#Setahun Aksi 212

Umat Islam Menang 3-0

25 November 07:16 | Dilihat : 10705
Umat Islam Menang 3-0 Aksi Super Damai 212 di Lapangan Monas Jakarta

Setahun pascaaksi super damai 212 tiga target kemenangan jangka pendek telah diraih. Skor 3-0 untuk kemenangan umat Islam. 

Guyuran hujan yang membasahi jutaan umat Islam di kawasan Lapangan Monas dan sekitarnya saat mereka hendak melaksanakan shalat Jumat rasa-rasanya baru kemarin terjadi. Khutbah yang singkat, tegas dan menggelegar yang disampaikan Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI, kini GNPF-Ulama) Habib Muhammad Rizieq Syihab serasa baru beberapa pekan lalu. 

Doa qunut nazilah nan panjang dan khusyu’ yang dipanjatkan oleh imam shalat Jumat KH Muhammad Nasir Zein, hingga jamaah tak terasa jika baju yang mereka kenakan basah sekujur tubuh karena guyuran hujan, juga seperti baru kemarin berlalu. Tetapi peristiwa monumental Aksi Super Damai 212 pada Jumat 2 Desember 2016 itu ternyata sudah setahun berlalu. 

Rangkaian Aksi Bela Islam, yang dimulai sejak Jumat, 14 Oktober 2016 setahun lalu itu pun telah membuahkan tiga kemenangan sesuai target yang ditetapkan. Target itu adalah: kalahkan penista agama di media sosial, kalahkan penista agama di Pilkada DKI Jakarta, dan kalahkan penista agama di pengadilan. 

Pertarungan di Medsos

Pertarungan di media sosial, adalah medan yang agak terlambat direspon umat Islam. Pertarungan ini dimulai sejak Pilkada DKI Jakarta 2012. Saat itu, tiba-tiba ada kekuatan di media sosial yang massif, terstruktur dan sistemik untuk memenangkan pasangan Jokowi-Ahok. Jasmev namanya. Hasilnya, pasangan Jokowi-Ahok lolos ke putaran kedua dan akhirnya mengalahkan petahana, Foke-Nara. Pertarungan serupa juga terjadi pada Pilpres 2014. Namun pertarungan di media sosial mulai sengit. 

Pertarungan di media sosial mencapai puncaknya adalah saat meledak video Ahok di Kepulauan Seribu oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemudian dinyatakan sebagai bentuk penistaan agama. Saat itulah pertempuran di media sosial benar-benar sengit. Para pegiat medsos dari kalangan Islam bersatu. Muslim Cyber Army nama keren mereka. 

Jika pada 2012 umat Islam terkaget-kaget dengan serangan melalui Twitter oleh Jasmev, sekarang tidak lagi. Jika pada tahun-tahun sebelumnya umat Islam tergopoh-gopoh menerima serangan meme dari lawan, sekarang tidak lagi. Beragam media sosial, mulai dari Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, WhatsApp, BBM, dan sebagainya benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Jasmev tak lagi berdaya. Boleh dikatakan mereka KO, skor 1-0. 

Pertarungan di Pilkada

Bersamaan dengan peristiwa penistaan agama oleh Ahok, sejatinya di DKI Jakarta sedang berjalan proses Pilkada serentak 2017. Sebelum peristiwa penistaan terjadi, pada 20 September 2016, secara resmi PDIP memasangkan Ahok dengan Djarot Saiful Hidayat. Ahok sendiri sebelumnya telah diusung oleh Partai Golkar, NasDem dan Hanura. 

Sementara, penistaan terhadap Alquran itu dilakukan Ahok saat dia berbicara kepada warga di Kepualauan Seribu, Rabu 30 September 2017. Padahal saat itu acaranya adalah tentang program budidaya ikan. Tiba-tiba Ahok ngomong, "Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya. Karena dibohongin pakai surat Al-Maidah 51 macem-macem gitu lho. Itu hak bapak ibu, ya.”

Video tersebut pertama kali diunggah di website milik Pemprov DKI Jakarta. Tetapi menjadi sangat ramai dibicarakan, dan bahkan inilah yang memantik terjadinya rangkaian Aksi Bela Islam, ketika pada 5 Oktober 2016 dan kemudian diulangi lagi pada 6 Oktober 2016, video tersebut diunggah ke Facebook oleh seorang dosen London School of Public Relations (LSPR), Buni Yani. Cuplikan video Ahok yang diunggah Buni Yani berjudul “PENISTAAN TERHADAP AGAMA?” itu lantas menjadi viral di media sosial. Jumat, 14 Oktober 2017, umat Islam Jakarta menggelar demonstrasi besar di depan Balai Kota mendesak Ahok ditangkap. 

