Pemimpin Kafir Walaupun Jujur dan tidak Korupsi, tetap tidak Berkah

Kamis, 14 Januari 2016 - 20:40 WIB | Dilihat : 94088
 Pemimpin Kafir Walaupun Jujur dan tidak Korupsi, tetap tidak Berkah Rais Syuriah PWNU DKI Jakarta KH Maulana Kamal Yusuf


KH Maulana Kamal Yusuf
Ketua Syuriah PWNU DKI Jakarta
Warga masyarakat Jakarta resah dan galau dipimpin oleh seorang gubernur kafir Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang arogan, tidak beretika dan amburadul. Bahkan ditengarai Ahok terlibat kasus korupsi terkait pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras. Kepemimpinan gubernur Ahok akan berakhir sampai dengan tahun 2017. Provinsi DKI Jakarta akan mengikuti Pilkada serentak kedua pada 2017 nanti.
 
Masalahnya, Ahok sebagai incumbent diduga akan mengikuti dan maju lagi bertarung mempertahankan kedudukannya sebagai gubernur Jakarta. Ahok akan maju tidak melalui jalur partai politik, tapi akan maju melalui jalur idependen. Konon dalam persiapan Pilkada 2017, Ahok sudah mulai mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk penggalangan dukungan melalui tim “Teman Ahok”. Diperkirakan Ahok sudah berhasil mengumpulkan satu juta KTP sebagai prasyarat administrative Calon Gubernur.
Tentu warga Muslim Jakarta, utamanya para ustaz, habaib, dan ulama, merasa sangat khawatir sekali dengan tekad Ahok maju lagi sebagai gubernur untuk kedua kalinya. Maka, untuk mengahdang Ahok, para ulama, habaib, tokoh-tokoh Muslim Jakarta, berupaya menggalan daya dan upaya agar kedepan Jakarta tidak lagi dipimpin oleh gubernur kafir, tapi dipimpin oleh seorang gubernur Muslim yang handal.
Para ulama, ustaz, ulama dan tokoh-tokoh Islam Jakarta menggagas suatu Muzakarah untuk mempersatukan kekuatan umat Islam Jakarta, agar bersatu padu memenangkan pertarungan Pilkada Jakarta 2017 nanti. Muzakarah Ulama Untuk Gubernur Muslim itu sudah berlangsung tiga kali dan telah menghasilkan suatu Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah, yang nantinya bertugas untuk memilih dan menyeleksi serta memunculkan satu pasangan calon gubernur Muslim DKI Jakarta dalam pertarungan Pilkada 2017.
Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah dipimpin oleh Habib Rizieq Syihab, dengan salah satu anggotanya ulama khos Jakarta KH Maulana Kamal Yusuf, yang juga menjabat sebagai Rais Syuriah PWNU DKI Jakarta.
Untuk lebih menyosialisasikan urgensinya pemimpi Muslim di DKI Jakarta ini, terutama dalam rangka menyukseskan program pokok Muzakarah Ulama untuk memenangkan gubernur Muslim DKI Jakarta dalam pilkada 2017 nanti, Suara Islam mewawancara KH Maulana Kamal Yusuf. Berikut petikannya :

