Angka Perceraian dan KDRT Meningkat, Kemenag Intensifkan Pendidikan Pra Nikah

11 Agustus 14:16 | Dilihat : 354
Angka Perceraian dan KDRT Meningkat, Kemenag Intensifkan Pendidikan Pra Nikah Menag Lukman Hakim Saifudin didampingi Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin saat jumpa pers di Jakarta

Jakarta (SI Online) - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai saat ini angka perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Indonesia terus naik karena kurangnya pemahaman makna dari sebuah pernikahan. Hal tersebut, ia sampaikan saat jumpa pers usai membuka acara Rapat Koordinasi Penguatan Fungsi Agama dalam Pembangunan Nasional di Jakarta, Jumat (11/8/2017).

Meningkatnya angka perceraian, menurut Menag, karena sebagian generasi muda bangsa saat ini cenderung menganggap bahwa pernikahan itu sesuatu yang biasa-biasa saja.

“Seperti kita transaksi jual beli di pasar gitu, kalau kita suka cocok harganya, oke, kita transaksi, nanti kalau misalnya suatu saat bosen, enggak suka, ya sudah, berpisah, ganti yang lain,” kata Lukman mengibaratkan.

Dengan gambaran seperti itu, lanjut dia, maka pernikahan kehilangan sakralitas. "Padahal, semua agama apalagi Islam jelas mengatakan pernikahan adalah peristiwa suci dan peristiwa sakral, yang harus betul-betul dimaknai dengan baik, sehingga harus tetap terjaga selamanya," jelasnya.

Oleh karenanya, untuk mengatasi hal tersebut, Kemenag melalui Dirjen Bimas Islam perlu menyegarkan kembali program lamanya yaitu pendidikan pra-nikah. Hal itu agar setiap pemuda-pemudi yang akan melangsungkan pernikahan, setidak-tidaknya sudah melalui fase pendidikan singkat, untuk memperdalam dan memperluas wawasannya soal pernikahan.

“(Yaitu) tentang apa itu keluarga, apa itu reproduksi sehat, misalnya, apa itu anak, bagaimana cara mendidik anak, dan seterusnya,” ungkap Lukman. 

Ia menambahkan, dengan program pendidikan pra nikah, Kemenag terus memperkuat Badan Penasihatan, Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (Bp4)

Lebih jauh, idealnya sekaligus ini yang diharapkan Kemenag, mereka yang mau menikah nantinya setidak-tidaknya sudah memiliki sertifikat, atau bukti bahwa mereka telah mengikuti pendidikan pra nikah tersebut.

red: adhila

0 Komentar