Ternyata, Berlaku Kasar pada Anak Berpengaruh Buruk Bagi Kesehatannya

Rabu, 09 Maret 2016 - 13:38 WIB | Dilihat : 2018
Ternyata, Berlaku Kasar pada Anak Berpengaruh Buruk Bagi Kesehatannya Ilustrasi: Berbicara pada anak
SI Online - Sungguh luar biasa Islam mengatur tata cara mendidik anak, tak terkecuali anjuran untuk tidak bersikap dan berbicara kasar terhadap anak. Baru-baru ini sebuah penelitian membuktikan adanya korelasi antara kekerasan secara emosional dan munculnya migrain di kemudian hari. 
 
Penelitian tersebut dipresentasikan dalam the American Academy of Neurology’s 68th Annual Meeting di Vancouver, Canada. Hal ini membuktikan, kekerasan secara emosi lebih berpengaruh pada kesehatan dibanding kekerasan secara fisik.
 
Dalam studi tersebut diungkapkan, kekerasan secara emosional bukan hanya bullying yang terjadi antar anak. Justru kekerasan secara emosional didapatkan dari perkataan orangtua yang dapat menyakiti perasaan anak. Selain itu, kekerasan secara emosional mengakibatkan anak tidak merasa dicintai dan merasa tidak dibutuhkan.
 
Penelitian yang melibatkan sekitar 15.000 orang dengan usia 24 hingga 32 tahun itu mengungkapkan, sebanyak 14% dari orang tersebut dilaporkan menderita migrain. Orang yang menderita migrain ditanya apakah mereka pernah mengalami kekerasan saat kecil. Hasilnya, sebanyak 47% orang mengaku pernah mengalami kekerasan secara emosional, sebanyak 18% orang mengalami kekerasan secara fisik dan 5% orang mengalami kekerasan seksual.
 
Dari jumlah orang yang mengalami migrain, sebanyak 61% di antaranya merasa tidak dianggap sebagai seorang anak. Sementara sebanyak 49% di antara yang mengalami migrain merasa bahwa perkataan dari orang sekitarnya termasuk orangtua pernah menyakiti hatinya. Penelitian ini juga menunjukkan anak yang mengalami kekerasan secara emosional 52% lebih mungkin menderita migrain.
 
Migrain adalah jenis penyakit yang tidak bisa dianggap sepele. Sebab migrain adalah gangguan kronis yang ditandai dengan terjadinya sakit kepala ringan hingga berat yang seringkali berhubungan dengan gejala-gejala sistem syaraf. Tandanya berupa sakit kepala unilateral (hanya pada separuh bagian kepala), berdenyut-denyut, dan berlangsung selama 2 hingga 72 jam. 
 
Gejala-gejala yang turut menyertai antara lain mual, muntah, fotofobia (semakin sensitif terhadap cahaya), fonofobia (semakin sensitif terhadap suara) dan rasa sakitnya semakin hebat bila melakukan aktifitas fisik. 
Sekitar sepertiga penderita sakit kepala migrain mengalami aura: yaitu semacam gangguan visual, indra, bicara, atau gerak / motorik yang menjadi pertanda bahwa sakit kepala tersebut akan segera muncul.
 
Mengingat demikian hebat pengaruh migrain bagi seseorang dalam beraktivitas, hendaknya mulai sekarang penting bagi kita sebagai orangtua mengupayakan untuk menjauhkan anak dari derita penyakit migrain. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menghindari berlaku serta berbicara kasar pada anak, baik ketika anak melakukan tindakan yang kita anggap sebagai kenakalan, maupun disaat kita memberikan suatu nasehat untuk perkara yang belum mereka ketahui.
 
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Perbedaan antara nasihat dan kecaman adalah bahwa nasihat itu merupakan perbuatan baik kepada orang-orang yang engkau nasihati dalam bentuk kasih sayang, rasa kasihan, cinta dan cemburu. Nasihat itu semata-mata perbuatan baik yang didasari kasih sayang dan kelembutan yang dimaksudkan hanya untuk mencari ridha Allah dan wajah-Nya kemudian sebagai kebaikan untuk makhluk-Nya. Dia bersikap lemah-lembut semaksimal mungkin dalam menjalankan nasihat tersebut dan sabar dalam menerima gangguan dan celaan dari orang-orang yang dinasihatinya dan menyikapinya seperti sikap seorang dokter yang ahli. Penuh kasih sayang kepada pasiennya yang menderita sakit komplikasi dan dalam keadaan setengah sadar. Dia sabar menghadapi kekurangajaran pasiennya dan tindak-tanduknya yang tidak tahu aturan. Dokter juga tetap bersikap lemah lembut dan merayunya dengan berbagai cara agar si pasien mau meminum obat. Begitulah sikap seorang pemberi nasihat”. (Ar Ruuh hal. 381)
 
Semoga Allah Swt mengaruniakan kesabaran kepada kita dalam mendidik anak-anak yang merupakan amanah terbaik dari-Nya. Hingga dengan kelembutan dan kesabaran itu, akan tumbuh generasi yang memiliki kemurnian tauhid, ketinggian akhlaq, serta kekuatan dan kesehatan fisik yang akan mengantarnya menjadi bagian dari para pejuang-pejuang Islam.
 

(Haifa HR) 

0 Komentar