Usamah Hisyam: Usia Empat Tahun Saya Dipecut Bapak Supaya ke Masjid

29 September 17:07 | Dilihat : 698
Usamah Hisyam: Usia Empat Tahun Saya Dipecut Bapak Supaya ke Masjid Ketua Umum PP PARMUSI sekaligus SEKNAS GISS Drs H Usamah Hisyam menyampaikan pidato sambutan dalam peringatan Milad ke-18 dan pembukaan Silatnas Ulama dan Dai Perbatasan PARMUSI di Aula Masjid At-Tin, TMII, Jakarta Timur, Selasa malam (27/09).

Drs. H. Usamah Hisyam
Sekretaris Nasional Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS)

 

Terlahir di Surabaya, 14 Mei 1963, dari pasangan orang tua Haji Hisyam Yahya dan Hj Nurul Huda, Usamah Hisyam tumbuh dan besar di lingkungan aktivis pergerakan Islam. Ayah Usamah berprofesi sebagai pengusaha penyalur gula pasir dan tepung terigu di Surabaya. 

Semua profesi dan aktifitas yang dilakukan Usamah saat dewasa, tak bisa dilepaskan dari lingkungan pergaulannya di kawasan Masjid Mujahidin, Jl. Perak Barat No.275 Perak Utara, Pabean Cantian, Surabaya. Rumah keluarga besar Usamah berada di depan Masjid yang turut dibangun oleh kakeknya Haji Muhammad Yahya. Ayah Usamah pun pernah memimpin yayasan masjid ini. Sekarang, kepemimpinan Yayasan Masjid Mujahidin Surabaya dipegang paman Usamah, KH Hasyim Yahya. 

“Saya sejak kecil belajar ngaji di Masjid Mujahiddin itu. Jadi saya shalat Shubuh itu bukan dari sekarang. Umur empat tahun saya dipecut bapak saya untuk berangkat ke masjid. Shubuh itu wajib, sudah makanan tiap hari, tinggal nyebrang rumah,” kenang Sekretaris Nasional Gerakan Shalat Subuh Berjamaah (GISS) ini. 

Usamah berkisah, saat duduk di kelas tiga SD Mujahidin, digelar lomba MTQ tingkat Kecamatan Pabean Cantian. Hasilnya, dia juara satu. Sementara juara keduanya adalah Mukhlis Yaya, sepupunya, putra KH Hasyim Yahya yang kini pemilik Inilah.com. “Saya sudah akrab dunia dakwah dari kecil,” katanya. 

Di era 70-an, pada awal-awal berdirinya Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI), ayah Usamah adalah Ketua PARMUSI Surabaya. Bahkan kemudian menjadi Bendahara PARMUSI Jawa Timur. “Salah satu donatur PARMUSI Jawa Timur, ayah kandung saya itu,” kata suami Daisyanti Astrilita Siregar ini. 

Dalam pergaulan dengan politisi-politisi Nasional dari Masyumi, Usamah bercerita bila kakeknya, Haji Muhammad Yahya, dan kakek La Nyala Matalitti (eks Ketum PSSI, red), HM Yunus Mattalitti, adalah tokoh Masyumi Jatim. Sehingga, ketika tokoh-tokoh Masyumi Pusat seperti Natsir dan Kasman Singodimedjo berkunjung ke Jatim, di rumah kakeknyalah mereka menginap. “Kita ini keluarga Masyumi betul,” ungkap bapak lima anak ini. 

Dunia kewartawanan dan media, juga dimulai Usamah sejak kecil, usia Sekolah Dasar. Di Masjid Mujahidin itu pula Usamah kecil menjajakan Majalah Panji Masyarakat. 

Memasuki SMA, Usamah pindah ke Jakarta. Ia masuk ke SMAN 36 Rawamangun. Sang ayah sebenarnya tidak setuju dirinya tinggal di ibukota sebagai anak indekos. Namun, anak ketujuh dari 12 bersaudara lulusan SMP Negeri 7 Surabaya ini bersikukuh menetap di ibukota dengan merintis dunia kewartawanan secara mandiri. Saat SMA, Usamah mendirikan majalah sekolah yang diberi nama Kreasi SMA 36 Rawamangun. Lulus SMA, rentang 1984-1989 Usamah menekuni ilmu jurnalistik di Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang IISIP), Lenteng Agung. 

Sambil kuliah, ia menjadi penulis lepas dan wartawan freelance di sejumlah media. Dengan mengumpulkan honorarium tulisan antara Rp10.000 sampai Rp15.000 per naskah, Usamah membeli sebuah mesin ketik merk Olivetti seharga Rp200.000 sebagai modalnya bekerja. Ia bertekad untuk mandiri.

Dari pekerjaannya sebagai penulis lepas di Harian Minggu Sinar Harapan, Harian Pelita, serta wartawan freelance di Majalah Sportif, dan Majalah Remaja Mitra, Usamah dapat membiayai kuliah dan kehidupannya sendiri.

Selama beberapa tahun, sejak menjadi wartawan, Usamah mengaku agak jauh dengan lingkungan masjid, tidak menjadi aktivis masjid. Tetapi, pada akhirnya karena aktivitasnya sebagai wartawan pula yang membawa dirinya mengenal Ketua Umum PPP Buya Ismail Hasan Metereum dan kembali dunia pergerakan Islam. 

“Saya aktif kembali ke dunia pergerakan Islam itu justru dari wartawan. Karena saya dekat juga dengan tokoh-tokoh Parmusi terutama yang di PPP itu Buya Ismail,” kata Usamah yang kini menempuh pendidikan magister di Fakultas Dakwah dan Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. 

Di tempat tinggalnya sekarang, kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) Tangerang Selatan, sejak 2003 lalu Usamah menjadi Ketua Umum Kerukunan Keluarga Muslim BSD (KKMB). Yayasan ini mengelola Al Madinah Islamic Center, pusat pengembangan kegiatan sosial kemasyarakatan keagamaan dengan mendirikan Rumah Yatim Dhuafa, mengembangkan Klinik Dhuafa yang sudah ada sebelumnya, dan mendirikan Perguruan Al Madinah dari Tingkat TK, SD, SMP, SMA yang diprioritaskan untuk sekolah anak yatim dan kaum dhuafa. 

Sebagai wartawan senior dan penulis, sejak 1998, Usamah menulis buku biografi tokoh-tokoh nasional. Di mulai dengan biografi Panglima ABRI Jenderal TNI Feisal Tanjung “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat” (1998), Jaksa Agung Andi M. Ghalib “Menepis Badai” (1999), Kapolri Jenderal Pol Suroyo Bimantoro “Antara Idealisme dan Profesionalisme” (2002), Panglima TNI Laksamana TNI Widodo AS “Nakhoda di Antara Tiga Presiden” (2003), Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono SBY “Sang Demokrat” (2004), Menkominfo Tifatul Sembiring “Sepanjang Jalan Dakwah Tifatul Sembiring” (2012), dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh “Sang Ideolog” (2014).

Dalam menulis biografi, Usamah mengakui, ia tetap memilih figur sang tokoh. “Tak semua pejabat yang minta ditulis biografinya saya terima. Saya juga harus selektif. Karena menulis biografi memerlukan waktu dan konsentrasi penuh,” ujar Usamah. 

[shodiq ramadhan]

0 Komentar