Pasangan Ahok-Djarot terus melaju. Kepolisian tidak mengindahkan tuntutan umat Islam untuk menangkap dan mengadili Ahok atas dugaan kasus penistaan agama dengan berbagai dalih. Hingga akhirnya pada Jumat, 4 November 2017, umat Islam kembali menggelar aksi besar-besaran di depan Istana Negara yang dikenal sebagai Aksi 411. 

Aksi 411 yang diinisiasi oleh GNPF-MUI ini, awalnya berlangsung damai. Umat Islam hanya minta supaya Presiden Jokowi menemui perwakilan pengunjuk rasa supaya mendengarkan aspirasi massa. Tetapi rupanya Jokowi malah tidak di tempat. Hingga kemudian usai Isya’ terjadi provokasi kepada massa dan terjadilah penyerangan membabi buta dengan tembakan gas air mata oleh aparat kepolisian terhadap massa yang berada di Medan Merdeka Barat dan Silang Monas Barat Laut. 

Tembakan gas air mata itu secara langsung juga ditujukan kepada Habib Rizieq Syihab, Munarman, dan tokoh-tokoh GNPF MUI yang berada di atas mobil komando di Jl Medan Merdeka Barat. Massa pun bertumbangan. Hampir semua korban terluka dilarikan ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan. Beberapa yang membutuhkan perawatan intensif dibawa ke RSCM dan RSPAD Gatot Subroto. Satu peserta aksi, Syahri bin Umar, warga Tagerang, Banten, akhirnya meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi rajiun. 

Usai didemo untuk kedua kalinya, akhirnya Ahok ditetapkan sebagai tersangka pada 16 November oleh Bareskrim Mabes Polri. Tapi Ahok tak tersentuh, ia tidak ditahan. Tersangka penista agama ini bebas berkeliaran dan tetap mengikuti proses Pilkada walaupun tujuh juta umat Islam dari seluruh penjuru Indonesia turun dalam Aksi Super Damai, Jumat 2 Desember 2016 atau Aksi 212. Status Ahok saat mengikuti Pilkada adalah terdakwa kasus penistaan agama. 

Sementara pada saat yang sama kampanye Pilkada DKI telah berjalan dengan diikuti tiga pasangan calon: Ahok-Djarot, Agus-Sylvi dan Anies-Sandi. Umat Islam tak terpengaruh agenda kampanye Pilkada, mereka tetap fokus pada kasus penistaan agama. Tuntutan mereka tak berubah: tangkap, tahan dan adili Ahok atas kasus penistaan agama. Untuk Pilkada, umat Islam DKI diarahkan pada pilihan nomor satu dan tiga, alias pilih Agus-Sylvi atau Anies-Sandi. 

Putaran pertama Pilkada DKI dilakukan pada 15 Februari. Hasilnya, pasangan nomor satu Agus-Sylvi memperoleh 17,02 persen suara, pasangan nomor dua Ahok-Djarot memperoleh 42,99 persen suara dan pasangan nomor tiga Anies-Sandi meraup 39,95 persen suara. Alhasil dua pasangan calon, Ahok-Djarot dan Anies-Sandi lolos ke putaran kedua. 

Dari sinilah target memenangkan Anies-Sandi menjadi harga mati. Kampanye jangan pilih pemimpin kafir digalakkan oleh berbagai elemen ormas Islam. Tabligh akbar dan pengajian digelar di masjid-masjid dan di gang-gang kampung di Jakarta. Head to head, kondisi menjadi sangat menegangkan. Hitung-hitungan di atas kertas, Anies-Sandi akan memenangkan pertarungan di putaran kedua. Menurut Sandi, hasil survey menyatakan pasangan nomor urut tiga unggul sembilan poin. Wajar saja karena suara pemilih pasangan Agus-Sylvi diprediksi akan beralih ke Anies-Sandi. 

Uniknya peta dukungan partai politik yang sebelumnya mengusung Agus-Sylvi. Dua partai berbasis massa Islam, PKB dan PPP, terang-tarangan mendukung Ahok-Djarot. Partai Demokrat netral. Hanya PAN yang tegas mendukung Anies-Sandi. 

