Mr Masudin: Ada yang Sebut Misteri, tapi Panggil Aku Mister Saja

20 Februari 11:24 | Dilihat : 3478
Mr Masudin:  Ada yang Sebut Misteri, tapi Panggil Aku Mister Saja Mr Masudin saat memberikan terapi. [foto: M Halwan]

"Ini therapy saraf telinga. Memang banyak dibully. Ada pihak yang sebut-sebut therapiy ini dilakukan dengan penderita dihipnotis, disihir. Ada  pula yang sebut therapy dilakukan tak ubahnya seperti paranormal. Bahkan therapy ini disebut juga sebagai misteri. Yang kami lakukan bukan misteri. Panggil aku Msiter saja. Tidak perlu misteri.” 

Itu, seloroh Mr. Masudin, ahli therapy saraf pendengaran atau telinga, yang menemui Suara Islam di rumah tinggalnya di RT 20 RW 07 Dusun Ketanen, Desa Banyuarang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.  Sebuah rumah besar, dengan ruang tamu layaknya rumah tradisional,  luas dan terbuka seperti pendopo rumah pedesaan. Bagian belakang rumah besar ini,  sebagai tempat praktiknya, memberi therapy . Rumah besar ini cukup tersembunyi di sebuah gang, sebagai jalan masuk yang hanya cukup satu mobil, namun telah mengundang perhatian khalayak luas.
 
“Kami berusaha tidak bersinggungan atau bahkan berbenturan dengan pengobatan secara medis. Juga dengan yang dihipnotis, disihir dan paranormal; yang pengobatan medis silakan, yang dihipnotis silakan demikian juga yang paranormal dan yang disebut misteri juga silakan. Ini, yang kami lakukan adalah teraphy langsung terhadap saraf pendengaran yang mengalami gangguan. Mungkin jaringan saraf tersebut masih tertutup, dan kami upayakan untuk dibuka. Therapy ini bukan merupakan misteri. Melainkan ada dan dapat  dipelajari secara ilmiah,” tutur Mr. Masudin.
 
Ada tudingan therapy saraf telinga ini sebagai suatu misteri terungkap,  ketika Kus---nama panggilan seorang penderita asal Kabupaten Karanganyar-Jawa Tengah, yang berkunjung untuk kontrol hasil therapy sebelumnya. Kus, seorang penderita gangguan saraf satu telinga bagian kiri yang dialami sudah puluhan tahun, hingga telinga kanan saja yang dapat mendengar. Sudah dua kali tertangani. Pertama pada Sabtu (14 Januari 2017) silam, dan berkunjung kembali pada Senin (6 Februari) lalu.
 
Pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini menuturkan, setelah mengetahui dari media sosial ada therapy ini, kemudian sejumlah teman dan kerabat dekatnya memberikan informasi, diantaranya berupa sejumlah khabar menyebut; seseorang penderita setelah therapy, seketika tampak berhasil, namun kemudian sesampai di rumah kembali pulih tidak dapat mendengar. Sementara yang lain, menyebut therapy ini sebagai suatu misteri. 
 
“Saya tidak mudah percaya. Saya memutuskan untuk tetap berangkat ke Jombang. Untuk membuktikan. Setelah beberapa kali menerima edukasi tentang therapy ini juga segala sesuatu yang mesti dilakukan setelah therapy, saya kemudian tertangani. Setelah gangguan saraf diatasi, saya dapat mendengar, bahkan dipanggil dari jarak yang sangat jauh. Mungkin puluhanhingga ratusan meter di sebuah gang yang lurus di belakang rumah Mr. Masudin. Kini semua petunjuk kami lakukan, untuk terus melatih saraf pendengaran yang sudah terbuka agar tertap membuka,” tutur Kus rinci.

Islami
 
Sebelum ini seperti diungkap Tabloid Suara Islam edisi 225,  Mr. Masudin, di rumah besar di tengah perkampungan di Desa Banyuarang,  Kecamatan Ngoro,  Kabupaten Jombang-Jawa Timur ini,  memberikan therapy gangguan pendengaran langsung pada penyebabnya, yaitu; terdapat dua saluran utama pada syaraf telinga yang terganggu ataupun tertutup. Terhadap problem ini, dua syaraf utama tersebut diupayakan dibuka; dilakukan pijatan lembut serta totokkan di area sekitar belakang telinga, bagian belakang kepala  dan leher belakang (tengkuk) bagian atas.
 
