Tak Hanya Dosa, Ini Bahaya Khalwat Bagi Kesehatan

Senin, 11 Januari 2016 - 15:09 WIB | Dilihat : 4663
Tak Hanya Dosa, Ini Bahaya Khalwat Bagi Kesehatan Ilustrasi: Laki-laki dan Perempuan Berdua di Pantai

SI Online - “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa ada mahram wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad )

Demikian bunyi salah satu hadits terkait tidak diperbolehkannya wanita dan laki-laki untuk berkhalwat (berdua-duaan). Disamping itu masih terdapat beberapa hadits lain yang serupa maknanya. 
 
Dalam hadits dikatakan, apabila laki-laki dan perempuan berkhalwat maka “syeitan menjadi orang ketiga di antara mereka". Makna atau hikmah yang terkandung menurut Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qodir yaitu, “syaitan menjadi penengah (orang ketiga) diantara keduanya dengan membisikan mereka (untuk melakukan kemaksiatan) dan menjadikan syahwat mereka berdua bergejolak dan menghilangkan rasa malu dan sungkan dari keduanya serta menghiasi kemaksiatan hingga nampak indah di hadapan mereka berdua, sampai akhirnya syaitan pun menyatukan mereka berdua dalam kenistaan (yaitu berzina) atau (minimal) menjatuhkan mereka pada perkara-perkara yang lebih ringan dari zina yaitu perkara-perkara pembukaan dari zina yang hampir-hampir menjatuhkan mereka kepada perzinahan.” 
 
Berbicara khalwat antara laki-laki dan wanita, ternyata tidak hanya dapat menjadi pintu zina yang berujung dosa, namun penelitian para ahli juga membuktikan bahwa khalwat antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dapat membahayakan kesehatan.
 
Para peneliti di Universitas Valencia mengatakan, ketika seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita (yang bukan mahram) akan terjadi daya tarik yang menyebabkan kenaikan sekresi hormon kortisol. Adapun Kortisol adalah hormon yang bertanggung jawab atas terjadinya stres dalam tubuh. 
 
Para ilmuwan mengatakan bahwa hormon kortisol sangat penting bagi tubuh dan berguna untuk kinerja tubuh, tetapi dengan syarat mampu meningkatkan proporsi yang rendah. Namun jika terjadi peningkatan hormon dalam tubuh dan proses tersebut berulang terus menerus, maka yang demikian dapat menyebabkan penyakit serius seperti penyakit jantung dan tekanan darah tinggi yang berakibat pada diabetes dan penyakit lainnya.
 
Hasil lain dari penelitian tersebut juga mengatakan bahwa stres yang tinggi hanya terjadi ketika seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita asing (bukan mahram), dan stres tersebut akan terus meningkat pada saat wanitanya memiliki daya tarik lebih besar. Tentu saja, ketika seorang pria bersama dengan wanita yang merupakan saudaranya sendiri atau saudara dekat atau ibunya sendiri tidak akan terjadi efek dari hormon kortisol.
 
Para peneliti mengatakan, yang terjadi pada seorang pria ketika ada perempuan asing di sisinya, yakni dirinya dapat membayangkan bagaimana membangun hubungan dengannya. Dan dalam penelitian lain, para ilmuwan menekankan bahwa situasi ini jika diulang terus menerus dari waktu ke waktu, dapat menimbulkan  penyakit kronis dan masalah psikologis seperti depresi.
 
Mengenai hal tersebut, dalam hadits lainnya Rasulullah SAW mengatakan, 
 
“Tidak pernah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada finah para wanita.” (HR. Al-Bukhari)
 
Demikian halnya Imam As-Syafii menyikapi secara tegas mengenai pengharaman khalwat antara pria dan wanita. Beliau bahkan mengharamkan seorang laki-laki mengimami para wanita (dalam keadaan berkhalwat dengan mereka) kecuali jika ada di antara wanita tersebut mahram sang imam atau istri sang imam. Meskipun ini dalam kondisi beribadah, dimana laki-laki dan wanita tidak saling melihat atau berhadapan, namun tetap saja Imam As-Syafii mengharamkannya.
 
Menyikapi berbagai hal tersebut, sudah selayaknya sebagai seorang Muslim kita meyakini dan menaati apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya atas kita. Bahwa dibalik setiap perintah dan larangan, selalu memiliki hikmah yang dapat membawa kebaikan bagi manusia.
 
(Yunita Nurwidiya)
 
0 Komentar