Tjokroaminoto : Lelaki Pertama yang Melukis Indonesia (2)

Kamis, 01 Desember 2016 - 12:43 WIB | Dilihat : 1249
Tjokroaminoto : Lelaki Pertama yang Melukis Indonesia (2) HOS Tjokroaminoto

Pada 1919, Sarekat Islam memiliki sekitar 2,5 juta pengikut dari seluruh Indonesia. Oleh umatnya Tjokro dianggap juru selamat. Dalam ramalan Jayabaya, ratu adil bergelar Prabu Heru Tjokro –nama yang mirip  Tjokroaminoto.

Di puncak popularitasnya Tjokroaminoto kerap dipanggil Heru Tjokro. Nama ini pernah pula disematkan pada Pangeran Diponegoro. Gelar lengkap Diponegoro adalah Sultan Abdul Hamid Herucakra Kabirul Mukminin Sayidin Panatagama Kalifatul Rasul Tanah Jawa.
 
Selain kemiripan nama, para pengikut Sarekat Islam mengaitkan ramalan Jayabaya dengan letusan Gunung Krakatau yang bertepatan dengan kelahiran Tjokroaminoto pada 1882. Bencana alam menurut Jayabaya menjadi pertanda hadirnya seorang messiah.
 
Haji Agoes Salim, pemimpin Sarekat Islam lainnya, memberikan kesaksian tentang Tjokroaminoto yang dielu-elukan pengikutnya. Dalam Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil? Karangan APE Korver, pada 1919 Agus Salim menceritakan suasana Kongres Sarekat Islam di Situbondo, Jawa Timur.
 
“Menjelang rapat, 20 ribu orang memadati alun-alun yang menjadi tempat pertemuan. Semula panitia membatasi peserta hanya 7000 orang pemegang kartu anggota organisasi. “Walaupun dilarang berjabat tangan dengan Tjokroaminoto, orang-orang tetap berdesakan. Mereka ingin melihat wajah sang pemimpin.”
 
Ribuan orang merengsek ke depan agar bisa memegang dan mencium tangan, bahu, dan jas Tjokroaminoto. 
 
Sulit bernafas karena didesak pendukungnya, Tjokroaminoto melompat ke kursi. Tapi pengikutnya malah 
 
memeluk kaki. Mereka yang tak menjangkau Tjokroaminoto beralih memegang orang dekat di sekitarnya.
 
Kerumunan itu tak peduli meskipun orang dekat Tjokroaminoto berteriak bahwa mereka bukan pemimpin Sarekat Islam. “Tidak apalah, Anda kan patihnya?”jawab orang-orang itu seperti diceritakan Agoes Salim. Sambutan serupa juga terjadi di daerah lain yang dikunjungi Tjokroaminoto.
 
Dikultuskan pendukungnya, Tjokroaminoto merasa tak nyaman. Dalam Kongres Sarekat Islam di Bandung 1916, Tjokroaminoto berpidato yang intinya menolak dianggap ratu adil. “Walaupun hati kita penuh dengan harapan dan hasrat yang agung, kita tidak boleh bermimpi akan datangnya seorang ratu adil atau keadaan-keadaan lain yang mustahil.”
 
Penolakan ini tak serta merta menghentikan kekaguman para pengikut Sarekat Islam. Rasa Takjub mereka makin menjadi-jadi saat tersiar kabar Tjokroaminoto bertemu dengan Nabi. Dalam buku HOS Tjokroaminoto: Hidup dan Perjuangannya karya Amelz pada 1952, diceritakan suatu hari Tjokroaminoto sakit keras hingga tak sadarkan diri. Tak ada tabib yang mampu mengobati.
 
Pada suatu malam, saat terbaring lemah, sekonyong-konyong Tjokroaminoto membaca bacaan Al Quran dengan fasih. Suaranya nyaring dengan intonasi antara keras dan lemah. Tak berapa lama kemudian ia duduk lalu memekik:
 
“Ada tamu, ada tamu.”
 
“Siapa?” seorang sahabatnya yang menunggunya bertanya.
 
“Rasulullah, Rasulullah.”
 
Tjokroaminoto pingsan. Kejadian yang sama terulang keesokan harinya. Ajaibnya penyakit Tjokroaminoto berangsur-angsur berkurang. Di sela-sela masa penyembuhan, dia meminta AM Sangadji, salah satu orang dekatnya, menuliskan pengalaman itu. Kepada Sangadji, dia mengatakan telah diberi pelajaran membaca beberapa ayat Al Quran oleh Rasulullah.
 
Tulisan Sangadji itu kemudian menjadi buku program asas (dasar) dan tandhim (sistem) Partai Sarekat Islam Indonesia. Buku setebal 99 halaman ini adalah penafsiran Tjokroaminoto terhadap ajaran Islam. Lewat tulisan ini dia berusaha menjawab dan mengatasi persoalan yang berkembang lewat pergerakan Sarekat Islam.
 
Tjokroaminoto sakit-sakitan sejak akhir 1933. Sesuai Kongres Banjarnegara, dia dinasehati para rekannya supaya beristirahat dan mengurangi aktivitas. Namun Tjokroaminoto tak mengindahkan. Pada Desember 1934 kesehatannya memburuk: dia lumpuh.
 
Senin Kliwon, 10 Ramadhan 1353H, atau 17 Desember 1934, Tjokroaminoto menghembuskan nafas terakhir di pangkuan aktivis Partai Sarekat, Resoramli. [HABIS]

Nuim Hidayat (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Kota Depok)
 
0 Komentar