Ustazah Nani Handayani: Semua Ada Hikmahnya

Sabtu, 23 Desember 2017 - 06:18 WIB | Dilihat : 445
Ustazah Nani Handayani: Semua Ada Hikmahnya Direktur PGTK Iqro, Pondok Gede, Bekasi, Ustazah Nani Handayani.

Pondok Gede, Bekasi (SI Online) - Kamis siang, 21 Desember 2012, hujan mengguyur hampir seluruh wilayah Jakarta dan Bekasi. Sekitar satu jam, dari pukul satu hingga pukul dua. Padahal pada pukul dua siang, Suara Islam dan beberapa media Islam nasional lainnya, sudah janjian bertemu dengan Ustazah Nani Handayani, Direktur PGTK Iqro Pondok Gede, Bekasi, yang pada awal bulan ini dibuat heboh oleh warganet akibat adanya kesalahan penulisan ayat Alquran yang ditayangkan dalam sebuah program dakwah di sebuah stasiun televisi swasta nasional. 

Maka, demi memenuhi janji dan ketepatan waktu, hujan yang lebat itu mau tidak mau harus diterobos. Pukul dua lebih sedikit Suara Islam tiba di lokasi. Demikian pula kawan dari media Islam lainnya. Untuk beberapa saat kami menunggu kehadiran Ustazah Nani yang sebelumnya telah memilih sebuah resto di Jalan Jati Makmur, Pondok Gede, sebagai lokasi pertemuan. 

"Assalamualaikum...mohon maaf, baru tiba. Seperti biasa, rutinitas ini baru saja pulang pengajian dari Jakarta," kata Utazah Nani ramah begitu memasuki ruangan. Mengenakan kerudung oranye dan jubah dengan warna senada, salah satu pengurus Badan Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPP PKS ini datang dengan diantar putra pertamanya. 

Ustazah Nani, mubaligh kelahiran Jakarta 14 September 1961 silam ini agenda sehari-harinya memang berdakwah. Selain ia menjalankan amanah sebagai Direktur PGTK Iqro dan memimpin Yayasan Pecinta Anak BUNAYYA. Sekitar 38 majelis taklim ia bina. Di Jakarta, alumni jurusan Kimia IKIP Jakarta ini juga rutin mengisi ceramah di kantor-kantor perusahaan BUMN dan perusahaan nasional lainnya. 

Di antara majelis taklim perkantoran yang ia diminta menjadi penceramah adalah majelis taklim Ikatan Istri Pimpinan BUMN, Sekjen DPR RI, Bank Indonesia, Bank Mandiri, Telkomsel, Indosat, dan Astra Honda Motor. Di Bank Mandiri, Nani bahkan mengaku ditunjuk sebagai penceramah tetap untuk cabang-cabang di seluruh Indonesia. Selain itu Nani juga sering diminta mengisi ceramah di kediaman para pejabat negara, Kementerian dan kepala-kepala daerah. 

Lalu, apakah insiden di stasiun televisi swasta yang ramai pada 5 Desember lalu berdampak pada ceramah-ceramahnya?. 

"Saya bersyukur kepada Allah, dengan izin Allah, dari sekian jadwal ceramah saya setelah kasus kemarin, tidak ada yang dibatalkan gara-gara kasus itu," kata Nani. 

Sebagai manusia biasa, walaupun dalam kapasitasnya sebagai mubalighah ia sering memotivasi orang lain, Nani mengaku shock selama dua hari. Beruntung, walaupun ia memiliki berbagai akun media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram, tetapi tidak aktif sehingga tidak secara langsung mengetahui pem-bully-an di media sosial terhadap dirinya.  

"Anak saya bilang, Ummi nggak usah buka Instagram, nggak usah buka Facebook, sudah yang penting Ummi berdoa aja,” kata dia menirukan nasehat anaknya. 

"Sehari sedih, menangis, dua hari juga masih sedih. Tetapi kemudian saya berpikir, kalau saya nangis terus sementara saya memotivasi orang untuk ayo hadapi persoalan dengan baik, ayo kuatkan, ribath, ishbir, shabiru wa rabithu, masa saya enggak. Udah saya bangkit," katanya semangat. 

Alhasil, hanya dua hari itu saja ia mengaku terpuruk. Selanjutnya ia segera bangkit dan bersyukur kepada Allah Swt, karena insiden di stasiun televisi itu tidak mempengaruhi aktivitas dakwahnya. "Sampai hari ini tidak ada satupun jamaah yang membatalkan (jadwal) gara-gara  kasus saya," imbuhnya. 

