Inilah Kronologi Pelarangan Jilbab di SMAN 2 Denpasar

Kamis, 09 Januari 2014 - 15:11 WIB | Dilihat : 19934
Inilah Kronologi Pelarangan Jilbab di SMAN 2 Denpasar Anita Whardani (berkerudung) bersama teman-temannya yang beragama Hindu (foto: Helmi)

Jakarta (SI Online) - Kasus pelarangan menggunakan jilbab (baca : kerudung) di SMAN 2 Denpasar, Bali, sebenarnya terjadi sejak lama. Sejak Anita Whardani, gadis muslimah Bali kelahiran 4 April 1996, masuk ke sekolah tersebut pada 2011 lalu. Hampir selama tiga tahun perjuangan untuk mengenakan jilbab dilakukan Anita, tetapi tidak membuahkan hasil. Kepala Sekolah, Ketut Sunarta, bergeming.

Berikut kronologi kasus pelarangan jilbab seperti yang diungkap Ketua Tim Advokasi Pembelaan Hak Pelajar Muslim di Bali Helmi Al Djufri, yang diterima Suara Islam Online beberapa waktu lalu. Helmi adalah anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII).

2011:


Anita Whardani, putri pasangan Parwoto dan Ni Made Sulastri, diterima di SMAN 2 Denpasar. SMAN 2 Denpasar merupakan salah satu sekolah terfavorit di Denpasar. Sebelumnya Anita menyelesaikan pendidikan SD di SD Muhammadiyah 1 Denpasar dan SMP Muhammadiyah 1 Denpasar.

Anita adalah seorang siswi berjilbab. Sebelum mendaftar ke SMA, Anita sudah mengetahui bahwa di SMAN 2 Denpasar akan mengalami kesulitan untuk mengenakan jilbab. Informasi tersebut dia dapat dari guru SMP-nya.

Sebenarnya ia ragu untuk mendaftarkan dirinya ke SMAN 2 Denpasar, namun karena dorongan dan permintaan dari kedua orang tuanya, dia pun mendaftar juga ke sekolah favorit tersebut. Anita memilih untuk menuruti keinginan orang tuanya.

Ketika daftar ulang pada bulan Juli 2011, ada seorang petugas dari sekolah yang melihat ijazah SMP Anita mengenakan jilbab, lalu petugas tersebut memberitahu Anita agar tidak mengenakan jilbabnya saat masuk sekolah nanti. Anita belum mengenal siapa nama dan jabatan petugas tersebut. Sontak, Anita mengalami keguncangan batin saat mendengar hal itu.

Ketika Masa Orientasi Siswa (MOS) selama satu minggu pada  18-23 Juli 2011, Anita tidak mengenakan jilbabnya. Tapi saat kegiatan tersebut, Anita melihat dua orang peserta MOS yang mengenakan jilbab. Di saat itu juga, terlihat satu orang kakak kelasnya yang juga mengenakan jilbab. Kemudian harapan untuk dapat berjilbab pun kembali muncul pada diri Anita.

Pada 25 Juli 2011, Anita memulai sekolah perdananya tanpa mengenakan jilbab. Ketika Anita masuk sekolah, ternyata sudah tidak ada lagi kakak kelasnya yang memakai jilbab begitu pula teman seangkatannya.

Setahun sebelum Anita masuk SMAN 2 Denpasar, ada seorang siswi yang bernama Ria Putri Lestari (Putri). Putri merupakan siswi SMAN 2 Denpasar angkatan 2007-2010. Putri dapat mengenakan jilbabnya selama bersekolah di SMAN 2 Denpasar lantaran kepala sekolahnya, Bapak I Gst. Gde. Raka, B.Sc., ketika itu mengabulkan permohonan Ria Putri Lestari -yang didampingi oleh PW PII Bali- untuk dapat mengenakan jilbabnya selama Ria Putri Lestari menjadi siswi di SMAN 2 Denpasar.

Kepala Sekolah tersebut mengizinkan dan memiliki kebijakan bahwa tidak ada larangan bagi pelajar muslimah menggunakan jilbab bahkan difasilitasi seragam muslimahnya selama beliau menjabat sebagai kepala sekolah SMAN 2 Denpasar.

