Bela Jokowi Terkait Tudingan Diktator, Ketum GP Ansor: Diktator dari Mana?

10 Agustus 20:25 | Dilihat : 2016
Bela Jokowi Terkait Tudingan Diktator, Ketum GP Ansor: Diktator dari Mana? Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas [foto: poskotanews.com]

Solo (SI Online) - Gerakan Pemuda Ansor mengaku memiliki komitmen untuk melindungi pemerintah dari kelompok anti-NKRI agar kelompok tersebut tidak makin berkembang di Indonesia.

"Mengenai ada yang mengatakan Presiden diktator, diktator dari mana, justru Presiden sedang melindungi negara ini," kata Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas pada acara "Kongkow Bareng Yus Yaqut" di Hotel Sahid Jaya Solo, Jateng, Kamis (10/08/2017), seperti dilansir ANTARA. 

Menurut politisi PKB itu, orang yang mengatakan diktator perlu ditanya orang mana, bagaimana pandangannya mengenai ke-Indonesiaan.

Terkait terbitnya peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu) mengenai organisasi kemasyarakatan, Yaqut mengklaim hal tersebut merupakan langkah yang tepat dilakukan oleh Presiden sebagai kepala negara. 

Ia mengatakan saat ini ada tiga hal yang menjadi cobaan Indonesia, yaitu Perppu nomor 2 tahun 2017 tentang organisasi kemasyarakatan yang disambut pro dan kontra dari masyarakat. Menurut dia, Perppu tersebut merupakan ikhtiar dari pemerintah untuk melidungi Indonesia dari kelompok anti-NKRI. 

"Pada dasarnya NKRI tidak boleh diubah lagi. Pancasila tidak bisa diganggu dengan ideologi lain. Sekarang baru HTI, masih banyak ormas lain," klaim dia. 

Selanjutnya, kata Yaqut, yang menjadi ujian bagi Bangsa Indonesia pada saat ini adalah adanya klaim keagamaan. Menurut dia, pada saat ini jika ada pihak yang menghina pemimpin kelompok tertentu, maka pengikut dari kelompok tersebut menuntut pihak yang dianggap menghina untuk meminta maaf kepada umat Islam.

"Pola pikir mereka kalau ada kelompok yang tidak seperti mereka maka dianggap tidak Islam atau kafir. Kelompok inilah yang berikutnya harus dibubarkan," katanya.

Ketiga, mengenai keberadaan kelompok mayoritas yang lebih memilih diam daripada bersuara keras.  Terkait hal itu, pihaknya berharap agar masyarakat mulai ikut bersuara untuk mencegah berkembangnya kelompok anti-NKRI di Indonesia.

sumber: ANTARA

0 Komentar