Peristiwa langka dan memalukan pun terjadi secara kasat mata di siang bolong. Money politics dilakukan secara telanjang pada hari tenang jelang Pilkada putaran kedua 19 April 2017. Warga Jakarta dari kalangan dhuafa dihujani paket sembako dan sejumlah uang untuk memilih pasangan nomor dua. Bahkan kursi roda juga dibagi-bagikan. Kantor PPP Jakarta Selatan penuh dengan timbunan sembako yang akan dibagikan kepada warga. Bukan hanya sembako, belasan ekor sapi juga dikirimkan ke Kepulauan Seribu. 

Semua orang ketar-ketir dengan aksi money politics ini. Pemilih dari kalangan bawah dikhawatirkan berubah pilihan. Sedangkan Ahok-Djarot dan pendukungnya optimis menang. 

Karena merasa mau menang, sehari sebelum pemilihan mereka sudah memesan sebuah ruangan besar di Hotel Pullman, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat untuk konferensi pers kemenangan. Sejak pagi, 19 April, anggota tim sukses sudah hadir di ruangan besar hotel bintang lima itu. Mereka menyiapkan jumpa pers “pidato kemenangan.”

Backdrop besar bertuliskan “#Ba2ukiDjarotMenang“ pun dipasang. Tulisan itu dimaksudkan untuk menjadi tagar (hastag) kemenangan. Karena beberapa jam ke depan, bisa dipastikan tagar  #Ba2ukiDjarotMenang akan memuncaki trending topic dunia di medsos.

Di depan backdrop dua meja panjang bagian depan telah ditata rapi. Taplak bermotif kotak-kotak berlipat indah. Disisinya berjejer rapi kursi-kursi yang akan diduduki pasangan calon pemenang dan para ketua partai pengusung. Motif taplak itu sama persis dengan motif baju kotak-kotak yang selama ini mereka yakini bakal membawa kemenangan.

Sementara di sudut-sudut ruang, sound system telah siap membahanakan pekik kemenangan. Semua membayangkan, Rumah Lembang yang kerap penuh dengan gelak tawa itu, tak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan suasana riuh gembira siang nanti.

Bagai halaman Rumah Pegangsaan yang legendaris itu, ruang jumpa pers kemenangan Ahok-Djarot ini pun akan menjadi saksi sejarah sebuah kemenangan Pilkada yang sangat mengharu-biru itu. Sebuah pertarungan yang menghabiskan tenaga, suara, sembako, sapi, dan kursi roda. Betapa sebuah kemenangan Pilkada rasa Pilpres telah di ambang mata. Siang itu, di ruang itu, sebuah skenario yang rapi, rekaman pemandangan yang indah, dan rencana perayaan meriah, telah selesai dipersiapkan. 

Begitulah Agi Betha menggambarkan suasana di Hotel Pullman, Rabu 19 April itu dalam tulisannya “Cerita di Balik Rencana Kemenangan Ahok-Djarot yang Gagal Total dan tak Kunjung Move On,” yang dilansir ngelmu.id. 

Tak jauh dari hotel mewah itu, tulis Betha, yang hanya berjarak sepelemparan pandang, Bundaran Hotel Indonesia pun akan disesaki pemandangan kotak-kotak merah hitam. Relawan yang diwawancarai stasiun televisi menyebutkan, ribuan manusia dari berbagai penjuru telah bersiap datang ke tempat itu. Transportasi pun sudah dipesan. Atribut-atribut  sudah di tangan. Spanduk siap untuk dibentangkan. 

Mereka mematangkan rencana untuk mengambil alih lokasi itu lebih dahulu, sebelum dikuasai oleh kubu lawan. Rencana pihak lawan yang memilih menyesaki shalat Magrib berjamaah di Masjid Istiqlal jika jagoannya menang, rupanya tak terendus oleh mereka.

Bundaran HI selama ini adalah kawasan demonstrasi yang strategis. Gambar-gambar yang direkam di sekeliling air mancur dan patung “Selamat Datang” yang tegas menjulang itu, selalu menakjubkan. Apalagi ini Pilkada Jakarta. Rekaman perayaan kemenangannya akan terumbar hingga ke mancanegara. Memenangi Bundaran HI berarti melengkapi simbol-simbol kejayaan.