Bagaimana esensi pentingnya pemimpin Muslim bagi Umat Islam ?
Pertama kita bersyukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat iman dan Islam. Dengan kenikmatan inilah kita bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akherat. Bahkan di dalam prinsip kehidupan kaum muslimin, Nabi telah memberikan penjelasan dalam salah satu sabdanya : Sesungguhnya saya di utus untuk menyempurnakan kehidupan di dunia maupun di akherat. 
Berarti Nabi di utus untuk membawa kebahagiaan dunia dan akherat. Prinsip ini berbeda dengan prinsip-prinsip yang di luar Islam. Dalam Al-Baqarah  dijelaskan bahwa ada manusia, yaitu orang kafir itu yang hanya memilih kehidupan dunia semata. Mereka tidak meminta akherat, bahkan mereka tidak mempercayai kehidupan akherat.
Berarti orang kafir hanya memilih pemimpin itu hanya memburu kebahagiaan dunia saja. Ini yang menyebabkan bahwasanya memilih pemimpin kafir itu hanya urusan dunia saja, tak ada kaitannya dengan akherat. Bahkan mungkin mereka mencari kebahagiaan dunia  bukan dari Allah. Tetapi dari petunjuk-petunjuk syaitan,  berhala, dan orang-orang kafir lainnya.
Dalam Alquran dijelaskan, Allah memimpin orang-orang beriman mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya iman. Tapi bagi orang kafir, yang menolong mereka adalah toghut, yaitu para berhala, setan dan orang-orang kafir lainnya.
Prinsip kedua adalah waminhum robana atina fidunya hasanah wafil akhiroti hasanah, waqina adzabbannar. Bagi mereka kaum beriman yang berdoa Ya Allah berikan kami kehidupan dunia yang baik, kehidupan akherat yang baik dan hindarkan dari siksa api neraka.
Bagi orang beriman, selalu berharap kehidupan dunia mereka baik, harta mereka baik (hasanah). Orang beriman di ajarkan selalu semuanya dalam keadaan baik (hasanah). Otomatis kalau semua kehidupannya di dunia baik (hasanah) maka kehidupannya di akherat akan baik. Allah akan memberikan keridhoannya, memberikan nikmatnya. Dan orang beriman akan selalu memohon supaya dilindungi dari siksa api neraka..
Nah, itu dua prinsip yang bertentangan, bertolak belakang. Makanya kita sebagai orang Muslim, mengajak kepada semua orang Islam, kalau ingin bahagia dunia akherat, akhirilah memilih pemimpin kafir, pilihlah pemimpin yang muslim, mukmin yang berakhlaqul karimah.
Banyak ayat-ayat Alquran menegaskan larangan memilih pemimpin kafir, atau di luar Islam, karena nantinya akan menjadi suatu beban pertanyaan, pertanggungjawaban  di akherat kepada Allah. Ini isyarat Allah melarang memilih pemimpin kafir.

Sekarang berkembang wacana lebih baik memilih pemimpin kafir tapi jujur, baik dan tidak korupsi, ketimbang pemimpin Islam yang tidak jujur dan korupsi. Bagaimana pendapat pak kyai?
Kalau saya punya prinsip, jika kita dipimpin oleh orang kafir yang jujur, adil dan tidak korupsi, tidak membawa berkah. 
 
Jadi ada empat prinsip dalam kepemimpinan. Pertama, Pemimpin yang Muslim dan ahli dalam kepemimpinannya. Ini akan membawa keberhasilan dan keberkahan. Kedua, Pemimpin Muslim tapi kurang tidak ahli dalam kepemimpinannya. Ini akan berdampak tidak ada keberhasilan dalam kepemimpinannya, tapi keberkahan masih ada. Kalau bisa pemimpin yang begini jangan kita pilih. Ketiga, pemimpin kafir dan tidak ahli. Ini akan berakibat ketidakberhasilan dalam kepemimpinannya, dan bahkan kegagalan total, disertai ketidakberkahan. 
 
Pemimpin kafir tapi ahli. Ini akan membawa keberhasilan dalam kepemimpinannya, tapi tidak ada keberkahan dunia dan akherat. Bagi orang Islam, buat apa keberhasilan kalau tidak ada keberkahan. Tidak ada manfaatnya di akherat kelak. Tidak bisa mencapai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Nah sekarang bagi pemilih, kalau dia memilih seorang pemimpin karena duni, ini akan terkena ancaman Nabi dalam hadits shahih. Allah tidak akan melihat dia, tidak akan memberikan pahala, tidak akan memberikan ampunan, bahkan nanti akan disiksa dengan siksaan yang pedih.
Seorang Muslim harus memilih berdasarkan keimanan dan keikhlasan. Makanya nanti kalau ada calon pemimpin kafir yang memberi amplop, kan sering dalam pemilu istilah serangan fajar atau serangan subuh. Jangan dipilih. Ambil uangnya nggak apa-apa tapi jangan dipilih. Kalau dipilih nanti akan terkena ancaman tadi. Memilih pemimpin karena dunia.
 
