#Kriminalisasi Habib Rizieq

Penyidikan tanpa Proses Hukum Acara yang Benar termasuk Abuse of Power

16 Juni 21:00 | Dilihat : 931
 Penyidikan tanpa Proses Hukum Acara yang Benar termasuk Abuse of Power Para Narasumber dalam diskusi Silaturahim dan Konsolidasi Nasional GNPF-MUI di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Jumat petang (16/06/2017). 

Jakarta (SI Online) - Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Indonesia Prof Dr Yusril Ihza Mahendra mengatakan, cara-cara penyidik dalam melakukan proses hukum acara yang benar dapat disebut sebagai abuse of power (penyalahgunaan wewenang). 

Pandangan Yusril ini disampaikan dalam forum diskusi Silaturahim dan Konsolidasi Nasional GNPF-MUI di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Jumat petang (16/06/2017). 

"Iya, bisa begitu," kata Yusril saat ditanya usai dia menyatakan bahwa telepon seluler (ponsel) yang disita polisi dalam kasus chating Habib Rizieq Syihab adalah tidak sah. 

Sebelumnya mantan Menteri Kehakiman dan HAM ini menjelaskan, alat bukti hasil curian, termasuk sadapan, tidak bisa dijadikan sebagai alat bukti kecuali untuk kasus tertentu seperti narkotika, korupsi dan terorisme. Itupun terkait kewenangan penyadapan sudah diatur oleh Undang-undang. 

"Chating ini tidak masuk dalam kasus tertentu yang dibolehkan jadi bukti," tandas Yusril yang juga Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) ini. 

Sebelumnya pendapat senada juga disampaikan dosen Hukum Pidana FH-UI, Akhiar Salmi. Menurut Akhiar alat bukti itu haruslah dari sumbernya (yaitu ponsel Firza Husein/FH), tidak sah kalau tidak dari sumbernya. 

"Kalau akan dipindahkan (ke tempat lain) konten handphonenya, maka harus ada Berita Acara pemindahan konten handphone tersebut," ungkapnya. 

Padahal, terkait ponsel FH ini, sebagaimana disampaikan pengacaranya, Azis Yanuar, selama sekitar sepuluh kali BAP kasus pornografi, klien dia tidak pernah ditunjukkan konten pornografi itu dari ponselnya, melainkan ditunjukkan via slide yang katanya diambil dari ponselnya FH. 

"Ketika menunjukkan barang bukti ponsel, senantiasa posisi ponsel dalam keadaan mati," tandasnya. 

Pakar telematika lulusan ITB Bandung, Hermansyah, menambahkan data lemahnya alat bukti yang dikantungi penyidik. Terkait percakapan melalui aplikasi WhatsApp, Hermansyah mengatakan sebelum Februari 2017, konten WA masih bisa di-intercept (dipotong) oleh orang lain tanpa diketahui pemilik akun WA itu sendiri melalui aplikasi tertentu. Sehingga seolah-olah yang sedang chating tersebut adalah pemilik akun yang asli. 

Sementara bukti chat ydng dimiliki penyidik adalah percakapan sebelum Februari 2017. "Sebelum aksi 411, no ponsel HRS dikenal oleh siapapun, banyak orang. Ya termasuk FH," kata dia. 

red: shodiq ramadhan

0 Komentar