Hadiri Acara Kemenag, MUI Paparkan Peranannya dalam Melindungi Akidah

11 Agustus 15:47 | Dilihat : 477
Hadiri Acara Kemenag, MUI Paparkan Peranannya dalam Melindungi Akidah Waketum MUI Zainut Tauhid (paling kiri) saat memaparkan peranan MUI dalam melindungi akidah umat di acara Kemenag di Jakarta

Jakarta (SI Online) - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid hadir dalam diskusi "Penguatan Fungsi Agama dalam Pembangunan Nasional" yang digelar oleh Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI di Jakarta, Jumat (11/8/2017).

Dalam kesempatan itu, Zainut menyampaikan peranan MUI dalam menjaga agama khususnya dari aliran menyimpang. 

"Melindungi akidah itu sangat penting karena aliran sesat selalu muncul, untuk itu MUI selalu memberikan jawaban semua problema penyesatan akidah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengeluarkan fatwa terkait masalah tersebut," ujar Zainut.

Ia mengungkapkan bahwa aliran sesat di Indonesia itu banyak yang aneh. "Ada yang mengaku jadi malaikat, ada yang mengaku jadi nabi dan seterusnya. Akhirnya MUI mengeluarkan fatwa lalu di proses oleh kepolisian," ungkap Zainut.

"Jadi satu-satunya polisi yang bisa menangkap 'malaikat' ya polisi Indonesia," candanya.

Beberapa waktu yang lalu, lanjut Zainut, ada aliran bisa menggandakan uang, bahkan pengikutnya ada yang profesor. "Kalau menggandakan uang saja banyak pengikutnya apalagi bisa menggandakan istri, wah bisa lebih banyak lagi pengikutnya," candanya kembali.

MUI sebelumnya sudah mengeluarkan 10 kriteria aliran sesat, yang isinya antara lain:

1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang 6.
2. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Alquran dan sunnah.
3. Meyakini turunnya wahyu setelah al-Quran.
4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi al-Quran.
5. Melakukan penafsiran al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.
6. Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam.
7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.
8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.
9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah, seperti haji tidak ke baitullah, salat wajib tidak 5 waktu.
10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.

Menurut Zainut, MUI memutuskan suatu kelompok tergolong sesat atau tidak itu melalui proses penelitian. "Kami menyesatkan suatu kelompok itu dengan proses penelitian mendalam sampai ada bukti yang kuat sehingga bisa diputuskan," tandasnya.

red: adhila

0 Komentar