KH Misbahul Anam: Spirit 212 Harus Dirawat

29 November 15:02 | Dilihat : 500
KH Misbahul Anam: Spirit 212 Harus Dirawat KH Misbahul Anam (tengah) bersama Habib Rizieq dan KH Muhammad al Khaththath

Umat Islam di Indonesia pernah menggelar aksi damai yang super dahsyat karena dihadiri lebih dari tujuh juta orang, ketika itu umat Islam datang dari berbagai penjuru daerah bahkan luar negeri dengan biaya masing-masing berkumpul untuk membela Alquran yang dinista, mereka menuntut keadilan hukum agar sang penista bisa dihukum. Tidak hanya dari kalangan tokoh dan aktivis Islam, masyarakat dari kampung-kampung bahkan kalangan menengah hingga orang-orang kaya berkumpul bersatu saling berkasih sayang dalam membela kebenaran. 

Dunia internasional pun takjub dengan kegiatan yang disebut “Aksi 212” itu, jutaan orang berkumpul dalam keadaan marah karena kitab sucinya dilecehkan, namun kemarahan itu ditunjukkan dengan cara yang santun dan damai, sampai-sampai ada momen ketika ada pasangan Non Muslim yang terjebak kerumunan massa ketika hendak menikah di Katedral, para laskar pembela Islam berinisiatif membuka jalan, bahkan memayungi sang pengantin. Dan hebatnya lagi, dalam acara tersebut tidak ada satu rumput pun yang rusak dan usai acara lokasi pun langsung bersih dari sampah. 

Tak terasa, kini sudah hampir setahun aksi yang digelar 2 Desember 2016 di lapangan Monas Jakarta itu. Dan kini, para ulama, habaib, pimpinan ormas Islam yang menjadi penggerak setiap Aksi Bela Islam berencana akan memanggil umat kembali dalam rangka reuni akbar alumni 212 pada 2 Desember 2017 mendatang di tempat yang sama. Namun kali ini, acara akan digelar sejak Subuh hari hingga waktu Zuhur.

Untuk mengetahui lebih jelasnya tentang acara reuni tersebut, Suara Islam mewancarai Ketua Panitia Reuni Akbar 212 yaitu KH Misbahul Anam At Tijani. Berikut petikannya: 

Apa Latar belakang digelarnya Reuni Akbar Alumni 212 ?

Pertama, kegiatan yang akan kita gelar ini adalah untuk mensyukuri nikmat disatukannya umat Islam di Indonesia oleh Allah SWT. Wujud syukur tersebut yaitu dengan menjaga dan merawat spirit 212 yang merupakan anugerah Allah dan mempertahankan energi terbesar umat Islam tersebut dalam persatuan dan persaudaraan sesama anak bangsa serta meneriakkan kebenaran dan keadilan demi keutuhan NKRI.

Selain itu, acara yang bertepatan dengan momen kelahiran Nabi Muhammad SAW itu digelar dalam rangka menggelorakan semangat maulid Nabi seperti yang pernah dilakukan oleh Shalahudin Al Ayyubi untuk menyatukan kekuatan umat Islam. Kisah Nabi Muhammad SAW dan perjuangannya dalam membela agama Allah sangat banyak dan perlu diteladani. Terutama, perjuangan saat Rasul dan pasukannya berperang melawan musuh-musuh Allah. Saat itu, setelah menceritakan kisah-kisah perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat, Salahuddin Al Ayyubi menjadikan kegiatan tersebut sebagai sarana untuk mengobarkan semangat juang dan berkorban untuk menyelamatkan umat Islam dari berbagai ujian.

Oleh karena itu, kita berharap momen kenangan aksi besar umat Islam Indonesia ditambah dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW bisa menjadi energi besar yang mampu membawa kebaikan bagi bangsa dan negara. 

Dalam setahun terakhir muncul berbagai dinamika yang menimpa umat Islam, bagaimana pandangan Kyai terkait hal ini?

Sebetulnya itu lebih merupakan kepanikan penguasa terhadap fakta ketaatan umat kepada ulama. Dan itu kesalahan besar karena justru umat atau rakyat akan semakin cinta dan membela ulama sebagai panutannya. Mestinya pemerintah bukan “memukul” tetapi merangkul Ulama, bukan mengkriminalisasi tapi mengharmonisasi. 

