Gaya Hidup dan Pemubaziran

Rabu, 03 Februari 2016 - 05:57 WIB | Dilihat : 2106
 Gaya Hidup dan Pemubaziran Ilustrasi


Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc
Konsultan, Sakinah Finance, Colchester-Inggris
 
 
Tantangan terbesar di negara yang sudah maju seperti Inggris adalah tersedianya berbagai kebutuhan pangan dan sandang secara mudah, dan murah. Kemudahan ini menghasilkan banyak hal yang baik dan juga akibat buruk. Salah satu efek buruknya adalah orang tidak lagi menghargai rezeki yang diterima (taken for granted). Boros dan mubazir menjadi realita sehari-hari, padahal mubazir adalah salah satu pintu masuknya godaan, dan malah pelakunya dicap sebagai saudara setan.
 
Seperti apakah saudara-saudaranya setan itu?
 
Ayat mubazir di Qs Al-Isra (17): 26-27 yang sering kita dengarkan ini cukup menjadikan bulu roma merinding terutama ketika sampai kepada ayat yang berbunyi: “inna al-mubadziriina kaanuuu ikhwaana asy-syaathiin" (sesungguhnya pemboros – pemboros itu adalah saudara – saudara setan). Bayangkan saja dengan menyia-nyiakan apa yang kita miliki bisa disebut sebagai saudara – saudara setan. 
 
Menurut kitab Fii Zilalil Qur'an, mubazir dalam ayat ini ditujukan oleh Allah kepada orang- orang yang menyalurkan infaknya untuk sesuatu yang tidak benar dan berlebihan (penafsiran Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas). Jika kita lihat makna berinfaq adalah suatu perbuatan baik namun ketika tidak disalurkan pada tempatnya menjadi sesuatu yang tidak baik. Bayangkan saja mengeluarkan harta dengan niat sedekah saja ada aturannya, harus pada porsinya. Lihat juga larangan sifat berlebih – lebihan ini di QS Al-An’am (6): 143 dan QS Al-A’raf (7): 31.
 
Ayat selanjutnya (ayat 29) juga menarik untuk diperhatikan yaitu Allah memerintahkan untuk berlaku ekonomis dalam hal pengeluaran, berbuat segala sesuatu dengan keseimbangan, tidak terlalu pelit dan tidak terlalu boros. 
 
Ada juga sebuah hadits dimana Rasulullah Sawmelarang Sa’ad untuk boros berwudhu yang bahkan Rasulullah Sawmelanjutkan untuk tidak juga boros walau berwudhu di sebuah sungai yang mengalir (HR Ahmad No. 7065). Ck…ck…ck…walau di sungai mengalirpun kita tidak sepantasnya berwudhu semena – mena. 
 
Contoh mubazir
 
Contoh sifat mubazir yang dapat kita cermati dalam kehidupan sehari – hari adalah ketika membeli makanan, perabot rumah tangga dan pakaian. Karena alasan ‘kepuasan’ kita lupa untuk memperhitungkan manfaatnya. Akhirnya harta yang dikeluarkan hanya memberikan kesenangan sementara dan berakhir dengan sia – sia. Sesuai dengan rencana yang disebutkan di artikel Sakinah Finance pekan lalu (baca: Bank Makanan) topik kali ini adalah Let's declare war on waste. Ide tulisan ini adalah dari Layyina Tamann,  putri kami dari berita – berita dan documentary BBC, terutama "Hugh's war on waste" yang dibaca dan ditontonnya. Topik acara ini sangat menarik jika dikaitkan dengan larangan mubazir di atas.
 
Siapa dan apa saja?
 
Menurut pengamatan Hugs si pembawa acara, setiap orang yang belanja bahan makanan memiliki kecenderungan untuk membuang seperenam dari yang dibelinya. Hal ini adalah perbuatan sia-sia katanya. Ini hanya dari kelompok rumah tangga saja, yang menurut British Retail Consortium (BRC) selama tahun 2014 saja ada 15 juta ton makanan yang dibuang oleh lebih dari 60 juta penduduk Inggris. 
 
Selain rumah tangga, ternyata yang paling banyak membuang makanan adalah produsen makanan, terutama petani yang menghancurkan 3 juta ton hasil panen serta pabrik makanan yang membuang sebanyak 3.9 juta ton, terutama karena makanan produksi mereka ditolak supermarket dengan alasan tidak sesuai standar (cosmetic standards). Akibatnya, sepertiga dari hasil pertanian dan makanan siap jual ini biasanya akan dibuang begitu saja, jauh sebelum masuk supermarket dan swalayan besar seperti Tesco atau Sainsbury. 
 
Masa kadaluarsa yang terlalu ketat juga mengorbankan makanan yang tidak laku terjual di swalayan dan supermarket. Biasanya sebelum masa kadaluarsa, diskon ditawarkan kepada pembeli atau dijual khusus ke karyawan sedangkan sisanya akan dibagikan ke komunitas sosial. Langkah terakhir baru dibuang ke kotak sampah.
 
Dua organisasi nirlaba besar di Inggris seperti Skipchen Food Rescue dan FareShare setiap malam mendatangi kotak sampah di belakang swalayan, dan biasanya mereka selalu menemukan banyak bahan makanan yang masih layak dikonsumsi dibuang begitu saja. Setelah dikumpulkan dan diolah dengan baik, mereka membagikannya kepada yang membutuhkannya.
 
Selain makanan, pakaian adalah konsumsi rakyat Inggris yang paling banyak dibuang. Documentary diatas menyebutkan bahwa bertumpuk-tumpuk baju layak pakai dibuang ke tong sampah secara massal, dan kalau dihitung tumpukan pakaian seberat tujuh ton hanya membutuhkan waktu 10 menit saja! 
 
Keuangan keluarga
 
Lantas apa hubungannya ayat mubazir ini dengan keuangan keluarga? Dalam QS Ibrahim (14): 7 kita kembali diingatkan jika kita bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmatNya, sebaliknya jika kita kufur nikmat maka azab Allah adalah sangat berat. Dengan menjauhi sifat mubazir kita sudah bersyukur dan dengan banyak bersyukur inshaaAllah keuangan keluarga kita makin sakinah dan berkah. 
 
Maka dari itu uswatun hasanah untuk menghindari sifar mubazir yang telah diajarkan oleh Rasulullah Sawpatut kita teladani seperti makan sebelum lapar berhenti makan sebelum kenyang, makan penuh adab dengan menggunakan tiga jari bukan lima jari (tidak memenuhi mulut), dengan mengunyahnya berkali – kali dan bukan tergesa – gesa, makan dengan duduk bukan berdiri apalagi berlari – lari. 
 
Selain itu, patut juga kita membuat perencanan dengan menggunakan teknik “Just-In Time”, makanan dibeli ketika waktunya, makanan habis sebelum kadaluarsa dan jika bersisa bukan dibuang tapi didaur ulang. Jika sudah dilakukan dalam keluarga kita, mulai dari makanan, perabot rumah tangga dan pakaian, maka kebiasaan ini akan tersebar ke lingkungan sekitar dan pada akhirnya kita semua akan dapat menjauhi sifat mubazir ini. Wallahu a'lam bis-shawaab. 
 
Salam Sakinah!
0 Komentar