Pada 2008 terjadi pergantian Kepala Sekolah dari Bapak I Gst. Gde. Raka, B.Sc., ke Bapak Drs. Ketut Sunarta, M.Hum., yang saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMAN 2 Denpasar. Pergantian kepala sekolah ini tidak mempengaruhi perizinan Putri untuk mengenakan jilbabnya saat bersekolah. Putri tetap mengenakan jilbabnya hingga ia lulus dari SMAN 2 Denpasar.
 
Anita dan Putri sebenarnya sudah saling mengenal. Mereka sama-sama merupakan anggota Pelajar Islam Indonesia (PII) Denpasar, hanya saja mereka berbeda angkatan.

Setelah Putri lulus sekolah, setahun kemudian Anita masuk di sekolah tersebut, karena melihat kakak seniornya pernah memakai jilbab, akhirnya Anita pun terdorong untuk mencari informasi ke berbagai pihak bagaimana agar bisa mengenakan jilbab di SMAN 2 Denpasar.

Kepala sekolah baru ini, Pak Ketut Sunarta telah membuat kebijakan larangan penggunaan jilbab ketika Kegiatan Belajar Mengajar tetapi kebijakan tersebut tidak tertulis dan tidak ada klausul larangan secara langsung di dalam aturan sekolah (Keputusan Kepala SMA Negeri 2 Denpasar Nomor: 421/959/SMAN.2. tanggal 14 Juni 2012).

2012:

Pada April 2012, Anita berkonsultasi dengan guru Bidang Kesiswaan (BK), Dra. Ni Made Mahyuni. Diskusi ini Anita awali dengan pertanyaan seputar nilai dan jurusan yang kelak akan Anita ambil untuk program kelas XI dan kuliah nanti. Setelah itu Anita membuka diskusi tentang perizinan berjilbab di SMAN 2 Denpasar. Di saat yang bersamaan, di ruangan itu juga ada guru BK lainnya, Drs. I Wayan Dira.

Dra. Ni Made Mahyuni memberikan cerita dan pandangannya tentang orang berjilbab. Dia mengatakan, “bahwa yang Islam ga mesti berjilbab. Dia buktikan dengan cerita tentang temannya yang dulu kuliah tapi akhirnya setelah menikah baru dipakai dan ada yang ga baik juga yang berjilbab itu”.

Kemudian I Wayan Dira pun menceritakan tentang saudaranya yang muslim. Pandangan mereka seolah-olah hanya untuk mengurungkan niat Anita mengenakan jilbabnya di sekolah. Kemudian Anita pun mempertanyakan terkait perizinan kakak kelas seniornya, Ria Putri Lestari yang dapat menegenakan jilbab selama tiga tahun bersekolah di SMA Negeri 2 Denpasar. Kedua Guru BK tersebut membenarkan apa yang disampaikan oleh Anita. Kemudian Ibu Ni Made Mahyuni mencoba untuk menerangkan aturan sekolah kepada Anita dan menyarankan kepada Anita agar ‘menurut’ saja terhadap aturan sekolah.

Melihat keinginan yang kuat dalam diri siswinya itu, Ibu Ni Made Mahyuni pun seolah tidak ingin mematahkan harapan siswinya, beliau pun menganjurkan Anita agar menemui Kepala Sekolah.  “Mungkin saja kepala sekolah mau mengizinkannya”, kata beliau.

Pada Sabtu, 09 Juni 2012, Anita menemui kepala sekolah. Anita tidak datang sendiri. Ia ditemani oleh bapaknya (Parwoto) yang juga didampingi oleh guru BK, Ibu Ni Made Wahyuni. Pertemuan ini merupakan itikad baik dari Anita dan orang tuanya untuk meminta izin (secara baik-baik) kepada Kepala Sekolah agar Anita diperbolehkan mengenakan jilbab ketika bersekolah. Pertemuan tersebut berlangsung hampir satu jam.

Dialog antara kepala sekolah, Anita dan Parwoto pun terjadi. Ni Made Wahyuni juga ikut berdialog meski tak terlalu banyak mengeluarkan suaranya. Anita juga sudah tidak ingat apa yang dibicarakan oleh Made Wahyuni.