Tidak pernah terjadi di NKRI sejak orde lama dan orde baru, ulama difitnah, dituduh anti pemerintah dan dikriminalisasi seperti di era sekarang ini. Bagaimana mungkin umat Islam, ulama dan Habaib dituduh anti pancasila sedangkan Pancasila itu lahir atas ijtihad Ulama dan Negarawan. Pancasila itu lahir dari umat Islam. Tidak akan ada Indonesia kalau tidak ada umat Islam.

Dan sayangnya, hingga saat ini kriminalisasi masih berlangsung, gejala penyakit islamphobia kian menguat, dan keadilan hukum masih jauh dari harapan.

Salah satu tokoh penggerak Aksi 212 adalah Habib Rizieq. Sebagai kawan dekat, mungkin Kyai punya informasi terbaru terkait beliau yang beberapa bulan terakhir ini tinggal di Mekkah?

Alhamdulillah beliau sehat dan terus memantau perkembangan umat di Indonesia. Umat Islam bahkan non Islam masih mendengar dan taat sama beliau. Habib Rizieq insyaallah tetap bisa memimpin dan komunikasi dengan umat walaupun berada di Arab Saudi.

Dan kenapa saya singgung non Muslim juga simpatik dengan beliau, saya sebagai kawan dekat Habib Rizieq tahu betul tentang hal tersebut. Saya ceritakan misalnya salah satu momen bagaimana Habib Rizieq itu sangat dihormati bahkan didukung oleh pemuka agama lain. 

Beberapa tahun lalu, pernah digelar dialog antara Habib Rizieq dengan ratusan orang pendeta, dialog tersebut dilatarbelakangi adanya keresahan khususnya para pendeta akan keberadaan Front Pembela Islam (FPI).

Dalam dialog ada kejadian menarik yaitu ketika pendeta bertanya memakai landasan Injil Matius ternyata Habib Rizieq jawabnya pakai Matius juga, ketika pendeta lain bertanya pakai Injil Lukas Habib Rizieq jawabnya pakai Lukas juga. Sampai-sampai ada yang mengatakan, Habib ini ulama atau pendeta, lalu Habib menjawab saya ini alumni sekolah Kristen Bethle, bahkan ia menujuk salah seorang pendeta yang turut hadir yang pernah menjadi teman sekelasnya. Dan ternyata, pendeta tersebut kalah nilainya dengan Habib Rizieq saat ujian. 

Pada awal dialog tersebut, Habib Rizieq dikritik habis-habisan namun ia mampu menjawab dengan penuh santun dan sabar. Salah satu yang ditanyakan apa ada gereja yang dirugikan oleh FPI, di markaz FPI saja ada banyak gereja berdiri dan selama ini baik-baik saja bahkan selalu berkoordinasi dan kerjasama dalam momen-momen tertentu. Kesimpulan akhirnya, para pendeta itu mengatakan kalau Habib Rizieq mencalonkan diri sebagai presiden maka mereka akan mendukung, menurut para pendeta itu justru Indonesia akan lebih aman. Tetapi, Habib Rizieqnya sendiri tidak pernah ada niat untuk itu. Beliau hanya ingin selalu bersama-sama dan berjuang bersama umat.

Apa target dan tujuan digelarnya Reuni Akbar Alumni 212 ?

Dengan digelarnya acara tersebut, kita akan membuktikan bahwa umat Islam, bangsa Indonesia tetap bersatu di bawah komando ulama. Karena persatuan dan kesatuan umatlah yang akan tetap mempertahankan kedaulatan NKRI. Umat bersatu kembali insyaallah untuk menyambut kebangkitan Islam di Indonesia. Oleh karena itu saya mengajak kepada seluruh kaum Muslimin dimana pun berada, mari kita berkumpul kembali di hari persaudaraan umat Islam pada Reuni Akbar 212.

Apa harapan kedepan terhadap umat Islam ?

Umat Islam wajib tetap bersatu tanpa membedakan daerah, suku, bahasa dan madzhab. Karena dengan persatuan, kemenangan dan keberkahan akan didapatkan. Umat Islam juga harus tetap menyuarakan kebenaran dan keadilan sebagai pengamalan Pancasila apapun resikonya. Dan itulah pancasilais sejati. Selain itu, kita juga berharap umat Islam benar-benar akan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. (SI)

0 Komentar