Kemampuan dan keberhasilan Mr. Masudin, pria 40 tahun asal Desa Pucangsimo,  Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang ini,  segera tersiar ke seantero negeri ini. Terlebih dibantu dengan tayangan media social, media elektronik dan media cetak;  semakin luas hingga ke sejumlah Negara tetangga bahkan yang terjauh terdapat penderita yang datang dari Riyadh ibukota Arab Saudi.
 
Berbincang khusuk dengan Suara Islam, Mr. Masudin mengungkap kemampuannya tidak datang tiba-tiba. Sebagian otodidak, belajar terhadap tanda-tanda alam, sebagian lagi dari literature dan paling utama adalah didapat dari Alquranulkarim. Empat tahun,  dari tahun 2000  di Malaysia, kemudian ke Kamboja, Vietnam dan Thailand. “Di Kamboja, banyak merenung di sejumlah Angkor (kuil). Saya kagum dan amati ada pohon besar dengan perakaran yang menembus batu. Akar-akarnya dengan ujung tanduk yang kuat, tak ubahnya rambut-rambut syaraf,” ungkap Mr. Masudin sebut salah satu pemicu pemahaman tentang jaringan syaraf pada manusia.
 
Mr Masudin saat memberikan terapi.
 
Dari tahun 2004, Mr. Masudin mulai memberikan therapy di empat Negara di kawasan Asean itu. Enam tahun kemudian, tepatnya dalam tahun 2010 baru kembali ke Indonesia. Memperkenalkan therapy in9i dengan mengumpulkan puluhan penyandang  tuna rungu, baik  dari kalangan mampu maupun kurang mampu. Diberi therapy. “Gemparlah. Mereka tidak percaya dengan apa yang dialami. Bertahun-tahun tak mendengar, kemudian perlahan dan pasti, mereka dapat mendengar. Inilah therapy syaraf telinga secara Islami,  Allah Swt  mengaruniai mereka pendengaran. Ketika itu, agar therapy ini  tidak dikatakan bohongan, mereka kami beri uang ganti transport.  Masuk akal thoh, masak kalau bohongan, justru mendapat ganti uang transport,” katanya dengan tawa berderai.    
 
Merasa sangat  terbantu sejumlah tayangan media cetak, eletronik dan jejaring sosial. Keberadaan Mr. Masudin dan keahliannya segera diketahui khalayak. Kendati dia berada jauh berada di pelosok pedesaan, ratusan penderita berdatangan. Dalam sehari, dapat mencapai puluhan penderita yang sudah terjadwalkan untuk dapat ditangani. Untuk mendapatkan therapy, penderita harus mengantri, sebulan bahkan dua atau tiga bulan ke depan. Selama dalam antrian, penderita dan keluarga diarahkan untuk mengikuti acara edukasi.

Dibully
 
Ada sejumlah pihak merasa terganggu keberadaan dan keberhasilan Mr. Masudin menyembuhkan tanpa memberikan obat kepada penderita gangguan pendengaran-----baik gangguan pendengaran karena ada faktor keturunan,  bawaan lahir, gangguan sejak setahun, lima tahun, sepuluh  tahun hingga limapuluh tahun lebih.  Semua foto dan video kegiatan therapy yang diupload di media sosial, tiba-tiba hilang dari tayangan. “Kalau diusut, siapa yang menghilangkan semua foto dan video pada tayangan jejaring media sosial itu ? Sejumlah teman rata-rata menyebut;  pihak yang dapat men-delete semua foto dan video tentu yang memiliki jejaring media itu. Sedang pihak lain, mungkin hanya dapat memblokir tayangan,” ungkapnya. 
 
Pertanyaan-pun berkembang. Kemungkinan telah terjadi konspirasi. Pihak-pihak yang dirugikan----kemungkinan sejumlah perusahaan alat bantu dengar baik yang dipasang maupun yang ditanam di bawah kulit  kepala (implant)----- mereka  tidak main-main dan sangat geram; adanya therapy, bahkan setelah therapy tanpa memberikan obat maupun  peralatan bantu dengar. Mereka anggap sangat menghancurkan reputasi produk berbagai jenis alat bantu dengar.
 
Sementara itu, di tengah masyarakat-pun beredar kabar, therapy syaraf pendengaran ini dilakukan dengan penderitanya  di hipnotis. “Saya juga dengar bully demikian itu. Tapi hipnotis itu kan baru dapat dilakukan dengan menggerakkan  bawah sadar seseorang. Tidak mungkin para penderita tuna rungu dapat tergerak bawah sadarnya, karena sama sekali tidak mendengar arahan atau panduan yang menghipnotis untuk menggerakkan bawah sadarnya,” bantah Mr. Masudin. 
 
