumen yang jelas bagi orang yang memahaminya dan mentadabburinya,sehingga menemukan kebenaran dan menolak kesesatan.   Al Quran memisahkan   antara yang haq dan bathil, serta yang halal dan haram.

Petunjuk Al Quran meliputi seluruh aspek  dan persoalan kehidupan.  Allah SWT berfirman:“dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS 16: 89).“Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. … (QS 5: 3).

Dengan kurikulum  Al Qur’an dan As Sunnah yang sempurna, Rasulullah saw berhasil membangun umat dan negara yang kuat di kota Madinah dan dalam tempo 10 tahun berhasil menyatukan seluruh wilayah jazirah Arab (sekarang terdiri dari 7 negara: Arab Saudi, Yaman, Emirat Arab, Oman, Qatar, Bahrain) dalam satu kesatuan negara dan umat, yakni Islam. Muslim menjadi umat paling unggul di dunia (QS 3: 110).  Pasca wafatnya Rasulullah saw, umat tidak stagnan, mundur, dan bubar, tapi berhasil melakukan berbagai pembebasan hingga berhasil menaklukkan tirani adidaya Persia dan Rumawi pada tahun 15 Hijriyyah (5 tahun ba’da wafatnya Rasulullah saw) di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Al Khaththab ra. Semenjak itu, peradaban Islam terus berkembang dan meluas dibawah kepemimpinan khalifah-khalifah berikutnya.

Dengan semangat Ramadhan, semoga kita bisa meneladani perjuangan Nabi dan para sahabatnya yang dimulai dari keluarga kita, Insyaallah.. (SI)

0 Komentar