Dalam dialog itu, Sunarta (Kepala Sekolah SMAN 2 Denpasar) menjelaskan tentang peraturan sekolah. Dia menyatakan tidak bisa mengubah peraturan tersebut seenaknya karena peraturan itu dibuat dan disepakati secara bersama-sama. “Peraturan sekolah tidak bisa diganggu oleh pihak luar (termasuk pemerintah). Ini sudah menjadi otonomi sekolah”, kata beliau.

Terkait keinginan Anita untuk berjilbab di SMAN 2 Denpasar, Anita disarankan untuk bersekolah di sekolah lain saja jika ingin tetap mengenakan jilbabnya. Dia juga mengatakan bahwa TIDAK MELARANG namun  juga TIDAK MEMBERI IZIN Anita untuk berjilbab di sekolah. Anita mejelaskan tentang perintah menutup aurat dalam agama Islam. Sunartamemuji Anita karena di usianya yang masih muda itu, ia sudah memiliki keimanan yang kuat.

Selain itu, Anita juga menegaskan bahwa peraturan sekolah terkait tentang pelarangan berjilbab itu tidak pernah ada. Anita menyebutkan pula tentang UUD 1945 pasal 29 tentang kebebasan menjalankan agama. Lantas Kepsek itu menyarankan Anita untuk mendirikan sekolah sendiri. Dia tidak ingin murid di SMAN 2 Denpasar tidak seragam karena ada satu yang berjilbab.

Lalu Anita juga menceritakan tentang fakta kakak kelasnya dulu yang bernama Ria Putri Lestari yang bisa menggunakan jilbab di sekolah itu. Kemudian Anita mempertanyakan mengapa dirinya sekarang tidak dibolehkan menggunakan jilbab di sekolah. Sunarta malah bilang kalau, “Saat itu peraturan sekolah tidak ditegakkan dengan baik”.

Anita bingung, sebenarnya peraturan mana yang dimaksud Kepala Sekolah, karena di dalam peraturan sekolah jelas-jelas tidak ada larangan berjilbab. Lalu Kepala sekolah juga menjelaskan, “Ini kan bukan sekolah Islam, bukan juga Hindu saja,  jadi lebih baik jangan ada yang beda-beda (simbol-simbol agama) seperti itu, biar seragam saja”.

Kemudian Kepala Sekolah melanjutkan dialognya bersama bapak dari Anita, mereka berbincang berdua, Anita tidak terlalu memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka, namun Anita mendengar dan mengingat sedikit perkataan Kepala Sekolah kepada bapaknya, bahwa “Orang beriman tidak mesti menunjukkan keimanannya dengan berjilbab, masih banyak cara lain”.

Tak hanya bingung dengan perkataan Kepala Sekolah, Anita pun semakin dibuat bingung oleh sikap bapaknya. Ia terheran-heran mengapa tiba-tiba bapaknya pada saat itu justru tidak cukup mampu untuk membelanya. Ini juga menjadi salah satu tameng Kepala Sekolah untuk semakin tidak memberinya izin berjilbab. Anita sudah meminta dukungan penuh dari bapaknya, dan bapaknya pun berkomitmen untuk membantu anaknya dalam memperjuangkan haknya mengenakan jilbab di sekolah.

Kecewa dengan keputusan pihak sekolah, Anita pun menangis. Perasaan kesal, sedih dan kecewa tercampur di sana. Ia pun sangat kaget ketika Kepala Sekolah mengatakan bahwa dia (Anita) itu tidak dewasa. Selama dialog ini berlangsung, di luar ruangan ada Rahmat Bayu (sekretaris/asisten Kepsek) yang sedang menunggu/mengawal Kepsek.

Kesimpulan dari dialog ini ditutup dengan penegasan bahwa aturan mengenai larangan menggunakan jilbab sudah diatur sejak dahulu oleh Komite Sekolah, guru-guru dan wali murid. Siswa SMAN 2 Denpasar harusnya menaati peraturan sekolah.

Dari pihak orang tua Anita pun akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi kasus ini karena khawatir anaknya hanya akan menjadi korban kebijakan sekolah (disuruh pindah secara paksa/dikeluarkan dari sekolah).