Ada pula yang meniup-kembangkan khabar, therapy syaraf dengar ini dengan memasang tarif yang sangat mahal.  “KIranya tariff itu relatif.  Memang  ada pihak  setelah mendengar besarannya akan mengatakan  mahal. Tetapi bagi yang sudah berupaya menempuh berbagai penanganan dari sejumlah ahli, di dalam negeri hingga ke luar negeri,  berbiaya ratusan juta bahkan miliyaran rupiah, biaya yang dikenakan dari therapy ini, sebesar apapun tentu terasa kecil.  Apalagi jika memang therapy ini memberikan hasil,” kata seorang pengantar penderita asal Surabaya.
 
Tahapan Edukasi 
 
Ada seorang ibu dari Majalengka Jawa Barat menelepon. Telepon Mr. Masudin dengan speaker yang dibuka sehingga orang di sekitar ikut mendengar. Ibu ini cukup detail tanya perihal therapy syaraf dengar. Diantaranya, apakah therapy dilakukan oleh semacam paranormal yang tak ubahnya seperti perdukunan? Hingga masuk pada masalah berapa besar tarif yang dikenakan untuk therapy.
 
Mr. Masudi menjelaskan, seseorang penderita yang ingin therapy, harus datang bersama keluarga. Ayah, Ibu, suami atau Isteri. Langkah awal harus ikuti tiga kali tahapan edukasi. Fungsi edukasi, agar keluarga faham langkah-langkah yang ditempuh setelah therapy dilakukan. Dengan lain perkataan, keluarga serta sejumlah orang di sekitar penderita, kemudian dapat membantu melakukan therapy lanjutan untuk kesembuhan penderita. Tahapan edukasi sangat penting ini, harus diikuti sebayak tiga kali, gratis tidak dipungut biaya.
 
“Kami nanti akan menguji, yang mengikuti edukasi ini benar-benar sudah memahami atau belum. Jika memang ternyata kedapatan belum memahami, harus mengikuti sekali lagi sebagai ulangan. Edukasi ini sangat penting. Karena ada sebagian penderita komplain setelah theraphy ternyata kembali tidak dapat mendengar. Ada seratus penderita usia anak-anak di bawah 13 tahun, ada 70 orang diantaranya meng-komplain yang sama. Ini yang mendasari kami harus melakukan edukasi. Agar setelah therapy, sejumlah langkah penting dapat dilanjutkan sendiri,  oleh penderita serta keluarganya. Therapy harus berlanjut. 
 
Kalau saja saya ini sewaktu-waktu mati, langkah-langkah lanjutan therapy sudah dapat dilakukan sendiri oleh penderita dan keluarganya,” papar Mr. Masudin.
 
Dibenarkan pula, komplain-komplain  demikian, diantaranya juga menyebabkan berkembangnya khabar bahwa theraphy saraf telinga yang sudah berbiaya mahal, ternyata setelah therapy penderita kembali pulih menjadi tidak mendengar lagi. Bahkan ada pula yang menyebutkan, penderita di tempat theraphy seketika dapat mendengar, namun setelah pulang, beberapa hari di rumah kembali tidak mendengar.
 
Hal demikian kiranya tidak akan terjadi, jika penderita bekerjasama dengan segenap anggota keluarganya untuk melanjutkan langkah-langkah therapy, diantaranya dengan senantiasa memberikan rangsangan terhadap syaraf dengar yang sudah dibbuka, agar syaraf tidak kembali menutup.
 
Rekam Medis  
 
Penderita yang hendak therapy kepada Mr. Masudin, diantaranya dipersyaratkan membawa hasil rekam medis kemampuan dengar.  Sehingga dapat memiliki parameter pada saat sebelum dan susudah dilakukan therapy. Namun seperti ada  upaya penghadangan terhadap penyandang tuna rungu agar tidak therapy ke Mr Masudin.  Mereka dipersulit peroleh rekam medis kemampuan dengar dari rumah sakit dan  ahli Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT). 
 
Tidak semua rumah sakit bersedia memberikan rekam medis kemampuan dengar ini. Setiap ada yang meminta, senantiasa ditanya; hasil rekam medis kemampuan dengar akan diguna untuk apa?. Ketika dijawab hendak digunakan untuk therapy ke Mr. Masudin, maka permintaan itu tidak dilayani. Dari sejumlah keterangan, di seluruh wilayah Jawa Timur, tinggal satu atau dua rumah sakit saja yang masih bersedia memberikan rekam medis ini. 
 
