Alumnus Kanigoro, Sambut Baik Menasionalkan Peringatan Kanigoro Affair

Kamis, 21 Desember 2017 - 19:50 WIB | Dilihat : 515
 Alumnus Kanigoro, Sambut Baik Menasionalkan Peringatan Kanigoro Affair Drs H. Muhammad Zain Nashruddin Ansharullah (berkaos merah) tengah berbincang dengan HM. Aru Syeiff Assadullah, Pemimpin Redaksi Suara Islam (foto: SI/Muhammad Halwan)

Semarang (SI Online) – Drs. H. Muh. Zain Nashruddin Ansharullah (69 Tahun), di tahun 1965 menjabat Ketua  Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII) Kota dan Kabupaten Madiun – Jawa Timur;  adalah salah seorang alumni  peserta Mental Training (MT) Kanigoro. Berbicara melaui sambungan telepon dengan Suara Islam, Kamis (21 Desember 2017) siang,   menyambut baik penyelenggaraan peringatan Kanigoro Affair, yang rencananya diambil alih Pimpinan Wilayah (PW) PII Jawa Timur dan Pimpinan Wilayah Keluarga Besar (KB) PII Jawa Timur. 

“Peringatan tersebut  diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah PII Jawa Timur dan Pengurus Wilayah KB PII Jawa Timur,  tentu dapat menjadikan peristiwa bersejarah yang sangat menyakitkan Kader PII tersebut memiliki gaungnya lebih luas ----- se Jawa Timur bahkan Nasional.  Lebih khusus ; agar dapat menjelaskan,  betapa peran PII  senantiasa berada di garis terdepan ketika harus berhadapan dengan PKI.   Saat itu, PII sebagai satu-satunya organisasi pelajar Islam, yang senantiasa memberi perlawanan gigih luar biasa terhadap berbagai bentuk tekanan dan terror  PKI  dan segenap kader-kadernya.  Di berbagai tempat, sering terjadi bentrok dengan Pemuda Rakyat (PR), PII senantiasa berada di garis terdepan,”  ungkap  Muhammad  Zain, yang kini berdomisili di Kota Semarang – Jawa Tengah. 

Sementara itu, Pengurus Wilayah  KB PII Jawa Timur dalam rapat-rapat  rutinnya setiap Jumat,  terus melakukan pembahasan  persiapan penyelenggaraan peringatan tersebut. Seperti tersebut dalam undangan yang dikirim melalui jejaring WhatsApp (WA);  Rapat Rutin Pengurus PW KB PII Jawa Timur pada Jumat 22 Desember 2017 ini, juga diagendakan khusus untuk pembahasan persiapan peringatan Kanigoro Affair  Januari 2018, yang digelar di Kediri.

Ainur Rafiq Sophiaan, Sekretaris Umum PW KB PII Jawa Timur yang memimpin rapat-rapat persiapan ini peringatan ini mengungkap, kecuali rapat diikuti segenap pengurus PW KB PII, juga hadir pula dari PW PII Jawa Timur. Kini segera pula dilakukan pendekatan kepada sejumlah pejabat di Provinsi Jawa Timur (Gubernur, Pangdam dan Kapolda) untuk dapat hadir di tengah-tengah peringatan tersebut.   

Seperti dikhabarkan Suara Islam Tabloid edisi 236, Kanigoro Affair merupakan peristiwa kekejaman PKI yang sangat menyakitkan kader PII. Tidak kurang dari 40 orang kader PII yang mengikuti  Mental Training  di Pondok Pesantren di Desa Kanigoro Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri Jawa Timur, mendapatkan terror dari kader PKI membentuk gerombolan terdiri ratusan orang  Pemuda Rakyat (PR) dan Barisan Tani Indonesia (BTI).

“Sebelum ini Tabloid Suara Islam menulis yang terselenggara di Kanigoro ketika itu   Leadership Basic Training / LBT. Yang betul Mental Training. Jenis training kader di PII  lainnya adalah Basic Training, Leadership Training, Perkampungan Kerja Pelajar(PKP)  dan Coaching Instructur,”  kata Muhammad Zain mengoreksi.