Motivasi Ceramah di Televisi

Dakwah di televisi, bagi Nani Handayani bukanlah hal yang baru. Sebelum insiden di Metro TV itu, Nani sudah pernah berdakwah di MNC TV selama 100 periode. Ratingnya juga cukup tinggi. Di stasiun televisi Indosiar pun pernah dilakoninya selama delapan episode. 

Sehingga, ketika salah satu programmer di Metro TV yang merupakan jamaah pengajiannya meminta dia untuk menjadi narasumber dalam acara Syiar Kemuliaan ia pun segera mengiyakan. Walaupun sebenarnya sang suami, Herri Siddik, sudah mengingatkannya. 

"Saya ini tidak tegaan. Kedua, saya pikir progammer ini baik sama saya. Ini kesempatan saya untuk mendakwahi mereka," kata Nani menjelaskan sedikit alasannya mengapa ia mau tampil di stasiun televisi milik Surya Paloh itu. 

Selain itu, Nani berharap dapat mewarnai para kru televisi tersebut. "Orang yang nyambut saya, itu semuanya baik-baik, Muslim. Kenapa enggak saya bantu mereka."

Ditambah, kata Nani, dia juga merasa tidak diatur-atur dalam penetapan materi. Semua materi yang disampaikan itu dari dirinya. "Untuk judul saya yang atur, bukan mereka atur saya," akunya.

Karena diminta oleh jamaahnya, Nani pun mantap mengiyakan. "Bismillah. Tapi ini tapping ya, saya nggak mau live," kata Nani kepada kru televisi itu. Secara teknis, melakukan syuting di televisi secara live kata Nani sangat melelahkan. 

Akhirnya disepakati tapping untuk lima episode sekaligus. Syuting dilakukan hingga sekitar pukul 01.30 dini hari. Itu bisa dilakukan karena Nani sudah terbiasa ceremah di depan kamera. 

Tidak lupa, ia meminta kepada kru televisi tersebut agar memberitahu dirinya jika acara tersebut ditayangkan. Metro TV menayangkan selama liha hari berturut-turut sejak Kamis 30 November hingga Senin 4 Desember. 

"Ramainya baru Selasa. Kenapa, karena dari lima episode, episode pertama saya nggak mau pakai tulisan, karena saya tahu screen itu rusak," jelas dia. Demikian pula dengan episode kedua juga masih tidak menggunakan screen untuk menampilkan tulisan ayat Alquran.

Saat menolak menggunakan screen, Nani beralasan karena hasil tulisan tangannya berantakan tidak sesuai yang dia tuliskan. Tetapi kru televisi tersebut menjawab akan menuliskan dan mengaturnya. 

Pada episode kedua hingga kelima, kata Nani, kru televisi memaksa menggunakan screen tersebut. "Kalau lagi di depan kamera kan nggak mungkin menulis. Kata mereka, udah ini kita yang tulisin," jelas dia. 

Semua Ada Hikmahnya

Sisi positif dari insiden yang dialaminya, kata Nani, ia mendapatkan hikmah dari kejadian itu. Ia merasa harus terus berhati-hati dalam berdakwah. Apalagi ia ramai menjadi korban pembullyan, karena latar belakangnya sebagai seorang aktivis dan pengurus partai politik Islam. 

Hikmah lainnya, ia juga terus bersemangat untuk belajar lagi. Walaupun usia sudah sekitar 56 tahun, Nani kini masih belajar di Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Darul Hikmah, Bekasi. 

Hikmah ketiga, Nani dapat melakukan instropeksi diri. Bahwa, ternyata tidak semua orang menyukainya. 

"Dengan adanya orang yang membenci saya, yang tidak suka saya, yang mem-bully saya, saya semakin banyak beristighfar dan berdoa kepada Allah. Itu hikmah yang luar biasa. Dan saya merasakan semakin dekat dengan Allah. Mungkin kalau tidak ada peristiwa itu saya merasa enak-enak saja," ungkapnya. 

Setelah insiden ini, Nani juga akan mempertimbangkan terlebih dahulu untuk tampil di televisi. Khusus untuk Metro TV dia menyatakan sudah tidak mau lagi. "Saya sudah taubatan nashuha diundang Metro TV. Cukup lima episode itu saja," kata dia. 

red: shodiq ramadhan

0 Komentar