Waspada, Pornografi Mengincar Anak Kita

17 Maret 13:01 | Dilihat : 1053
Waspada, Pornografi Mengincar Anak Kita Ilustrasi

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di satu sisi membawa dampak positif pada perkembangan kehidupan masyarakat. Namun, di sisi lain juga membawa efek negatif pada perkembangan anak, terutama pornografi. 

Semakin mudahnya akses dan semakin berkembangnya teknologi juga semakin memudahkan anak-anak kita untuk bereksplorasi. Tentu hal yang positif dapat diraih bila anak kita bereksplorasi terhadap hal-hal yang mendidik. Namun, jika sebaliknya, maka akan merusak moral anak kita. Disamping itu, masih banyak yang belum sadar akan dampak buruk pornografi terhadap anak. 

Banyak orang tua yang belum menyadari bahwa anak dan remaja di Indonesia telah terpapar pornografi dalam jumlah yang tidak bisa dibayangkan. Hal ini berpotensi menimbulkan kerusakan otak yang melebihi kerusakan yang ditimbulkan oleh narkoba.

Seorang pakar adiksi pornografi dari Amerika Serikat, Dr. Mark B. Kastlemaan mengatakan, “Pornografi dapat memberi dampak langsung pada perkembangan otak anak dan remaja, yang bisa menyebabkan kerusakan otak permanen bila tidak segera diatasi.”

Menurut Dr. Mark, ada dua bagian otak. Masing-masing berfungsi untuk berpikir logika (Pre Frontal Corteks/bagian otak depan) dan emosi reaktif (sistem limbik/bagian tengah otak). Pada bagian Pre Frontal Corteks (PFC), otak bertanggungjawab untuk mengontrol konsekuensi juga tujuan masa depan, kecerdasan dan rasa peduli dengan orang lain. Sedangkan pada bagian limbik, otak bertanggungjawab untuk melindungi dari bahaya, keinginan untuk bersenang-senang, tidak peduli dengan konsekuensi, dan hanya peduli pada diri sendiri (ego).

Pornografi sangat rentan pada anak dan remaja karena bagian logika otak belum berkembang dengan baik. Dr. Mark menjelaskan ada tiga tahapan perkembangan otak, yaitu koneksi, pemangkasan, dan myelinasi. Dari tiga tahapan otak tersebut diketahui bahwa bagian otak limbik yang tidak peduli dengan konsekuensi berkembang terlebih dulu. Adapun pada anak dan remaja yang bagian otak logikanya belum berkembang, pornografi akan sangat berpengaruh, serta rentan menyebabkan adiksi juga bisa merusak tumbuh kembang otak anak.

Kalau sudah segitu parah dan mengerikannya dampak pornografi pada anak, lalu apakah kita sebagai orang tua hanya diam saja? Tentunya tidak. Kita akan mengupayakan segala cara untuk menjaga anak-anak kita dari bahaya pornografi, mulai dari meminimalisir menonton tv, main gadget, menyortir bacaan anak-anak kita, dan lain-lain. 

Akan tetapi, apabila hanya kita saja yang berusaha melindungi anak-anak kita secara mati-matian dari dampak buruk pornografi, tetapi di luar sana masih bebas bergentayangan hal-hal yang memicu ke arah pornografi, saya rasa usaha kita akan sulit berhasil.

Jika kita telusuri dengan cermat, masalah pornografi dan pornoaksi ini bukan sekadar masalah sosial, tetapi terkait dengan ideologi atau asas dari sistem kehidupan yang berlaku di negeri ini. Merajalelanya seks bebas, perkosaan atau pelecehan seksual lainnya, kekerasan dengan berbagai bentuknya, peredaran VCD porno dan bentuk pornografi atau pornoaksi lainnya, serta tindakan kriminal yang lainnya merupakan buah yang harus dipetik ketika Kapitalisme sekular menguasai dan menjadi sistem kehidupan masyarakat di Indonesia. 

Sistem kehidupan ini memisahkan agama dari kehidupan, sementara kebahagiaan diukur berdasarkan pada manfaat atau kenikmatan jasadi dan materi semata. Sistem ini menyandarkan diri pada nilai kemanusiaan yang semu dan menjadikan kebebasan (termasuk kebebasan berperilaku) di atas segalanya. Wajar jika pada akhirnya mengumbar aurat di tempat-tempat umum, pergaulan bebas tanpa batas yang dilakukan tanpa rasa berdosa, hamil di luar nikah, dan aborsi dianggap biasa; pelecehan seksual bahkan perkosaan (termasuk terhadap anak di bawah umur ataupun kerabat) sudah menjadi berita sehari-hari. 

Tampak jelas, sistem ini telah melahirkan aturan yang serba tidak jelas dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk aturan sosialnya atau pengaturan hubungan laki-laki dan perempuan. Lalu, masihkah kita berharap pada sistem yang rusak ini ketika kita hendak memperbaiki kondisi umat?

Islam Solusi Satu-satunya

Berbeda halnya dengan sistem Kapitalisme-sekular, Islam yang menjadikan akidah Islam-Lâ ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh-sebagai asas dan syariat Islam sebagai pijakannya memiliki sistem aturan yang sangat rinci dan sempurna, mencakup seluruh aspek kehidupan. Sistem aturan ini lahir dari Zat Yang Mahakuasa dan Mahatahu atas segala sesuatu. Karena itu, seluruh persoalan yang dihadapi makhluk-Nya dalam situasi dan kondisi apa pun dapat diselesaikan dengan memuaskan tanpa ada pihak manapun yang dirugikan. Aturan-aturan tersebut senantiasa sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal manusia yang pada akhirnya akan menenteramkan jiwa manusia.

Islam telah mengatur sedemikian rinci hubungan laki-laki dengan perempuan, mulai dari pertemuan di antara keduanya, hubungan yang timbul sebagai implikasi dari adanya pertemuan/interaksi tersebut, hingga segala sesuatu yang terkait dengan hubungan tersebut. 

Mengapa Islam mengatur sedemikian detil hubungan laki-laki dan perempuan? Karena memang interaksi antara kedua jenis manusia ini sering menimbulkan berbagai problem, sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan manusia dewasa ini. Karena itu, diperlukan adanya aturan yang baku untuk mengaturnya agar terjadi ketenangan di antara keduanya ketika mengarungi kehidupan. 

Dapat dipastikan bahwa permasalahan pornografi dan pornoaksi yang telah sangat meresahkan masyarakat ini tidak akan membingungkan kita hari ini jika diserahkan kepada aturan/sistem pergaulan dalam Islam.

Cahya Candra Kartika
Penulis merupakan pemerhati anak usia dini

0 Komentar