La Nyala Mahmud Mattalitti: Jadi Pengusaha Hingga Ngurusi Bola, Kini Bacagub Jatim

19 November 15:32 | Dilihat : 880
La Nyala Mahmud Mattalitti: Jadi Pengusaha Hingga Ngurusi Bola, Kini Bacagub Jatim Bakal Cagub Jatim La Nyala Mahmud Mattalitti. [foto: jakarta news.com]

Surabaya (SI Online) - Siapa yang tak mengenal La Nyala Mattaliti?. Bagi penggemar sepak bola nasional, nama La Nyala tentu tidak asing lagi. Sebab dia pernah memimpin Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). 

Nama lengkapnya adalah Ir. H. La Nyala Mahmud Mattalitti. Dilihat dari namanya, La Nyala berdarah Bugis. Tetapi, putra ke-3 pasangan H. Mahmud Mattalitti, SH dengan Hj. Fauziah kelahiran Jakarta 10 Mei 1959 ini, tumbuh dan besar di Surabaya, Jawa Timur. Dia kini dikenal sebagai salah satu tokoh Jawa Timur. Selain dikenal sebagai seorang pengusaha, ia juga organisatoris. 

Kiprahnya dalam dunia usaha, mengantarkan La Nyalla menjadi pemimpin organisasi para pengusaha Jawa Timur, yakni sebagai Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur. Sementara di organisasi kepemudaan, La Nyalla tercatat masih menjadi Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Jatim.

Dalam dunia bola, La Nyalla pernah dipercaya sebagai Ketua Badan Tim Nasional Sepakbola Indonesia di PSSI, sejak tahun 2013 hingga 2015. Ketika itu, La Nyalla berhasil mempersembahkan Trophy juara Asean untuk Tim Nasional U-19, yang dimotori Evan Dimas dkk. La Nyalla juga berhasil membawa pulang Medali Perak Asean Games dari Myanmar melalui tim yang dibesut pelatih Rahmad Darmawan.

Alumni Universitas Brawijaya Malang ini juga pernah dipercaya sebagai Ketua Umum PSSI Pusat, masa bakti 2015-2016. Setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PSSI sejak 2013 hingga 2015. Dan di era La Nyalla di PSSI, untuk pertama kalinya, sejak PSSI berdiri, PSSI mendapat bantuan FIFA Goal Project dan lulus FIFA Performance Program.

Pria yang sejak kecil hidup di Surabaya ini memang dikenal sangat tegas dan memegang prinsip. La Nyalla selalu yakin dan optimis, bahwa apa yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh pasti ada jalan. Sesulit apapun itu. Keyakinan La Nyalla itu disandarkan pada keyakinan spiritual dia pribadi.

Keyakinan spiritual La Nyalla itu tidak lepas dari perilaku keagamaan pribadi La Nyalla yang tidak banyak diketahui orang.  La Nyalla muda memang pernah akrab dengan dunia malam, tetapi setelah usia 40 tahun, dia memilih membina dan mengajak teman-temannya yang berkecimpung di dunia malam untuk kembali ke jalan kebaikan. Ia juga istiqamah menjalankan puasa daud dan shalat tahajud.

Sejak saat itu, La Nyalla membuat Yayasan La Nyalla Academia, dengan slogan yang berbunyi; Bersama untuk Kebaikan. La Nyalla memegang teguh janji Allah di Alquran, bahwa semua orang merugi, kecuali mereka yang beriman dan berbuat kebajikan di muka bumi.

Kini, La Nyalla berikhtiar untuk berbuat kebajikan dalam skala yang lebih luas lagi melalui sarana kekuasaan dengan mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Timur. Bagi La Nyalla, kekuasaan hanyalah alat. "Hanyalah sarana untuk memperluas ladang amalan kita sebagai manusia. Sebagai khalifah di muka bumi," kata dia dalam pernyataan visi misi LA Nyala Berjamaah yang diterima Suara Islam Online, Ahad (19/11/2017) 

Prinsip yang tidak main-main itu diwujudkan dengan program utama La Nyalla dalam pencalonannya sebagai calon gubernur di Pilkada Jatim 2018, yakni dengan mengusung tema "La Nyalla Berjamaah: Bersama untuk Jawa Timur Makmur,  Barakah dan Diridai Allah Swt." 

Melalui program La Nyalla Berjamaah, La Nyalla fokus kepada dua hal penting, yakni Kemiskinan dan Keadilan Sosial. Bagi La Nyalla, dimana ada Kemiskinan, di situ Pemerintah  wajib hadir. Dimana ada Ketidakadilan, di situ Pemerintah harus hadir.

Tersandung Perkara Hukum

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Kadin Jatim, La Nyala pernah dikaitkan dengan perkara  hukum penyimpangan dana hibah dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun 2012-2104. Bahkan La Nyalla  ditetapkan sebagai tersangka, dan sempat ditahan selama tujuh bulan oleh Kejaksaan pada Maret 2016  silam. La Nyalla pun di sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Namun, di dalam persidangan yang panjang itu, 24 saksi yang dihadirkan Jaksa, ternyata tidak satu pun yang menjelaskan bahwa La Nyalla terbukti terlibat langsung dan korupsi dana hibah yang diterima Kadin Jatim tersebut. Hasilnya, majelis hakim pun memvonis La Nyalla dengan putusan bebas murni dan tidak terbukti melakukan tindak pidana seperti didakwakan oleh Jaksa. La Nyalla pun bebas pada 27 Desember 2016. 

Pada 18 Juli 2017 lalu, pengajuan Kasasi oleh Jaksa ditolak oleh Mahkamah Agung. Sehingga  perkara Dana Hibah Kadin Jatim yang disangkutkan dengan La Nyalla sudah inkracht alias telah selesai dan  memiliki kekuatan hukum tetap.

Hal itu makin memantapkan ikhtiar La Nyalla untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Timur yang mengusung perjuangan yang paling mendasar bagi rakyat Jawa Timur; yakni: Kemiskinan dan Keadilan Sosial.

red: shodiq ramadhan

0 Komentar