Tak hanya di tengah kota Jakarta. Di pulau-pulau yang bertebaran di Kepulauan Seribu pun pesta besar kemenangan telah disiapkan. Dua puluh tiga sapi besar nan sehat siap mengenyangkan perut-perut manusia di seberang lautan.

Akhirnya, sampailah semua di hari Rabu yang pongah. Detik demi detik terlalui. Menit demi menit terlampaui, dan jam pun terlewati. Dan begitulaah, cerita berakhir jauh dari harapan. Ahok-Djarot kalah telak. 

Mata-mata nanar menatap layar kaca. Hati remuk redam dilanda kegundahan. Gelap dan kelam. Kenyataan itu datang bersama sore. Galau, gulana, dan rasa terhempas mewarnai senja. Gulita bergayut merata di Pullman, di Bundaran HI, di pulau-pulau, di sudut-sudut kota, dan di pelosok-pelosok hati. Begitulah secara dramatis Agi Betha mengisahkan. 

Dan pada akhirnya, secara resmi pada Sabtu malam (29/4), KPU DKI Jakarta mengumumkan perolehan suara paslon nomor dua memperoleh jumlah suara 2.350.366 (42,04 persen). Sedangkan paslon nomor tiga memperoleh suara 3.240.987 (57,96 persen). 

Dengan perolehan suara ini, bukan saja tidak mampu menambah, suara pasangan Ahok-Djarot justru berkurang. Skor 2-0 untuk umat Islam. 

Pertarungan di Pengadilan

Target kemenangan ketiga adalah di pengadilan. Kalahkan penista agama di Pengadilan. 13 Desember adalah sidang perdana kasus penistaan agama dengan terdakwa Ahok di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Awalnya sidang digelar di gedung bekas Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl. Gajah Mada Jakarta Pusat. Namun dalam perjalanannya, setelah dua kali sidang, sidang Ahok lalu dipindahkan ke Auditorium Kementerian Pertanian, Jalan RM Harsono, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Umat Islam pun konsentrasi penuh mengawal sidang Ahok. Tiap sidang digelar, ribuan umat Islam memenuhi Jalan RM Harsono, depan Kementan. Sebagian kecil saja yang bisa masuk ke Auditorium. Pada saat yang sama, kubu pendukung Ahok juga melakukan hal yang sama meski dengan massa yang jauh lebih sedikit. 

Pada sidang ke-20, Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan tuntutannya. Rupanya tuntutan JPU malah lucu dan menggelikan. Padahal tuntutan ini telah disiapkan jauh-jauh hari, yang pada sidang sebelumnya minta perpanjangan waktu dengan alasan belum selesai diketik. Walaupun disebutkan bahwa perbuatan Ahok secara sah dan meyakinkan teleh memenuhi unsur 156 KUHP, tetapi JPU Ali Mukartono hanya menuntut supaya terdakwa Ahok dijatuhi pidana satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. Artinya Ahok bebas. 

Pada sidang ke-21, Selasa (25/4) Ahok membacakan pledoi atau pembelaan atas tuntutan yang disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada sidang sebelumnya. Dan ujungnya, pada sidang ke-22, Selasa 9 Mei 2017, hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto akhirnya membacakan vonis untuk Ahok. 

"Menyatakan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terbukti sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penodaan agama dan menjatuhkan penjara selama dua tahun," ujar hakim. Ahok pun diperintahkan supaya langsung dieksekusi ke Lapas Cipinang. Maka sore itu pula Ahok, gubernur yang arogan dan kasar itu, dibawa ke Cipinang. 

Meski vonis ini jauh dari ketentuan hukuman atas kasus penistaan agama, yakni lima tahun penjara, tetapi bagi umat Islam adalah sebuah kemenangan. Hakim memvonis di atas tuntutan JPU. Skor kemenangan untuk umat Islam 3-0. 

Menyikapi berbagai kemenangan ini, Habib Rizieq pun berpesan supaya umat Islam bersyukur kepada Allah Swt. Umat Islam juga diminta tidak terbawa euforia kemenangan. 

“Jagalah kemenangan ini dengan sabar dan syukur serta tetap menebarkan cinta dan kasih sayang dalam Islam yang rahmatan lil alamin. Semoga ke depan Indonesia lebih damai tanpa ada yang berani menista agama,” pesan Habib Rizieq. 

[shodiq ramadhan]

0 Komentar