#Pemimpin Baru Jakarta

Soal Ucapan Pribumi ARB Salahkan yang Plesetkan

19 Oktober 15:34 | Dilihat : 1364
Soal Ucapan Pribumi ARB Salahkan yang Plesetkan Aburizal Bakrie hadir saat perayaan kemenangan Anies-Sandi dalam Pilkada DKI 2017 putaran dua.

Jakarta (SI Online) - Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie menilai konteks pribumi yang diucapkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat menyampaikan pidato di Balai Kota Jakarta Senin malam lalu (16/10) tidak salah karena terkait konteks pada masa yang lampau.

"Saya pikir dia bicara soal pribumi pada masa yang lalu. Kenapa tidak?" kata ARB di Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis 19 Oktober 2017, seperti dikutip Viva.co.id.

Karena itu ARB lantas heran ada anggapan jika ucapan Anies saat pidato tersebut bermaksud untuk membelah masyarakat DKI Jakarta. "Kenapa mesti didikotomikan begitu, kenapa?" tanya dia. 

Menurut mantan Ketua Umum Partai Golkar ini, ucapan Anies itu menjadi ramai karena dipelintir oleh suatu pihak. Dia menegaskan konteks yang tengah dibicarakan Anies saat pidato itu terkait masa kemerdekaan dulu.

"Orang dia berbicara tentang pada waktu zaman kemerdekaan. Yang pelesetkan pada zaman sekarang tuh yang salah," kata ARB.

Berikut sebagian kutipan pidato Anies di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, usai dilantik menjadi Gubernur DKI, Senin 16 Oktober 2017 lalu.

Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telor, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang mengerami.

Kita yang bekerja keras untuk merebut kemerdekaan. Kita yang bekerja keras untuk mengusir kolonialisme. Kita semua harus merasakan manfaat kemerdekaan di ibu kota ini. Dan kita menginginkan Jakarta bisa menjadi layaknya sebuah arena aplikasi Pancasila.

Jakarta bukan hanya sekedar kota, dia adalah ibukota maka di kota ini Pancasila harus mengejawantah, Pancasila harus menjadi kenyataan. Setiap silanya harus terasa dalam keseharian. Dimulai dari hadirnya suasana ketuhanan di setiap sendi kehidupan ibukota. Indonesia bukanlah negara berdasarkan satu agama. Namun Indonesia juga bukan sebuah negara yang alergi agama apalagi anti agama. Ketuhanan selayaknya menjadi landasan kehidupan warga dan kehidupan bernegara sebagaimana sila pertama Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa. []

0 Komentar