Di Pondok Pesantren di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, Subuh, Rabu 13 Januari 1965 (pada sebuah kesaksian berbeda menyebut Selasa 19 Januari 1965, red), peserta Mental Training  baik putra maupun putri tengah mengikuti jamaah salat subuh  di masjid di dekat gerbang pesantren. Secara mendadak mendapatkan serangan yang kemudian disebut sebagai terror subuh dari gerombolan yang melengkapi diri dengan berbagai bentuk senjata tajam dan ada yang membawa bambu runcing.

“Tidak semua peserta dan panitia  Mental Training mengikuti jamaah Shalat Subuh di masjid. Ada beberapa orang  diantara peserta dan panitia itu, yang melaksanakan shalat di kamar-kamar asrama pesantren,” ungkap Muhammad Zain mengenang.

Sejumlah orang dari sebuah gerombolan dengan sangat tiba-tiba menyerbu masjid. Jamaah shalat Subuh yang tengah berlangsung dibubarkan. Jamaah yang tengah dalam posisi sujud di tendang – tendang (di-dugang, Jw. Red) dengan kaki mengenakan alas yang kotor tanah becek.   Seisi masjid diobrak-abrik. Kitab Alquran serta kitab-kitab lain diangkat dari tumpukan, di bawa keluar masjid, disobek-sobek hancur dan diinjak-injak sambil berkata “iki sing nyebabne gudikken”  (ini yang menyebabkan kudisan, red). 

Sementara sejumlah lain dari gerombolan itu, menyerbu pula ke kamar-kamar asrama santri. Segenap isi kamar juga diobrak-abrik. Ketemu Alquran dan berbagai macam kitab, di bawa keluar dan disobek-sobek, diinjak-injak kemudian di bakar di halaman bersama yang sudah dikeluarkan dari masjid.

“Yang terjadi saat itu, sebagian gerombolan itu ada yang menyerbu ke masjid, sebagian lain menyerbu kamar-kamar asrama  santri. Yang menyerbu ke masjid, mereka masuk masjid, dengan tanpa membuka alas kaki sandal (terompah) dan sepatu yang kotor,  membawa tanah becek akibat semalaman memang diguyur hujan. Lantai masjid seketika menjadi kotor,” kata Muhammad Zain.

 Peserta Mental Training yang berada di dalam masjid, di keluarkan ke halaman, demikian pula peserta dan panitia yang dari dalam kamar asrama santri.  Dikumpulkan di halaman. Ketika itu hari masih gelap,  terror itu dilanjutkan dengan mengikat tangan semua peserta dan panitia Mental Training. Tali temali ini kemudian dihubungkan satu dengan yang lain, menjadi rentengan “pesakitan”, dan digiring melalui kampung-kampung dengan basis penduduk pengikut PKI.

“Penggiringan “pesakitan” disaksikan penduduk kampung-kampung yang dilalui seperti karnaval. Penduduk yang menonton di kanan-kiri jalanan kampong ikut meneriaki ; “Antek Nekolim,  Kaki tangan Imperialis,  Antek Masyumi.”  Teriakkan yang lain diantaranya; “Bunuh saja di sini, Potong saja Kemaluannya, Balas kematian Kawan di Madiun.”    

Di Penjara, Tuduhan Kontra Revolusi 

Sementara segenap gerombolan ini  juga tidak berhenti berteriak-teriak : “Hidup PKI, Hidup BTI, Hidup Pemuda Rakyat, Ganyang Santri, Ganyang Antek Nekolim, Ganyang Kaki tangan Imperialis, Ganyang Antek Masyumi,” (partai Masyumi yang telah dibubarkan oleh Presiden Soekarno 17 Agustus 1960, red).

