Tim Pengacara: Perkara Alfian Tanjung Ditangani Seperti Kejahatan Luar Biasa

12 September 09:18 | Dilihat : 1163
Tim Pengacara: Perkara Alfian Tanjung Ditangani Seperti Kejahatan Luar Biasa Koordinator Media Center TAAT, Abdullah Al Katiri (tengah). [foto: mataindonesia.id]

Jakarta (SI Online) - Tim Advokasi Alfian Tanjung (TAAT) menilai penanganan perkara pengamat Komunisme Alfian Tanjung oleh Kepolisia sejajar dengan perkara extra ordinary crime atau kejahatan luar biasa seperti terorisme, korupsi dan perdagangan manusia. 

Setidaknya ada tiga peristiwa yang menjadikan kesimpulan tersebut. Pertama, Alfian ditangkap secara tiba-tiba dan secara paksa sebelum dia keluar dari gerbang Rutan Medaeng Sidoarjo dengan puluhan aparat kepolisian Polda Jawa Timur bersenjata lengkap. Hal itu berdasar permintaan bantuan penangkapan dari Polda Metro Jaya terkait kasus UU ITE tentang twitnya yang dilaporkan oleh  PDIP selaku organisasi bukan perorangan (pada tanggal 24/1/2017)". 

"Padahal Usataz Alfian masih berada di teras ruang tunggu Rutan dan belum keluar pintu gerbang rutan, seharusnya secara etika dan adab manusia Ustaz Alfian harus benar-benar meninggalkan lingkungan Rutan Medaeng mendapatkan hak asasinya sebagai manusia untuk bebas dari tahanan sebagai amar putusan Majelis Hakim PN Surabaya," ungkap Koordinator Media Center TAAT, Abdullah Al Katiri, dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (12/09/2017). 

Peristiwa kedua, lanjut Al Katiri, selama Alfian ditahan di Mako Brimob ia tidak dapat ditemui oleh kuasa hukumnya dengan larangan-larangan yang tidak jelas. Hal ini dinilainya melanggar hak asasi manusia Alfian.

"Alfian telah ditetapkan sebagai tersangka dan karenanya ia berhak mengubungi dan ditemui Kuasa Hukum dan atau keluarganya sebagaimana diatur dalam Pasal 60, 61, 69, 70 (1) KUHAP," terangnya. 

Adapun peristiwa ketiga, beber Al Katiri, seminggu sebelum kliennya diputus bebas pada 28 Agustus 2017,  Polda Metro Jaya telah mengeluarkan surat perintah penyidikan bernomor: SP.Sidik/1892/VIII/2017/Ditreskrimum terkait kasus pencemaran nama baik dengan pelapor Ifdhal Kasim, S.H.

Al Katiri mengungkapkan, Alfian memang sedang menghadapi dua kasus. Pertama kasus mengenai twitnya yang di laporkan oleh PDIP dan statusnya sudah tersangka serta ditahan di Mako Brimob. Kedua, kasus ceramah di Masjid Sa'id Naum dengan pelapor Ifdhal Kasim, statusnya masih sebagai saksi.

"Berdasar banyaknya kejanggalan dan pelanggaran KUHAP tersebut kami selaku Tim Advokasi telah dan akan melakukan berbagai upaya ekstra litigasi untuk menghentikan kriminalisasi terhadap para Ulama khususnya Ustaz Alfian ini," kata Al Katiri. 

Al Katiri mempertanyakan, mengapa Polisi sangat gigih menahan orang hanya karena kasus sederhana dan sepele yang ancaman hukumannya di bawah lima tahun tapi ditahan di Mako Brimob. 

"Ini menunjukkan sikap polisi yang berseberangan dengan hati nurani masyarakat, tidak mengindahkan asas praduga tak bersalah," ungkapnya. 

Lebih lanjut Al Katiri juga mempertanyakan, status seseorang sebagai tersangka bukan berarti membuktikan ia bersalah, karenanya ia hanya disangka tapi mengapa Polisi memperlakukan Alfian tidak proporsional sebagaimana Polisi menangani kasus Ahok lalu. 

"Kami Tim Hukum TAAT tidak akan tinggal diam dan kami yakin siapapun penegak hukum yang dengan atau tanpa sengaja melakukan penyelewengan, penyimpangan hukum, penyalahgunaan kekuasaan akan mendapatkan karmanya di dunia dan akhirat, Allah Maha Melihat dan mengetahui rencana-rencana mereka," pungkasnya. 

red: A Syakira

0 Komentar