Mempersiapkan Reuni Keluarga di Surga

29 Mei 05:56 | Dilihat : 1590
Mempersiapkan Reuni Keluarga di Surga Ilustrasi

Sungguh indah tiada tara andaikan di akhirat kelak kita dapat berkumpul bersama keluarga (reuni) di dalam surganya Allah yang berlimpah segala kenikmatan;  hadir orangtua, istri, suami, anak, cucu, turun temurun hingga cicit dst. 

Inilah dambaan kita, sesuai dengan firman Allah dalam QS.  13 : 23

*جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ*

(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (QS, 13:23)_

Akhir episode kehidupan yang indah. Dalam bahasa manajemen ada istilah start of the end; memulai dari bagian akhir; reuni Keluarga di surga adalah cita-cita yang harus diraih dan diperjuangkan. 

Perlu proses yang cukup panjang disamping tantangan yang tidak sedikit. 
Rasulullah menyebut keluarganya dengan ungkapan baetiy jannatiy ; rumahku surgaku.

Demi menjadikan rumahku surgaku, lebih kurang harus melewati 10 proses. 

1. Al-Azwaju (perjodohan). Perempuan seperti apa yang harus dijadikan sebagai istri? Demikian juga laki-laki sebagai suami? 
Ingat pertanyaannya bukan "siapa"  (si anu) tapi "apa"; yaitu kriteria. 
Yang cantik dan ganteng banyak, kaya pun banyak, keturunan (darah biru,  darah hijau) banyak... terpenting adalah agamanya sebagai kriteria utama,  kalau ternyata berasal dari keturunan yang baik, rupawan, hartawan,  itu mah bonus (tapi jarang jarang loh!) 

2. Khitbah dan Akad Nikah.
Kalau sudah ketemu orang yang tepat...  Jangan berlama-lama langsung saja Khitbah dan akad nikah. Bagi orangtua perempuan, jika datang laki-laki--sebagaimana anjuran Rasulullah saw, yang kamu ridhoi agama dan akhlaknya, terimalah Khitbahnya dan percepat pernikahannya. Jika ditolak maka akan terjadi kerusakan di dalam keluarga. Maksudnya alih-alih dapat calon mantu yang baik malah dapat mantu yang buruk. Proses pernikahannya pun harus memudahkan, asal memenuhi syarat dan rukunnya serta disaksikan oleh keluarga dan tetangga. Kecuali punya rizki berlebih. 

3. Al-Junub. Hubungan intim pun diatur oleh islam terlebih niat untuk menghasilkan anak yang soleh. Rasulullah saw mengajarkan dengan lengkap dan sempurna proses junubiyah ini.

4. Al-Janin. Saat janin sudah dikandung badan usia 16 minggu atau 120 hari, maka Allah tiupkan ruh kepadanya. Tugas ibu adalah mengkondisikan janin agar terbiasa mendengar lantunan ayat alquran, zikir, doa, istigfar dan berfikir positif, disamping jaga kesehatan fisik. 

5. Al-Wiladah. Proses kelahiran anak mesti diiringi dengan zikir dan doa. Bagi sang ibu, melahirkan anak adalah pertaruhan hidup dan mati. Maka saat bayi keluar dari rahim iringi dengan doa, zikir, dan kalimat thoyyibah 

6. Arrodho'ah walhadonah. Menyusui harus dua tahun sempurna. Lisan Ibu tidak boleh lepas dari doa,  zikir, pikiran positif atau membaca alquran--sambil ajak bicara bayi tsb layaknya kpd orang dewasa. Ingat menurut para pakar neurologi, usia 0 - 6 tahun adalah berkembangnya 3 triliun sel saraf (masa _golden age_) Pada usia tsb Allah secara tidak langsung telah menyiapkan anak dengan kecerdasan super. Namun sangat bergantung pada kedua orangtuanya dalam mendidik mereka. 

7. Al-Madrosah. Sekolah harus mendukung perkembangan jiwa anak benar-benar akrab dengan nilai-nilai agama seperti soal akidah dan ahlakul karimah. Perilakunya harus terkendali dari mulai tindakan fisik (makan, minum, duduk berjalan, berlari, olahraga...), komunikasi (sapa,  bicara, verbal,  non verbal dan bahasa tubuh) dan penampilan (cara berpakaian, corak, warna, menutup aurat bagi perempuan dsb). Perkembangan jiwanya harus seiring
sejalan dengan usianya. 

8. Al-Biy ah Islamiyah. Ciptakan lingkungan yang islami untuk anak-anak kita. Seperti sabda Rasulullah saw, aljaru qoblad daar. Sebelum membeli rumah lihat dulu dengan siapa kita bertetangga. Yang disebut tetangga, 40 rumah di sekitar kita (1 RT). Harus dapat dipastikan mendukung perkembangan akhlak anak kita, minimal berkurang keburukannya. 

9. Al-Mihnatu. Pekerjaan atau profesi haruslah sesuai dengan bakat atau jalur pendidikan dan tentu saja, halal.  Sebab pekerjaan pun berpengaruh dalam pembentukan kepribadian. Sebab itu, benar-benar dalam pertimbangan syar'i.

10. Silaturahim. Semua diikat dengan kehangatan hubungan; saling asih, saling asah,  saling asuh baik orangtua dengan anak, atau sesama anak, dan atau antar saudara yang lebih luas. Ikatannya bukan hanya darah, lebih daripada itu iman dan islam. 

Sepuluh proses ini insyaallah sudah dapat membentuk kepribadian anak kita yang shaleh. Seterusnya keluarga yang shaleh. Melalui sepuluh proses ini insyaallah akan dirasakan sebagai keluarga syurga baik di dunia maupun di akhirat kelak. 

Namun ada juga di akhirat  keluarga yang centang perenang, cerai-berai, konflik horizontal...  Suami lari dari istrinya,  istri lari dari suaminya, orangtua lari dari anaknya, anak lari dari orangtuanya, saudara lari dari saudaranya... Karena takut menghadapi penghisaban dan pengadilan Allah swt. Sebagai diungkapkan Allah di dalam... QS. Abasa : 34-37.

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ﴿٣٤﴾ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ﴿٣٥﴾ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ﴿٣٦﴾ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ ﴿٣٧) 

pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.  Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. 

Semoga kita dilindungi oleh Allah swt dari keluarga seperti di atas. 
Untuk terciptanya keluarga surga di atas perlu dikawal dengan doa. Ada 4 doa yang diajarkan Alquran kepada kita agar keluarga kita sesuai dengan yang kita harapkan, sbb:

(74). وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (QS. 25 : 74).

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (qs. 2: 128)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat ! Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku [Ibrâhîm/14:40]

 قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (qs. Al-Ahqaf: 15).

Semoga kita semua bisa membangun keluarga yg masuk surga berjamaah. Aamiin. 

Iyus Khaerunnas Malik
Direktur Bidik Global Foundation

0 Komentar