Perjuangan tetap berlanjut. Pada 23 Juni 2012, PW PII Bali menyelenggarakan diskusi akbar di Masjid Baitul Makmur Denpasar terkait kasus pelarangan jilbab di SMAN 2 Denpasar. Diskusi ini membahas strategi agar pelarangan jilbab di sekolah negeri tidak berlanjut. Ketua Panitia Diskusi/Tim ini bernama Mohammad David Yusanto (Ketua III Bidang Eksternal PW PII Bali) dan Devi Yulianti Anwar  sebagai Sekretaris Tim dengan dimoderatori oleh Fathima Azzahra. Diskusi itu dihadiri oleh PII, KAMMI Denpasar, Puskomda, Ketua DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) Propinsi Bali, KB PII dan undangan individu, serta beberapa tamu tak diundang (Intelijen) dari Kesbangpol/Kepolisian Denpasar/Bali.

Pada Juli 2012 saat awal masuk kelas XI, Anita mendapat informasi dari PW PII Bali bahwa ada Keluarga Besar PII Bali bernama Ibu Zarina sebagai salah satu anggota Komite Sekolah SMAN 2 Denpasar. Anita menemui Ibu Zarina dengan harapan dapat membantu pelobian ke pihak sekolah agar dapat mengizinkan Anita untuk mengenakan jilbab.

Zarina pernah menelepon Wakasek Sarana & Prasarana yakniDra. Desak Nyoman Rai Kartini, M.Pd., Zarina mencoba untuk melobi Wakasek untuk mengizinkan Anita memakai jilbab, namun dalam pembicaraan melalui telepon tersebut Zarina mendapat respon negatif. Dra. Desak Nyoman Rai Kartini, M.Pd., merupakan orang yang sangat dekat dengan Kepala Sekolah dan memiliki pengaruh besar di SMA Negeri 2 Denpasar.

Pada Juli 2012 saat awal masuk sekolah, pihak SMAN 2 Denpasar pernah mengadakan rapat besar di Aula sekolah yang dihadiri oleh Komite Sekolah, Kepala Sekolah, Guru-guru dan Karyawan, seluruh murid dipulangkan di hari itu. Bagi Anita, rapat di aula sekolah merupakan hal yang tidak biasa dikarenakan rapat sekolah biasanya dilaksanakan di ruang guru atau Tri Mandala.

Selang beberapa hari kemudian setelah rapat besar itu,  Zarina menyampaikan kepada Devi Yulianti Anwar (PW PII Bali) bahwa salah satu agenda rapat itu yakni membahas tentang jilbab yang ingin dikenakan oleh Anita. Ketika itu Wakil Kepala Sekolah Urusan Sarana dan Prasarana, Dra. Dsk Nym. Rai Kartini, M.Pd., adalah guru yang sangat keras menolak ada murid berjilbab di sekolah, dengan alasan demi keseragaman siswa.

Dalam rapat tersebut, Bu Zarina sudah berupaya untuk membela hak Anita dan murid/siswi muslim lainnya untuk memakai jilbab, namun semua peserta rapat tidak ada yang mendukungnya, peserta rapat setuju dengan penolakan  Dra. Dsk Nym. Rai Kartini, M.Pd., dalam rapat tersebut, ada juga beberapa guru muslim namun tidak ada satupun yang berkomentar mengenai aturan larangan berjilbab, semuanya terdiam.

Dampak dari larangan berjilbab ini membuat para murid muslimah tidak ada yang berani membela haknya, hanya Anita saja yang berani melakukan gerakan perlawanan hingga sejauh ini hingga membuat gempar para guru di SMAN 2 Denpasar. Ada beberapa muslimah kawan Anita mengaku biasanya berjilbab tetapi tidak berani memakai jilbab di sekolah, mereka hanya akan memakai jilbab di sekolah jika perjuangan Anita berhasil dan sebagian lainnya akan memakai jilbab setelah lulus sekolah saja daripada harus menghadapi masalah dengan pihak sekolah.

Setelah liburan Idul Adha, 31 Oktober 2012, Anita datang ke kantor LBH FKPPI Provinsi Bali untuk konsultasi. Advokat dari LBH FKPPI bernama R. Haryo Christayuda, SH. Dia menyarankan agar Anita kembali memakai seragam muslimah untuk mengetahui respon para guru. Anita pun nekad melakukan hal itu ke sekolah pada Rabu, 21 November 2012.

