Kajian Perdana Kyai Didin di Al Hijri II Bogor Bahas Tafsir Al Kahfi

13 Januari 19:56 | Dilihat : 438
Kajian Perdana Kyai Didin di Al Hijri II Bogor Bahas Tafsir Al Kahfi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Didin Hafidhuddin

Bogor (SI Online) - Kajian perdana materi tafsir Alquran bersama Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSi di Masjid Al Hijri II Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Sabtu (13/1) membahas surat Al Kahfi. Rujukan kitab tafsir yang digunakan adalah kitab Al Asas fi Tafsir dan Sofwatuttafasir.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu menjelaskan, di dalam surat Al Kahfi banyak berisi pelajaran tentang sejarah, yang pertama sejarah tentang Ashabul Kahfi. "Ini kisah para pemuda yang beriman kepada Allah, mereka rela melakukan apapun untuk mempertahankan akidah. Mereka juga tidak mau berkompromi dengan penguasa yang mengajak kufur kepada Allah. Lalu mereka lari ke gua dan ditidurkan oleh Allah dalam waktu yang lama," ujar Kyai Didin.

Menurutnya, kisah Ashabul Kahfi harus menjadi inspirasi bagi anak muda. "Generasi muda harus punya akidah dan idealis yang kuat serta rela berkorban untuk mempertahankan akidah. Idealisme dan ruhul jihad perlu dijaga dan dipertahankan karena agama ini perlu ruhul jihad," jelas Kyai Didin.

Oleh karena itu, pendidikan terhadap pemuda harus jadi perhatian. "Yahudi punya program untuk menghancurkan pemuda, mereka melakukan intervensi melalui kebudayaan, pergaulan bebas dan lainnya. Hasilnya, meski muslim tapi prilakunya tidak Islami, mereka kehilangan identitas, malu terhadap Islam," ungkap Kyai Didin.

Selain tentang Ashabul Kahfi, surat Al Kahfi juga menceritakan tentang kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. "Hikmah dari kisah keduanya itu tentang pentingnya adab. Dan memang masalah sekarang ini juga adalah semakin hilangnya adab. Padahal, sejak dahulu para ulama mendahulukan adab baru ilmu, jadi harus kita perbaiki metode pendidikan bagaimana mengajarkan adab yang baik," tuturnya.

"Di pesantren yang menjadi buku pertama umumnya adalah kitab adab, bagaimana menjadi murid dan guru yang baik. Adab perlu dibiasakan, tidak semata-mata tentang aspek pengetahuan. Dengan adab, seorang yang punya ilmu itu tidak boleh sombong," tambahnya.

Selanjutnya, lanjut Kyai Didin, di dalam surat Al Kahfi juga mengabarkan tentang kisah Raja Zulkarnain, seorang pemimpin yang adil. "Dia adalah pemimpin yang didambakan, karenanya kita harus melahirkan pemimpin seperti itu, yang adil dan bertanggung jawab. Dan keutamaan pemimpin adil akan mendapatkan naungan Allah di akhirat kelak" imbuhnya.

"Dahulu banyak orang tidak mau jadi pemimpin karena banyaknya kewajiban, tapi sekarang mengejar jabatan untuk materi bukan mengejar untuk melaksanakan kewajiban," tambahnya.

Usai penjelasan lima ayat pertama surat Al Kahfi, diantara jamaah ada yang bertanya dimana letak gua Al Kahfi dan bagaimana kisah selanjutnya. Kyai Didin tidak menjawab pertanyaan tersebut karena penjelasannya ada di ayat-ayat berikutnya. "Kenapa tidak dijelaskan sekarang, supaya kajian berikutnya bisa hadir kembali," tandas Kyai sambil tersenyum.

Majelis tafsir Alquran ini akan digelar kembali pekan depan Sabtu 20 Januari 2018 mulai pukul 15.30 Wib selepas shalat ashar berjamaah di tempat yang sama. Diharapkan, umat Islam khususnya warga Bogor yang belum berkesempatan hadir pada kajian pertama ini bisa ikut di jadwal berikutnya.

red: adhila

0 Komentar