Alquran Pasti Menyinggung

Kamis, 10 November 2016 - 09:38 WIB | Dilihat : 2484
 Alquran Pasti Menyinggung Ilustrasi

 

Dalam tiap ceramah agama pasti ada saja orang yang merasa kesal, bahkan orang itu mungkin menyerang karena merasa tersinggung. Kebiasaan kita berbuat begini diputar seratus delapan puluh derajat mesti mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya, pasti merasa dongkol kalau kita tidak mau bertaubat.
 
Adapun ketersinggungan, sejak awal turun wahyu semua juga merasa tersinggung, bahkan Muhammad sekalipun. Waktu beliau bertahanuts di gua Hiro, turun lima Ayat pertama Surah Al-‘Alaq. Beliau tercengang, bingung, dan gemetar bahkan menyangka itu bisikan setan, sehingga beliau langsung pulang meminta diselimuti dan didekap istrinya.
 
Siti Khadijah menenangkan beliau dan menghibur, bahwa itu sama sekali bukan bisikan setan, karena beliau adalah seorang yang jujur, terpercaya, dan dihormati orang Quraisy, hingga diberi gelar Al-Amin. Istrinya sudah menduga bahwa suaminya akan diangkat sebagai nabi.
 
Paginya beliau diajak oleh istrinya untuk menemui pamannya Waroqoh bin Naufal, seorang pendeta Nasrani yang jujur. Waroqoh yakin bahwa Muhammad akan diangkat sebagai nabi terakhir dan apa yang baru diterimanya sebagai wahyu pertama pengangkatan sebagai nabi. Beliau sebagai pendeta yang jujur dan mengerti Injil akan membela Nabi Muhammad Saw  apapun yang terjadi.
 
Setelah Muhammad Saw diangkat sebagai nabi dan menyebarkan Alquran, hampir semua yang mendengar merasa tersinggung. Tidak sedikit diantara mereka menuduh bahwa Nabi Muhammad Saw  gila, sombong, mau memecah belah manusia dan tuduhan lainnya yang sangat menyakitkan, bahkan banyak paman-pamannya, keluarganya yang berusaha untuk membunuhnya. Abu Jahal dan Abu Lahab adalah paman-paman Nabi Muhammad Saw , yang berusaha ingin membunuh beliau.
 
Adapun Umar bin Khattab, seorang tokoh Quraisy yang semula berusaha keras akan membunuh Rasulullah Saw , akhirnya masuk Islam setelah hatinya tersinggung oleh ayat Alquran yang dibacakan adiknya, Fatimah, bahkan beliau menjadi pembela Islam yang luar biasa tangguh.
 
Di sini jelas siapapun yang pertama mendengar bacaan Alquran, baik telah berpuluh tahun memeluk Islam jika dijelaskan isi Alquran yang tidak sesuai dengan yang ia pahami, meski apa yang baru ia dengar itu adalah makna yang sebenarnya, pasti akan pikir-pikir. Siap menerima, menyetujui dan mengikutinya, atau menolak, membantah, bahkan memusuhinya. Keadaan begini berlaku sejak masa Rasulullah Saw sampai hari kiamat.
 
Jadi penerimaan terhadap Alquran itu tergantung kepada keadaan manusia itu sendiri. Kalau hatinya dibuka, ia akan menerima seluruhnya. Sebaliknya, jika hatinya ditutup, meskipun ayat Alquran  dijejalkan tak mungkin bisa menerimanya. Maka barangsiapa menerima Islam dengan segala risikonya, pasti keuntungan bagi dirinya sendiri. Demikian pula bagi siapa yang menolak dan membantahnya kerugiannya juga bagi dirinya sendiri.
 
Memang tidak sedikit tokoh umat di luar Islam yang mempelajari Alquran dengan sungguh-sungguh akhirnya menjadi seorang pejuang Islam. Tapi juga sebaliknya tidak sedikit pula umat Islam yang telah memeluk Islam berpuluh-puluh tahun tapi tidak memahami mau dibawa kemana oleh Alquran, dalam berislamnya tetap begitu-begitu saja. Bahkan ada yang mengatakan saya belum mendapat hidayah.
 
Jika ada yang mengatakan belum mendapat hidayah tapi tidak mau berusaha untuk menggapai hidayah, sama saja bohong alias mimpi. Ini jelas karena Allah telah menekankan: “Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga ia sendiri mengubahnya.”
 
Di sini jelas jika kita ingin mendapat hidayah, tentu kita sendiri yang berusaha untuk turunnya hidayah, karena Allah tidak ada keperluan dengan ibadah kita. Allah sama sekali tidak akan beruntung jika semua manusia beriman. Demikian juga Allah tidak akan rugi jika semua manusia ingkar.
 
Memang kita merasa tidak senang bahkan dongkol kepada penceramah yang seolah membongkar, membuka kesalahan, kekeliruan, dan kejelekan kita. Padahal penceramah hanya menyampaikan apa yang telah ditetapkan Rasulullah Saw. Karena dalam diri kita ada penyakit, maka biasa kita menyalahkan orang lain, padahal jika kita menyalahkan penyampai, hakikinya berarti kita menyalahkan Allah dan Rasul-Nya, selama yang da’i sampaikan sesuai Alquran dan Sunnah.
 
Setelah kita merasa tersinggung dengan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah Saw, bagaimana sikap kita, menolak dan akan tetap dalam kemaksiatan atau akan bertaubat dan mohon ampunan Allah Swt? Ini betul-betul tergantung kepada diri kita masing-masing.
 