Pak Kyai sebagai seorang ulama di Jakarta mempunya banyak jamaah bahkan murid-murid yang tergolong ustad dan dai-mubaligh. Tentu akan membawa dampak simultan-berantai jika bapak melakukan sosialisasi pentingnya memilih Gubernur Muslim dalam Pilkada 2017 nanti?.
Insya Allah saya akan usahakan. Dan dari sekarang saya sudah siapkan di majelis-majelis taklim yang saya bimbing, selalu saya member pengarahan untuk jangan memilih pemimpin kafir, dan harus berusaha keras memenangkan Gubernur Muslim. 
Kelihatannya sudah mulai berdampak positif. Jaaah pengajian saya banyak di, Jakarta Timur, Cimanggis, Cengkareng, Kebayoran Baru, Tanjung Priok. Kalau Jakarta Pusat memang daerah binaan saya dari sejak lama, termasuk pengajian setiap Selasa pagi ba’da subuh di daerah Sunda Kelapa, Guntur, itu jamaahnya ada sekitar 200 orang, kebanyakan para ustaz  dan ulama. Saya ngajar di situ bersama Ustaz Mahfud Asirun. Saya mengajarkan kitab Mizan dan Ihya Ulumuddin, Pak Mahfud Asirun mengajarkan kitab Bulughul Maram.
 
Bapak juga aktif di organisasi keagamaan ?
Ya, saya masih sebagai Rais Syuriah Pengurus Wilayah NU DKI Jakarta. Saya ini lebih dikenalnya karena keterlibatan saya mendukung kegiatan Ru’yatul Hilal di Cakung. Karena, kadang hasil ru’yatnya tidak sama dengan keputusan NU pusat maupun keputusan resmi pemerintah. Ru'yat Cakung itu saya percaya karena itu semua teman-teman saya yang sangat bisa dipercaya. Orang-orangnya memang ahli dalam ru’yat. Ru’yat Cakung itu sudah lama, dibuat guru saya sejak tahun 1950. 

Warga Jakarta kebanyakan Nahdhiyin. Tentang Kepemimpinan NU yang sekarang berada dibawah KH. Said Aqil Siraj yang cenderung liberal. Bagaimana pendapat bapak ?
Saya kira semua jamaah NU merasakan itu. Tapi beliau itu dipilih berdasarkan keputusan Munas. Dalam NU selama ini tradisinya tidak pernah ada kekerasan, tidak pernah gugat menggugat, dongkel mendongkel. Banyak orang NU yang tidak sepaham dan sependapat dengan Pak Aqil Siraj. Tapi  di dalam NU lebih dikembangkan sikap tasamuh, toleransi. Termasuk misalnya KH. Sholahuddin Wahid, Pak Hasyim Muzadi, dan lainnya.
Memang riskan dan berbahaya pemahaman liberal ini. Seringkali paham liberal mengalahkan atau mengabaikan Quran. Misalnya, kawin campur beda agama dibolehkan. Alasannya konteks jaman sekarang keadaan di Indonesia kan agama beragam. 
Padahal Quran jelas-jelas melarang kawin beda agama. Pemikiran liberal itu sudah tidak memperdulikan dalil-dali Alquran lagi. Pemikirannya bebas. Karenanya, di dalam NU ada kelompok yang menentang paham liberal, yaitu yang sering disebut NU Garis Lurus. 
Begitulah NU sekarang, sudah tidak seperti jamannya Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, pendiri NU yang ingin mengembangkan Islam kaffah, ahlus sunnah, tidak tercemari pemikiran-pemikiran baru seperti liberal, dan pemikiran sesat seperti Syiah. [BERSAMBUNG]
 
0 Komentar