#Ahok Terdakwa

Ahli Pidana MUI: Tiga Unsur Penodaan Agama oleh Ahok

28 Februari 21:44 | Dilihat : 1994
 Ahli Pidana MUI: Tiga Unsur Penodaan Agama oleh Ahok Ahli hukum pidana dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr H Abdul Chair Ramadhan. [foto: gontornews]

Jakarta (SI Online) - Pada sidang ke-12 kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok, Jaksa Penuntut Umum menghadirkan dua orang saksi ahli. Pertama saksi ahli agama Islam Habib M Rizieq Syihab dan kedua, ahli hukum pidana MUI Dr H Abdul Choir Ramadhan. 

Dalam kesaksiannya, Ahli hukum pidana dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr H Abdul Chair Ramadhan menyatakan terdapat tiga unsur dalam pidato Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu yang termasuk penodaan terhadap agama. 
 
"Pertama, kata "dibohongi pakai Al-Maidah" yang merupakan bentuk perbuatan melawan hukum dalam hal masuk kepada Pasal 156a huruf a karena dibohongi pakai Al Maidah. Al Maidah itu bagian dari Alquran dan Al Maidah itu adalah sumber kebenaran," kata Abdul Choir saat memberikan keterangan dalam lanjutan sidang Ahok di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (28/02/2017) seperti dikutip Antara
 
Menurut dia, dengan adanya ucapan "dibohongi pakai Al Maidah" berarti ada kebohongan di dalam kewajiban memilih pemimpin Muslim sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Maidah.
 
"Kedua soal ucapan "takut masuk neraka". Berarti yang bersangkutan ingin mengatakan juga bahwa tidak ada ancaman masuk neraka. Sehingga ini bukan saja penodaan terhadap Al Maidah 51 tetapi juga penodaan terhadap rukun iman tentang adanya surga dan neraka," tutur doktor lulusan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto itu. 
 
Ketiga, kata dia, terkait ucapan "jangan percaya sama orang".
 
Jadi "jangan percaya sama orang". Orang ini bersifat umum. Orang yang dimaksudkan di sini bisa termasuk antara lain umat umat Islam secara umum, bisa lawan politik, bisa alim ulama atau ustadz. Tetapi dalam rumusan delik," jangan percaya sama orang" berarti di sini ada kebencian terhadap orang, ujarnya.
 
Menurut anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat ini, dikarenakan ada kata kata "dibohongi pakai Al Maidah" orang yang dimaksud sudah pasti pemuka agama dalam hal ini alim ulama, bahkan juga termasuk seluruh umat Islam.
 
"Nah kalau berbicara kebencian terhadap orang bukan terhadap agama, kebenciannya lebih masuk terhadap Pasal 156 KUHP karena ditujukan golongan tertuduh Tetapi karena ada kata kata "dibohongi pakai Al Maidah" orang yang dimaksud sudah pasti pemuka agama dalam hal ini alim ulama bahkan juga termasuk juga seluruh umat Islam," katanya.
 
Dalam sidang Ahok ke-12 pada Selasa (28/2), Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan dua ahli, yakni Imam Besar Front Pembela Islan (FPI) Rizieq Shihab dan Abdul Chair Ramadhan sebagai ahli hukum pidana Majelis Ulama Indonesia (MUI).
 
Namun, dua ahli yang dipanggil itu ditolak oleh tim kuasa hukum Ahok. Meskipun mendapat penolakan, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara tetap memutuskan dua ahli itu untuk memberikan  keterangannya dalam persidangan.
 
"Tadi ada dua ahli, ahli agama dan pidana. Yang pertama ahli agama sudah jelas, diperiksa sebagai ahli agama ceritanya masalah Pilkada, kesengajaan, dan masalah perencanaan. Jadi sudah melampaui apa yang diberikan oleh seorang ahli. Yang kedua ahli pidana sama juga sudah dijelaskan karena terdapat "conflict of interest"," kata Teguh Samudra, anggota tim kuasa hukum Ahok.
 
Pada sidang-sidang sebelumnya, tim kuasa hukum Ahok selalu menolak atas kehadiran baik saksi maupun ahli dari MUI yang dihadirkan JPU sehingga mereka enggan bertanya kepada saksi atau ahli itu dalam persidangan.
 
red: shodiq ramadhan
0 Komentar