Tabiat manusia jika ditegur, dikasari, dicaci maki, pasti akan timbul amarahnya, bahkan tak urung kembali membalas cacian makian tersebut hingga tak terelakkan terjadi pertengkaran dan perkelahian. Ini kalau dirinya yang dicaci maki. Tapi kalau Allah, Rosul, Alquran dan Islam yang dicaci, tak sedikit yang santai-santai saja, acuh tak acuh, dan masa bodo.
 
Sesungguhnya cara begini keliru andaipun tidak dianggap salah. Mari kita merujuk perjalanan Rasulullah Saw. Beliau dicaci maki, diludahi, dilempari batu, diguyur kotoran kambing beliau sabar. Tapi begitu Allah, Alquran dan Islam diinjak beliau bangkit.
 
Ali bin Abi Thalib dalam satu peperangan tinggal satu ayunan lagi pedangnya menebas leher musuh. Tapi begitu lawannya meludahi mukanya, tiba-tiba Ali menghindar dan meninggalkan musuh yang tinggal beberapa detik lagi mati. Beliau ditanya oleh sahabat, mengapa musuhnya tidak langsung dibunuh. Beliau menjawab, takut membunuh bukan karena Allah tapi karena marah dirinya diludahi.
 
Inilah contoh yang sangat luar biasa agung. Jika Allah, Alquran, Rosul, dan Islam dihina dicaci maki, siap mengorbankan jiwa untuk membelanya. Tapi jika dirinya dihina, beliau bersabar. Jadi jika ada umat Islam apalagi ulamanya mengetahui bahwa Allah, Alquran, Rosul dan Islam dihina dilecehkan diam saja, apalagi kalau menyalahkan orang yang membelanya, bakal timbul tanda tanya tentang keislamannya.
 
Sesungguhnya umat Islam ini mempunyai kekuatan sangat hebat, di samping tanahnya subur juga hasil tambangnya melimpah. Juga SDMnya cukup mumpuni kalau betul-betul dimanfaatkan. Jadi kalau betul-betul kita cinta Islam, gunakan tenaga muslim, sebelum non muslim. Jika segala-galanya berimbang, apalagi kalau non muslim kualitasnya lebih rendah dari muslim, kecuali jika yang non muslim lebih segala-galanya dari muslim, kalau memang ada.
 
Cuma sayangnya dan ini tidak bisa dipungkiri, umat Islam sekarang masih suka bertengkar. Kesalahan dan kekeliruan sedikit dibesar-besarkan, hingga antara orang perorang dan golongan pergolongan sering terjadi tuding menuding dan saling salahkan, saling sesatkan hingga umat Islam terpuruk, yang mengakibatkan orang kafir berani memperolok Islam.
 
Umat Islam sekarang masih punya rasa bangga diri dan bangga golongan. Padahal itu perbuatan sesat dan “Syirik”. Ingatlah perintah Allah adalah persatuan (Ali Imron: 103) bukan perpecahan.
 
Mari kita renungkan himbauan Allah kepada kita, jika ada umat Islam yang berperang, damaikan. Karena umat Islam (beriman) adalah saudara (Al-Hujurat: 9-10). Janganlah suka memperolok sesama Muslim (Al-Hujurat: 11). Janganlah suka mencari kesalahan orang lain (Al-Hujurat: 12).
 
Jika sifat-sifat di atas bisa dihilangkan, insyaAllah umat Islam akan bersatu, karena tidak akan ada lagi rasa bangga diri dan golongan. Andai masih ada bangga diri karena keakuan, camkan ancaman Allah dalam Al-Baqarah: 94.
 
Sekarang ini, tegasnya hari Jumat 04 November 2016, di Ibu Kota Jakarta terjadi aksi demonstrasi damai besar-besaran umat Islam, menuntut agar gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diadili karena dianggap menghina dan melecehkan Alquran Surah Al-Maidah ayat 51. Pendemo membludak mungkin sampai mencapai jutaan. Betul-betul demo aman, tertib, damai, santun, dan bersih.
 
Cuma setelah jam 19.00 ada sedikit gangguan, sehingga polisi menyemprotkan gas air mata, yang semestinya tidak perlu karena para pendemo masih taat aturan. Adapun yang merusak dan membakar mobil, kita  belum tahu siapa orangnya. Para pendemo sangat tidak mungkin, karena penjagaan aparat begitu ketat. Inilah yang sangat disayangakan.
 
Yang lebih disayangkan mengapa presiden Jokowi tidak mau langsung menghadapi para pendemo. Jika presiden meski sebelum jam 18.00 mau menemui pendemo insya Allah jam itu juga para pendemo membubarkan diri. Disini kita bisa menarik kesimpulan siapakah sesungguhnya aktor provokator yang sebenarnya.
 
Dari kejadian ini memang banyak hikmahnya. Jauh-jauh hari Rosululloh telah menegaskan, berkatalah yang baik jika tidak bisa, diamlah. Pepatah juga mengatakan, mulutmu harimaumu.
 
Yang paling menggembirakan, terlihatlah semua umat Islam (yang miring jangan dihitung), tak ada golongan A atau golongan B bersatu padu membela Islam. Semoga persatuan ini dijaga terus, hingga Islam kokoh di muka bumi. Mudah-mudahan pula dengan kejadian ini umat Islam bisa bersatu dalam menentukan 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 10 Zulhijah.
 
Mari berseru dan memohon kepada Allah Swt agar umat Islam segera bersatu. Allahu Akbar!

[Nadiya Sasmita]
0 Komentar