Berbagai bentuk bullying bahkan upaya penghancuran terhadap aktivitas Mr. Masudin memberikan therapy terhadap gangguan syaraf dengar, nyaris identik dengan yang dialami mantan Menteri Kesehatan Dr. Siti Fadilah Supari----yang merupakan satu-satunya pejabat tinggi Republik ini yang dengan sangat berani menentang proyek penelitian Amerika Serikat melalui kapal riset NAMRU.
 
Siti Fadilah melalui diplomasinya di WHO (Organisasi Kesehatan Sedunia) bermarkas di Jenewa, telah membuka mata dunia bahwa banyak penyakit baru yang sengaja diciptakan. Kemudian ada perusahaan farmasi tertentu menciptakan obat sebagai pembasmi penyakit baru yang sengaja diciptakan tersebut. Dengan cara itu, banyak Negara di dunia harus membelanjakan uang cukup besar bagi pembelian obat-obatan anti penyakit baru tersebut. Flue Burung, merupakan satu diantara penyakit tersebut.
 
Tidak mengejutkan, jika kemudian Siti Fadilah Supari harus berurusan dengan KPK. Karena sudah sejak lama menjadi incaran. Saat masih menjabat Menteri Kesehatan, beberapa kali keselamatannya diincar oleh para penembak bayaran. Namun rencana jahat tersebut dapat digagalkan oleh BIN yang saat itu dipimpin Syamsir Siregar.  Setelah tidak lagi menjabat sebagai Menetri Kesehatan, ancaman tersebut  masih juga ada. Setelah puluhan kali harus ke KPK dan menjadi saksi pada persidangan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), terasa benar ancaman tersebut ada. 
 
“Setelah selama sepuluh tahun sebagai saksi, kemudian menjadi tersangka. Bahkan saya tetap meyakini, suami saya juga dibunuh secara ghaib,” katanya seperti dikutip Suara Islam edisi 222. 
 
Mungkin kecurigaan ada konspirasi hendak menghancurkan Siti Fadilah Supari, semakin terkuak. Termasuk ketika Menteri Luar Negeri Hillary Clinton berkunjung ke Indonesia, juga telah terjadi sabotase. Terjadi ketika mengunjungi sejumlah Posnyandu, tidak didampingi Menteri Kesehatan. Padahal sebelumnya, Menteri Luar Negeri Hasan Wirayudha memberitahu rencana kunjungan tersebut. Namun setelah lama ditunggu tidak ada khabar. Ternyata Menlu Hillary Clinton jalan sendiri.  

MURI dan Guinnes Book of Record 
 
Aktivitas  Mr. Masudin memberikan therapy saraf pendengaran, tidak terlepas dari pengamatan Museum Rekord  Indonesia (MURI). Setelah berjalan tiga tahun, dalam beberapa bulan di tahun 2013, MURI menurunkan sebuah tim untuk memantau secara dekat terhadap aktivitas langsung therapy ini di Dusun Ketanen, Desa Bayuarang Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.
 
Dalam bulan Oktober 2013, Mr. Masudin diundang ke kantor pusat MURI di Semarang – Jawa Tengah. “Saya mengira hendak mendapatkan sertifikat dari MURI. Namun ternyata di sana sudah disiapkan ratusan penyandang tunarungu. Saya nyaris tidak bersedia dan sudah meminta pulang saja, kalau ternyata di kantor MURI hanya untuk berdemonstrasi unjuk kebolehan,” ungkap Mr. Masudin.
 
Namun pada akhirnya, kehendak MURI ini dituruti. Ratusan penyandang tunarungu mendapat therapy. Saat itu pula diserahkan dua sertifikat Rekor Therapy Syaraf Telinga Professional Pertama di Indonesia (dengan Metode Buka Syaraf). Tercatat ketika itu, setiap penderita hanya membutuhkan waktu selama 31 detik juntuk therapy.
 
“Untuk memperoleh sertifikat rekor dari MURI, cukup melelahkan. Kini sedang kami persiapkan untuk memperoleh setifikat rekor dari Guinnes Book of Record. Rencana nanti dalam bulan April 2017, kami gelar di Bali. Sekaligus bertemu dan membedah ilmu saraf telinga dengan sejumlah Profesor ahli Telinga Hidung dan Tenggorokkan (THT) dari sejumlah Negara termasuk dari seluruh Indonesia. Setelah itu tercapai, bagi kami sudah cukup. Tidak perlu lagi ada upaya mengejar-ngejar sertifikasi rekor,” katanya.   
 
rep: Muhammad Halwan     
0 Komentar