Hari itu, mata pelajaran jam pertama adalah pelajaran Bahasa Bali. Ternyata,  guru Bahasa Bali hari ini tidak hadir sehingga menyebabkan proses belajar mengajar tidak efektif alias jam kosong. Tiba-tiba Kepala Sekolah masuk ke kelas Anita untuk memberi nasihat kepada seluruh murid dan bertanya kepada Anita “Kok bajunya seperti itu?”, Anita diam saja tidak menjawab, lalu Kepala Sekolah menyuruh Anita datang ke ruangan Kepala Sekolah.

Pada pertemuan kedua ini Kepala Sekolah menegaskan “Kalau pakai jilbab kelihatan atau tidak logo OSIS SMA-nya? Kelihatan atau tidak emblem SMAN 2 nya?” Lagi-lagi beliau menyarankan untuk pindah sekolah saja kalau Anita tetap ingin berjilbab. Anita diminta untuk bertahan saja (tidak memakai jilbab) kalau tetap ingin bersekolah di SMAN 2.

Anita menjawab “Kan bisa dinaikin sedikit Pak kerudungnya jadi masih bisa kelihatan logonya”. Kepala Sekolah tetap tidak mengizinkan. Lalu tiba-tiba Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan Drs. Ida Bagus Sueta Manuaba, M.Pd., masuk ruangan, beliau menanyakan keperluan Anita di ruang Kepsek. Bincang-bincang kecil terjadi antara Kepsek dan Wakasek.

Setelah itu mereka bertiga (Kepsek, Wakasek, Anita) sempat memperbincangkan soal Ria Putri Lestari. Anehnya, Sueta Manuaba justru mengatakan bahwa “Putri, dulu sekolah engga pakai jilbab. Dia baru pakai jilbab setelah lulus SMA”. Anita tahu Sueta sedang berbohong, dan Sunarta pun meng-iya-kan kalau Putri tidak berjilbab ketika sekolah.

Suasana hati Anita ketika itu sangat kesal, karena Anita sangat kenal dengan Ria Putri Lestari, tetapi mengapa mereka berbicara yang tidak benar tentang Putri? Berkali-kali Anita disarankan untuk pindah sekolah saja kalau memang tetap ingin memakai jilbab dan diminta untuk segera memutuskan pilihan.

Setelah perbincangan ini mereka malah mengajak Anita bercanda soal siapa yang akan Anita pilih menjadi Kepala Sekolah seandainya dia disuruh memilih. Ada-ada saja sikap Kepsek dan Wakasek, Anita menjadi jengkel. Tepat 08.30 waktu Denpasar, Anita minta undur diri dari perbincangan itu karena ada pelajaran selanjutnya. Ketika Anita masuk kelas lagi, Anita mendapatkan respon yang biasa-biasa saja dari para guru yang mengajar di kelasnya hingga pelajaran usai. Guru-guru tersebut tidak ada yang mempertanyakan tentang seragam dan jilbab yang ia kenakan.
 
Keesokan harinya, 22 November 2012 Anita dan perwakilan PW PII Bali (Devi Yulianti Anwar dan Riza Arfian Bahasuan) kembali mendatangi LBH FKPPI untuk konsultasi hukum, kemudian Advokat dari LBH tersebut berencana untuk mengirimkan surat ke SMAN 2 Denpasar dan ke Disdikpora Kota Denpasar untuk mengkonfirmasi aturan seragam berjilbab. Namun seiring waktu berjalan tidak ada kelanjutannya hingga saat ini, dikarenakan tidak ada komunikasi lebih lanjut.

Selama Anita mengikuti ekstra kurikuler, ketika duduk di kelas XI, Anita selalu memakai jilbab. Teman-temannya tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. Anita pernah mendapat informasi dari temannya bahwa ada pihak sekolah (guru) yang bertanya ke salah satu temannya terkait siapakah yang memakai jilbab di PMR?.

Selain itu, pada 8 Desember 2012, sekolah menyelenggarakan kegiatan lomba-lomba. Dalam kesempatan itu, Anita mengenakan jilbabnya ke sekolah. Seorang guru yang bernama Ni Putu Suka Putrini, S. Pd.,  pun menegur Anita. Dia mengatakan “Pindah sekolah saja kalau mau memakai jilbab! Kasihan peraturan sekolah ga ditaati”. Selain itu, juga ada beberapa kegiatan sekolah yang pernah Anita ikuti dengan mengenakan jilbab namun pada saat itu guru-guru tidak ada yang menegurnya.

