Komisi Fatwa MUI Tolak Sertifikasi Produk Tasyabbuh

Minggu, 13 Desember 2015 - 21:56 WIB | Dilihat : 2113
 Komisi Fatwa MUI Tolak Sertifikasi Produk Tasyabbuh Ketua Komisi Fatwa MUI Prof Dr Hasanuddin AF

 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak untuk memproses sertifikasi halal bagi perusahaan yang produknya tasyabbuh atau menyerupai dengan bentuk yang diharamkan agama Islam.
 
Ketua Komisi Fatwa MUI, Prof Dr Hasanuddin AF, mengatakan pembahasan itu terkait adanya satu perusahaan yang mengajukan proses sertifikasi halal, namun produk yang dihasilkannya tasyabbuh dengan produk bir yang telah disepakati keharamannya oleh para ulama di MUI.
 
Menurutnya, banyak perusahaan yang berusaha menarik minat masyarakat untuk mengonsumsi produk yang dihasilkannya. Yaitu dengan rekayasa tampilan kemasan, aroma, warna dan citrasa tertentu yang dianggap ngetren.
 
Agar dapat diterima masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim, perusahaan tersebut pun mengajukan proses sertifikasi halal ke MUI. 
 
“MUI tidak akan memproses sertifikasi halal untuk produk yang tasyabbuh atau menyerupai dengan produk yang diharamkan dalam Islam,” kata Hasanuddin, dalam rapat Komisi Fatwa di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta, Rabu (10/12/2015) lalu.
 
Lebih lanjut ia menyampaikan, ada satu produk dari sisi bahan maupun proses produksi yang dipergunakan tidak masalah dalam aspek kehalalannya. Namun, dalam telaah Komisi Fatwa MUI, produk itu mengandung Tasyabbuh atau menyerupai dengan minuman bir yang telah disepakati diharamkan dalam Islam .
 
“Maka, kami di Komisi Fatwa MUI tidak memproses sertifikasi halal yang diajukan perusahaan itu. Walalupun kami juga tidak menyatakan produk tersebut haram. Karena memang tidak mempergunakan bahan yang haram,” kata Hasanuddin.
 
Beberapa tahun lalu, tambah dia, ada pula perusahaan yang membuat permen (gula-gula) untuk anak-anak. Tapi bentuk permen itu Tasyabbuh, atau menyerupai seperti ular. MUI tidak mengharamkan produk itu, namun juga tidak memberikan sertifikasi halal, Ini dimaksudkan guna menjaga dan menghindarkan sikap yang mungkin timbul berikutnya.
 
“Jangan sampai nanti anak-anak jadi terbiasa mengkonsumsi produk permen atau makanan yang bentuknya seperti ular. Sehingga kemudian timbul persepsi keliru di benak si anak bahwa memakan ular itu tidak dilarang agama,” paparnya.
 
Dalam kaidah syariah, menurut Hasanuddin, ini sebagai aspek Saddudz-Dzari’ah, yakni langkah pencegahan agar tidak terperosok dalam perbuatan maksiat yang diharamkan. Maka terkait dengan produk minuman yang dibahas kali ini, lanjut dia, memang dalam produksinya tidak ada bahan maupun prosesnya yang diindikasikan dengan yang haram. Tapi warna produk, rasa, aroma, bahkan juga kemasan botolnya menyerupai produk bir. Maka, jangan sampai terjadi timbul persepsi keliru yang menyerempet-nyerempet sampai akhirnya terperosok bahwa mengkonsumsi bir itu diperbolehkan.
 
Oleh karena itu, Komisi Fatwa MUI, menyarankan agar pihak perusahaan memperbaiki hal-hal yang menjadi Tasyabbuh itu. Sehingga MUI dapat memproses sertifikasi halal untuk produk tersebut lebih lanjut, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
 
red: ummu syakira
sumber: mysharing.co
0 Komentar