Mantan Mendagri: Politik di Indonesia Selalu Diwarnai Semangat Agama

18 Mei 07:00 | Dilihat : 725
Mantan Mendagri: Politik di Indonesia Selalu Diwarnai Semangat Agama Diskusi politik bertema “Menyongsong Kebangkitan Umat Islam Jawa Barat” di Aula ICMI Jabar, Jl.Cikutra Kota Bandung, Selasa (16/5/2017).  

Bandung (SI Online) - Konstelasi politik di DKI Jakarta khususnya menjelang maupun setelah Pilgub diprediksi masih akan berpengaruh ke berbagai daerah di Indonesia saat pilkada serentak tahun depan. Demikian juga kondisi dan situasi politik di Jawa Barat yang secara geografis berdekatan dengan Jakarta.
 
Demikian disampaikan Mantan Mendagri Syarwan Hamid saat menjadi narasumber dalam diskusi politik yang bertema “Menyongsong Kebangkitan Umat Islam Jawa Barat” di Aula ICMI Jabar, Jl.Cikutra Kota Bandung, Selasa (16/5/2017).
 
Syarwan menambahkan dalam catatan sejarah Indonesia hubungan antara politik dan agama selalu mewarnai dalam setiap kebijakan dan tidak dapat dipisahkan. Politik dan agama, sambung Syarwan, sudah menjadi kultur bagi bangsa Indonesia yang majemuk dan berbhineka ini.
 
“Umat Islam sebagai mayoritas penduduk di Indonesia ini maka wajar jika suasana politik sedikit banyak diwarnai dengan semangat dan isu keagamaan dan itu sah dalam hidup berdemokrasi. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di berbagai Negara baik Eropa maupun Amerika yang non muslim,”imbuhnya.
 
Sementara itu pengamat politik dari Unpar, Asep Warlan Yusuf mengingatkan jika ummat Islam ingin mewarnai perpolitikan di Indonesia baik semangat maupun isunya maka harus bermain cantik. Sebab menurut Asep Warlan meski jumlah mayoritas muslim namun dalam catatan sejarah juga gerakan atau semangat umat Islam di Indonesia masih dianggap sebagai gerakan illegal.
 
“Ini bisa dilihat dan rasakan sejak zaman penjajahan, orde lama, orde baru, orde reformasi bahkan hingga saat ini setiap gerakan umat Islam masih dianggap gerakan illegal bahkan tak jarang dicap sebagai gerakan makar seperti yang dialami Al Khathatath belum lama ini,”ungkapnya.
 
Asep Warlan menambahkan bahwa sejatinya gerakan kebangkitan baik berlatarbelakang agama, suku maupun kelompok adalah sebuah keniscayaan dalam melawan setiap ketidakadilan dalam masyarakat.

Menurutnya setidaknya ada beberapa hal yang membuat masyarakat termasuk ummat Islam untuk bangkit seperti tidak adanya rasa keadilan dalam hukum, kesenjangan sosial dan ekonomi, dominasi asing serta terjadinya dekadensi moral dan etika.
 
“Selama hal-hal seperti ini ada dalam masyarakat maka dimana pun itu berada bukan hanya di Indonesia pasti akan ada perlawanan. Hal ini juga terjadi di Eropa, Amerika Latin, Afrika bahkan Timur Tengah sekali pun,”imbuhnya.
 
Sementara terkait dengan kebangkitan Ummat Islam Jawa Barat khususnya dalam menghadapi konstelasi politik menjelang dan sesudah Pilgub mendatang, Asep Warlan menyarankan agar tetap bermain cantik dan dikelola secara cermat. Sebab, sambung Asep Warlan, jika tidak maka akan menjadi bumerang dan hasilnya justru kontra produktif.
 
“Hemat saya agar kebangkitan itu berbuah manis maka setidaknya ada tiga langkah yang harus dilakukan. Pertama, bangun kesadaran  pentingnya umat Islam ambil peranan dalam politik. Kedua, perkuat komunikasi dan bersinergi dengan berbagai elemen,” sarannya.
 
Sementara yang ketiga, Asep Warlan menyarankan agar ummat Islam melakukan pembagian tugas dan saling menguatkan. Sebab menurutnya tugas yang demikian berat namun mulia tersebut tidak mungkin dikerjakan atau dibebankan hanya kepada sekelompok orang atau ormas saja.

rep: Suwandi
red: shodiq ramadhan

0 Komentar