2013:

Pada 25 Mei 2013, personil  PW PII Bali (Devi Yulianti Anwar, Fathima Azzahra, Mohammad David Yusanto dan Anita Whardani) yang juga ditemani oleh Alumni PII Bali yakni Muhammad Thufeil, menemui Hilmun Nabi --anggota Fraksi PKS DPRD Kota Denpasar -- di rumahnya. Kunjungan ini bertujuan untuk berdiskusi terkait larangan memaki jilbab di Sekolah Negeri yang ada di Bali.

“Kasus ini memang berat sebab umat Islam di Bali ini minoritas, apalagi pasca Bom Bali hubungan antarumat sempat terganggu dan kini sedang kembali merajut harmonisasi, jadi kasus ini jangan langsung ditanggapi secara frontal, harus hati-hati. Gunakan dulu jalur diplomasi”, tanggapan beliau.

Hilmun berjanji akan datang ke SMAN 2 Denpasar pasca ulangan umum yang selesai di bulan Juni 2013. Namun, ulangan umum  selesai, komunikasi antara PW PII Bali dan Hilmun pun terputus.

Pada 14 September 2013, PW PII Bali (Mohamad David Yusanto dan Firdaus Salam Isnanto) menghadiri acara FKUB (Forum Kerukunan Ummat Beragama). Keduanya memanfaatkan momentum itu dengan membawa kasus pelarangan jilbab di SMAN 2 Denpasar. Ketua FKUB, Drs. Ida Bagus Gede Wiyana mengaku tidak tahu kalau ada larangan pemakaian jilbab di sekolah. Dia menyarankan agar melaporkan kasus tersebut ke Ombudsman dikarenakan kasus ini terkait dengan sistem pendidikan, FKUB tidak memiliki wewenang di ranah tersebut.

Namun, jauh sebelum adanya masukan dari FKUB agar melaporkan kasus ini ke Ombudsman RI, sebenarnya pada Agustus 2012 salah satu personil PW PII Bali (Fathima Azzahra) sudah pernah mencoba untuk melaporkan kasus tersebut ke Ombudsman RI secara online, namun niat tersebut diurung karena ternyata bahan-bahan yang dibutuhkan untuk laporan kasus belum lengkap. Selain itu, ia merasa masih ragu dan takut jika apa yang ia lakukan ini ternyata –bisa jadi- merupakan tindakan yang diambil secara gegabah. Saat itu juga, ia merasakan kekhawatiran yang amat mendalam terhadap kemungkinan dampak buruk yang bisa jadi menimpa Anita dan keharmonisan antar ummat Islam dan Hindu di Bali yang dulu pernah “retak” pasca Bom Bali 1 dan 2. Walaupun ia dan teman-temannya juga tidak pernah menghendaki hal itu terjadi. Ia dan teman-temannya tidak ingin terjadi konflik SARA di dalam penanganan kasus ini. Mereka hanya ingin untuk diperbolehkan mengenakan jilbab di sekolah negeri ketika pelajar muslimah –baik saat ini dan nanti- mengeyam pendidikan, apalagi di sekolah yang berstatus sekolah negeri.

Akhirnya, setelah semua usaha dilakukan, dan bingung harus berbuat apa lagi, serta merasa tidak ada yang bisa membantu perjuangan ini dengan serius, maka PW PII Bali dan Anita hanya bisa sekedar sharing dengan rekan-rekannya. Sejak Oktober-November 2013, penanganan kasus ini pun hilang, karena merasa tidak berdaya untuk melanjutkan.

Pada  23 November 2013 pukul 17.00 WITA, Helmi Al Djufri, anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) mengumpulkan kembali Tim Pendamping Advokasi untuk kasus Anita di Masjid Agung Sudirman Denpasar dengan tujuan untuk melanjutkan perjuangan kasus tersebut hingga tuntas. Mereka pun membentuk sebuah Tim Advokasi. Tim Advokasi ini dipimpin oleh Helmi Al Djufri, S.Sy., dan Mohamad David Yusanto (Ketua III PW PII Bali) sebagai Koordinator Tim Lapangan.

red: shodiq ramadhan
 

0 Komentar