Soal Senjata Impor Polri, Kapuspen: Luar Biasa, TNI Saja tidak Punya

10 Oktober 12:06 | Dilihat : 1512
Soal Senjata Impor Polri, Kapuspen: Luar Biasa, TNI Saja tidak Punya Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto. [foto: liputan6.com]

Jakarta (SI Online) - Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto mengungkapkan,  amunisi pesanan Polri yang diperuntukkan Brimob berdampak mematikan. 

Karena itu, kata Wuryanto, 5.932 butir peluru yang dibeli Polri untuk Arsenal Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40 x 46 milimeter itu sudah digeser ke Gudang amunisi Mabes TNI dari Bandara Soekarno-Hatta.

"Sesuai katalog ada 5.932 butir dalam 71 koli, itu disertai dengan katalog. Di situ sangat jelas dalam katalog itu bahwa amunisi itu adalah amunisi tajam, mempunyai radius mematikan 9 meter dan jarak capai 400 meter," kata Wiryanto di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Selasa (10/10). 

Wuryanto memaparkan keistimewaan amunisi ini. Menurut Wuryanto, saat ditembakkan, amunisi tersebut akan dua kali meledak. Ledakan kedua akan melontarkan pecahan tubuh granat berupa logam kecil yang melukai dan mematikan sasaran tembak.

Selain itu, jenis granat yang dibeli Polri juga bisa meledak sendiri tanpa benturan setelah 14-19 detik lepas dari laras. "Ini luar biasa. TNI tidak punya senjata dengan kemampuan jenis itu," tegas dia. 

Wuryanto mengatakan, TNI hanya menegakan aturan yang berlaku. Mengenai penyimpanan oleh TNI, menurut Wuryanto, TNI hanya mengantisipasi potensi ancaman keamanan.

"Amunisi seperti ini ditujukan untuk menghancurkan perkubuan. TNI bertanggung jawab selama penyimpinan. Pasti aman, karena kami punya standar keamanan," kata Wuryanto.

Wuryanto jga menegaskan pernyataannya tersebut hanya melanjutkan pernyataan Divhumas Polri maupun Menko Polhukam Wiranto. Sebelumnya Divhumas Polri menyebut amunisi itu hanya berdampak kejut dan Wiranto mengklarifikasi itu termasuk peluru tajam.

"Saya ingin melanjutkan apa yang sudah dijelaskan Divhumas Polri 6 Oktober dan setelah penjelasan Menkopolhukam. Jadi ini supaya diketahui, inilah penjelasan kelanjutan," katanya menambahkan.

sumber: Republika, Kompas. 

0 Komentar