Sejumlah Tokoh Hadiri Silaturahim dan Dialog Politik di Bogor

19 Agustus 18:10 | Dilihat : 1193
Sejumlah Tokoh Hadiri Silaturahim dan Dialog Politik di Bogor Sejumlah tokoh politik duduk bersama dalam acara silaturahim dan dialog politik di Bogor

Bogor (SI Online) - Sejumlah tokoh politik duduk bersama dalam acara silaturahim dan dialog politik di Hotel Grand Savero, Kota Bogor, Sabtu (19/8/2017).

Acara yang digagas oleh Bogor Political Club itu menghadirkan sejumlah pakar politik dan politisi diantaranya Bima Arya Sugiarto selaku Wali kota Bogor, Anggota DPR dari Fraksi Demokrat Sjarifuddin Hasan, Anggota DPR dari FPKS Habib Aboe Bakar Al Habsyi, Wakil Wali kota Bogor Usmar Hariman, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor Ade Munawaroh Yasin, Anggota DPRD Kota Bogor Djajat Sudrajat dan Balon Walikota Bogor Mohammad Nur Sukma. Dialog tersebut dipandu oleh seorang presenter ternama, Helmi Yahya dan Pakar Komunikasi Politik, Effendi Ghazali.

Acara silaturahmi dan dialog politik itu sendiri mengusung tema 'Mengembalikan Demokrasi Kerakyatan, Tanpa Money Politics, Mungkinkah?'.

Wali Kota Bogor Bima Arya dalam sambutannya menjelaskan bagaimana persiapan seorang calon pemimpin. Menurutnya, calon pemimpin yang paling penting harus memiliki ideologi yang jelas. "Tanpa ideologi, calon pemimpin tidak punya pegangan. Ideologi juga sebagai pembeda dan penuntun program si calon pemimpin tersebut," ujarnya.

Selanjutnya, calon pemimpin juga harus memiliki strategi. Kata Bima, meski berideologi yang bagus tetapi tidak memiliki strategi yang jitu itu akan sulit bersaing. "Selain itu politik tanpa logistik itu juga mustahil, pertanyaannya berapa besar logistiknya, itu tergantung strateginya. Belum tentu dana besar bisa memenangkan pemilihan, karenanya dengan strategi itu bisa menekan biaya logistik," jelasnya.

Pembicara lainnya, Habib Aboe Bakar Al Habsyi menjelaskan bahwa cost politic dan money politic itu sesuatu yang berbeda. "Cost politic itu tidak bisa dihindari karena semua butuh biaya, sementara money politic adalah suap, yaitu imbalan untuk mempengaruhi pemilihan," jelasnya.

Menurutnya, sangat mungkin memenangkan pilkada tanpa adanya money politic, contohnya di Pilkada DKI kemarin. "Di DKI ada banjir sembako dan sapi tetapi itu tidak menentukan. Jadi money politic adalah jalan pintas untuk berusaha meraih suara," tuturnya.

Sementara itu, Ade Yasin mengungkapkan data sebuah survei dimana praktek money politic di Indonesia masih tinggi, angkanya diatas 50%. Karena itu, ia mengajak para tokoh masyarakat untuk bisa berpartisipasi mengatasi hal ini. "Para ulama dan ustazah di majelis-majelis taklim bisa dilibatkan mengedukasi masyarakat untuk menghindari money politic," imbuhnya.

Bakal calon Wali Kota Bogor Mohammad Nur Sukma berpendapat bahwa proses sebuah kepemimpinan harus diawali dengan niat dan cara yang baik, dan itu harus beriringan. "Niat yang baik harus disertai cara yang baik, ibarat rumus matemarika positif bertemu positif maka hasilnya akan positif pula," jelasnya.

Terkait pertanyaan, mungkinkah memenangi pemilihan tanpa money politic, Sukma menegaskan bahwa itu sangat mungkin. "Pilkada DKI kemarin menunjukkan bahwa uang bukan segala-galanya," ungkapnya.

Bogor Political Club merupakan dialog politik kesekian kalinya di Kota Bogor. Menurut Ketua Pelaksana Kegiatan, Devia Sherly, tujuan acara ini tidak lain adalah agar terciptanya penyelenggaraan pemilu yang baik dan berkualitas.

Selain itu, kata Sherly, dengan diadakannya dialog politik tersebut diharapkan dapat memicu para calon pemimpin untuk mempunyai cara dalam memasarkan diri dan meraih dukungan publik secara sehat.

red: adhila

0 Komentar