Ketika hari sudah terang, rentengan “pesakitan” ini kemudian digiring ke Kepolisian Sektor (Polsek) Kras. Pimpinan gerombolan yang bernama Suryadi berorasi, diantaranya menyatakan pihaknya telah berhasil menyerahkan ; “Antek Nekolim,  Kaki tangan Imperialis,  Antek Masyumi” ke Polisi. Setelah melalui interogasi bertele-tele, “pesakitan”  yang sudah dilepas dari rentengan ikatan tali temali ini kemudian di evakuasi ke Polres Kediri.

“Ketika peserta  Mental Training  dapat dibebaskan dari Polres Kediri.  Ada seorang yang ditahan, yaitu  Anies Abiyoso--- Koordinator Instruktur Mental Training. Dia harus menghadapi tuduhan berat  sebagai Kontra Revolusi dan telah mengadakan rapat gelap. Saat pengadilan digelar di Pengadilan Negeri Kediri, Hakim dan Jaksa berpihak ke PKI menjadi sangat kejam. Sedang yang terjadi di luar pangadilan, sungguh sangat menegangkan. Ratusan massa kader PII yang dipimpin Ketua Umum PW PII Jawa Timur  saat itu; Yahya Mansyur dan Ketua Umum PB PII saat itu; Syarifuddin Siregar Pahu, berhadapan langsung dengan massa dari PKI, Pemuda Rakyat dan BTI. Syarifuddin Siregar Pahu, jagoan orasi, ” kenang Muhammad Zain dengan menambahkan,  dalam pengadilan yang digelar super kilat, Anies Abiyoso divonis bersalah, diganjar hukuman penjara. Setelah Orde Baru memimpin, Anies Abiyoso baru mendapat kebebasan.

Diberitakan Media Luar Negeri

Pada bagian lain Muhammad Zain mengungkap, peristiwa Kanigoro mendapat perhatian luas. Kendati tidak ada satupun media Nasional baik Surat Kabar termasuk Radio Republik Indonesia (RRI) tidak  berani memberitakan. Namun media asing  justru gencar memberitakan. Tercatat yang pertama memberitakan adalah Radio BBC London dan hampir dalam waktu bersamaan, Radio Voice of Amerika  (VOA)  dan Radio Australia (ABC) juga memberitakan.

Muhammad Zain menyatakan sependapat,  Kanigoro Affair diperingati secara nasional atau setidaknya regional Jawa Timur.  Selama ini ada saja pihak yang menganggap peristiwa terror Kanigoro sebagai peristiwa sejarah yang kecil-kecil saja. “Nyatanya tidaklah demikian. Sejak peristiwa Kanigoro,  PKI tidak sedikitpun mengendorkan tekanan dan terror, justru kemudian menjadikan PII sebagai target musuh utama yang mesti segera dibersihkan,  agar tidak menjadi penghalang bagi kelancaran niat mereka untuk mengambil alih kekuasaan negeri ini.”

 “Jadilah, PII harus terus berhadapan secara diametral dengan PKI . Setelah peristiwa Kanigoro,  Mental Training yang diselenggarakan oleh  PII Cabang Lawu Utara di Desa Tempurejo - Walikukun,  Ngawi – Jawa Timur, juga dikepung PKI.  Demikian pula dengan Perkampungan Kerja Pelajar (PKP) yang digelar  PW PII Jawa Timur di Desa Sumobito -Jombang, juga dikepung bahkan sudah nyaris diserbu PKI. Karenanya Sejak terjadi Peristiwa Kanigoro,  Brigade PII  disiagakan di semua lini. Diantaranya harus mengamankan PKP di Sumobito - Jombang,  yang dihadiri Siti Syamsyiar -----putri Prawoto Mangkoesasmito, Ketua Umum Partai Masyumi, yang ketika itu masih menjadi tahanan Politik Orde Lama di Rumah Tahanan Militer (RTM) Kota Madiun.  Di tahan sejak tahun 1963 diantaranya bersama Mr. Mohammad Roem,  EZ. Muttaqien dan  Mochtar Loebis,”  papar runtut Muhammad  Zain mengakhiri keterangan.

Rep : Muhammad Halwan  

0 Komentar