#Mega Skandal Korupsi e-KTP

Beri Keterangan Palsu, Jaksa KPK Minta Pj Gadis Ahok Ditahan

30 Maret 18:19 | Dilihat : 6437
Beri Keterangan Palsu, Jaksa KPK Minta Pj Gadis Ahok Ditahan Ilustrasi: Miryam S Haryani (kelima dari kanan, berkaca mata) bersama Ahok dan Gadis Ahok.

Jakarta (SI Online) - Jaksa Penuntut Umum KPK meminta agar mantan anggota DPR dari Fraksi Partai Hanura Miryam S Haryani ditahan karena memberikan keterangan palsu.

"Berdasarkan pasal 174 KUHAP, kami minta yang mulia menerapkan Miryam untuk ditetapkan sebagai saksi yang memberikan keterangan palsu dan dilakukan penahanan kepada yang bersangkutan," kata Ketua Tim JPU KPK Irene Putri dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (30/3/2017), seperti dikutip Antaranews.com. 

Diketahui, selain sebagai anggota DPR, Miryam adalah Penanggung jawab Gadis Ahok (Gerakan Aksi Srikandi Coblos  Ahok). Pendiri Srikandi Hanura ini menjadi anggota DPR dari Dapil Jawa Barat VIII. 

Miryam pada hari ini menjadi saksi untuk kasus tindak pidana korupsi pengadaan pekerjaan KTP elektronik (KTP-E), namun ia mencabut semua Berita Acara Pemeriksaan (BAP) karena mengaku ditekan penyidik KPK saat diperiksa sebagai saksi di KPK.

Atas permintaan JPU KPK itu, majelis hakim meminta agar pemeriksaan saksi dilanjutkan lebih dulu.

"Majelis berpendapat mengenai apa yang disampaikan tadi, kami memandang perlu lebih lanjut kita dengar keterangan saksi-saksi lain sehingga tidak berhenti menempuh proses hukum saat ini," kata Ketua Majelis Hakim Jhon Halasan Butarbutar.

Dalam sidang, Miryam mencabut BAP dan membantah menerima uang dari terdakwa Sugihartao. "Saya tidak pernah menerima uang," kata Miryam.

Atas keterangan itu, Sugiharto pun membantahnya. "Bahwa saksi ini telah menerima 4 kali pemberian dari saya, uang yang pertama Rp1 miliar, kedua 500 ribu dolar AS, 100 ribu dolar AS, keempat, Rp5 miliar jadi ditotal 1,2 juta dolar AS," kata Sugiharto.

Dalam dakwaan disebutkan bahwa Miryam mendapat uang dari Sugiharto dan membagikan kepada empat orang pimpinan komisi II DPR Chaeruman, Ganjar, Teguh, Taufik Effendi masing-masing 25 ribu dolar AS, 9 kapoksi masing-masing 14 ribu dolar AS termasuk ketua kelompok fraksi (kapoksi) merangkap pimpinan komisi, 50 anggota Komisi II DPR masing-masing 8 ribu dolar AS termasuk pimpinan komisi dan Kapoksi.

Terdakwa dalam kasus ini adalah mantan Direktur Jendera Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) pada Dukcapil Kemendagri Sugiharto.

Selain keduanya, KPK juga baru menetapkan Andi Agustinus alias Andi Narogong sebagai tersangka kasus yang mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp2,314 triliun dari total anggaran Rp5,95 triliun.

red: farah abdillah
sumber: Antaranews.com

0 Komentar