Paedofil Marak (Lagi), Siapa Bertanggung Jawab?

19 Maret 14:37 | Dilihat : 367
Paedofil Marak (Lagi), Siapa Bertanggung Jawab? Ilustrasi

Beberapa waktu lalu, Polda Metro Jaya berhasil mengungkap sindikat kejahatan seksual paedofil secara online. Pihak kepolisian mendapatkan laporan dari  Michele Dian Lestari yang jengah setelah mendapati akun media sosial Facebook Official Loli Candy’s 18+ itu mengunggah setidaknya ada 600 foto dan video bermuatan pornografi anak. 

Sungguh miris dan menjijikkan karena terdapat 7.479 anggota dari akun tersebut. Grup yang di-setting tertutup sehingga seseorang yang ingin bergabung dalam grup tersebut harus meminta persetujuan untuk bergabung dengan syarat-syarat yang mencengangkan. Salah satunya harus mengunggah foto atau video anak yang sedang dicabuli dengan memerankan gambaran atau adegan tertentu. Astagfirullah, naudzubillahimindzalik.

Dari laporan tersebut, polisi kemudian menindak lanjutinya dengan menciduk para admin dari akun tersebut. Pelaku yang diamankan terdapat empat pelaku yaitu Wawan (27) sebagai pembuat akun, perempuan berinisial SHDW (16) yang membantu Wawan mengelola grup, serta DS (24), dan DF (17) yang juga merupakan admin. Setelah polisi melakukan penyidikan, ternyata pelaku Wawan pernah melakukan pencabulan terhadap dua anak perempuan NNF (12) dan YAM (8), sedangkan DF mengaku pernah mencabuli enam orang anak pada 2011. Dua diantaranya merupakan keponakannya, sedangkan sisanya adalah tetangganya yang berusia antara 3 hingga 8 tahun. Mereka membagikan dokumentasi pencabulan mereka di Facebook dan WhatsApp (detiknews.com, 17/2). Sungguh mereka sangat bejat.

Pelaku adalah Korban di Masa Lalu

Tidak bisa dipungkiri bahwa para pelaku yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak adalah korban di masa lalu. Awalnya mereka adalah korban dari pencabulan laki-laki dewasa. Namun, seiring berjalannya waktu, usia semakin dewasa, ditambah sering menonton video atau melihat gambar yang memuat konten pornografi, mereka semakin menikmati dan menjadi kecanduan. 

Menurut psikolog Elly Risman, anak yang sudah terpapar pornografi akan semakin sulit diobati dibandingkan anak yang terpapar narkoba, karena anak yang terpapar pornografi sistem syaraf diotaknya sudah rusak. Sehingga, kerusakan di otak tersebut akan menuntut si anak untuk terus kecanduan dengan sensasi yang semakin menantang. Maka, wajar ini ibarat lingkaran setan yang tak akan pernah terputus jika tidak ada penanggulangan yang massif terhadap anak yang terpapar pornografi. Selain itu, gaya hidup yang hedonis pun membuat mereka nyaman dengan kondisi tersebut dan merasa tak ada yang salah dengan apa yang diperbuatnya.

Siapa yang Bertanggung Jawab?

Maraknya kasus paedofil ini bukan perkara baru di Indonesia. Kasus ini sudah terjadi berulangkali dan tak pernah tuntas diselesaikan karena lemahnya hukum di negeri ini. Tahun lalu misalnya, kita dihebohkan dengan penemuan mayat seorang anak perempuan dalam kardus. Dia merupakan anak korban pelecehan seksual seorang pedofil yang kesehariannya sangat dekat dengan ank-anak. Lalu, publik geger meminta solusi tuntas permasalahan paedofil. 

Pemerintah pun merespon cepat dengan mengeluarkan aturan hukuman kebiri bagi para pelaku pedofil. Nyatanya, mengapa semua aksi itu tidak bisa mengatasi atau bahkan mencegah aksi paedofil di negeri ini. Siapa yang akan bertanggungjawab terhadap kerusakan moral generasi muda bangsa ini yang akan menjadi estafet kepemimpinan 20 atau 30 tahun mendatang?

Jika kita teliti lebih mendalam, semua pihak memiliki peran dan tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah ini. Keluarga sebagai benteng utama menjaga anak dari paparan pornografi dan kejahatan seksual. Orang tua memiliki peran penting dalam mengawasi pergaulan dan informasi yang didapatkan anak. Sehingga dengan pengawasan yang intensif ia bisa tercegah dari paparan pornografi. Selain itu, bekal agama juga sangat penting di tengah kehidupan yang serba bebas ini. Agama akan menjadi penuntun bagi kehidupan anak, ia akan senantiasa memilih yang baik dan menjauhkan diri dari yang buruk. Dengan keimanan yang tinggi, anak akan menolak secara sadar hal-hal yang tidak dibolehkan dalam agamanya. 

Dalam hal ini, Islam senantiasa mengajarkan anak di usia prabaligh untuk menutup auratnya dan mewajibkannya di usia baligh. Lalu, menjaga pandangan dari hal-hal yang haram dan menjauhi perbuatan maksiyat atau yang sia-sia.

Yang paling utama adalah negara harus bertanggung jawab dalam membuat aturan yang bisa menjerakan para pelaku pedofil. Misalnya, dengan hukuman maksimal yaitu hukuman mati. Kemudian, melakukan pencegahan dengan menghapus informasi-informasi yang bermuatan pornografi dan pornoaksi. Walaupun sudah ada UU ITE, tetapi ternyata belum menghentikan aksi kejahatan seksual melalui online. Maka, butuh aturan yang mampu mengatasi masalah ini secara tuntas. Dan hanya aturan Islam lah yang bisa mengatasi dan mencegah aksi paedofil ini. 

Sebagai upaya kuratif, Islam akan menghukum para pelaku dengan hukuman zina jika ia melakukan zina, atau menghukuminya dengan hukuman liwath (homoseksual) ataukah hukuman pencabulan. Hukuman zina dengan cambuk atau rajam. Untuk liwath (homoseksual), Islam menghukum para pelaku dengan hukuman mati, sedangkan untuk pelaku pelecehan seksual hukumannya adalah dengan ta’zir. 

Tampak kejam? Ya begitulah bagi sebagian orang yang tak mengenal Islam. akan tetapi, hukuman tersebut justru akan membuat para pelaku jera karena Allah sudah menetapkan hukuman tersebut. Maka, pasti ada kebaikan dan keberkahan di dalamnya jika kita melaksanakan syariat-Nya. Wallahu’alam bishwab.

Herliana Herman, S.Pd
Ibu Rumah Tangga, aktivis MHTI Bandung

0 Komentar