#Gerakan Indonesia Shalat Subuh

Melalui GISS, Menuju Indonesia yang Berkah Aman dan Sentosa

02 November 06:14 | Dilihat : 385
Melalui GISS, Menuju Indonesia yang Berkah Aman dan Sentosa Deklarasi GISS di Kota Malang, Jawa Timur

Catatan Safari Dakwah Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS) di Jawa Timur pertengahan Oktober 2017 lalu.

Ulama besar terdahulu, Buya Hamka pernah mengatakan, kalau mau lihat Muslim lihatlah saat Idul Fitri, namun kalau mau lihat Mukmin lihatlah pada saat shalat subuh. Pernyataan Buya Hamka tersebut menggambarkan bahwa umat Islam yang kualitas keimanannya sudah baik dan melaksanakan shalat subuh berjamaah jumlahnya lebih sedikit.

"Karena itulah harus ditingkatkan kualitasnya agar yang Muslim menjadi Mukmin," demikian dikatakan Koordinator Nasional Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS) KH Muhammad al Khaththath saat berceramah di masjid Nurul Iman, Malang, Jawa Timur, Jumat malam (13/10/2017). Masjid Nurul Iman menjadi tempat pertama dalam safari dakwah GISS di Jawa Timur. Selain Malang, GISS dideklarasikan juga di Bangil dan Sumenep. 

Menurutnya, gerakan shalat berjamaah penting dilakukan untuk memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan. Karena kalau bicara dosa, meninggalkan shalat secara sengaja termasuk dosa besar. "Ada kisah di zaman Nabi Musa seorang wanita melakukan dosa besar dengan berzina, bahkan anak hasil zinanya itu dibunuh. Ketika mau tobat ia datang menemui Nabi Musa, namun Nabi Musa marah besar dan mengusir wanita tersebut. Saat itu Nabi Musa diingatkan oleh malaikat Jibril bahwa Allah SWT masih menerima tobat sebesar apapun dosa hamba-Nya. Dan ada dosa yang lebih besar daripada berzina dan membunuh anak seperti wanita yang dikisahkan itu, yaitu orang yang tidak mau shalat secara sengaja," ungkap Ustaz al Khaththath.

Dan saat ini, kata dia, orang yang tidak shalat dan merasa aman-aman saja itu banyak. "Inilah salah satu alasan kenapa kita buat GISS, jangan sampai ada orang Islam tidak shalat," jelasnya. "Dan kenapa subuh berjamaah, karena selain keutamaannya paling besar kalau subuh bisa dilaksanakan insyaallah shalat yang lain lebih mudah dilakukan, apalagi subuh itu untuk mengawali hari agar mendapatkan berkah dari Allah SWT," tambahnya.

Selain itu, shalat juga bisa memperbaiki keadaan masyarakat dan membawa keberkahan bagi bangsa. "Dulu di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia bisa memperbaiki kondisi negaranya menjadi maju dengan menggerakkan shalat berjamaah dan tilawah, saat itu jamaah shalat subuhnya ramai seperti shalat Jumat dan warga yang paling malas baca Alqurannya minimal 1 juz setiap hari," 

Oleh karena ia berharap, umat Islam Indonesia ke depan jamaah shalat subuhnya juga bisa seperti shalat Jumat. "Dengan begitu, Insyaallah akan turun keberkahan bagi negeri kita tercinta agar semakin baik lagi keadaannya," ujarnya.

Setelah ceramah di Masjid Nurul Iman, agenda berikutnya adalah deklarasi GISS pada Sabtu subuh (14/10) di Masjid Ahmad Yani, masih di Kota Malang. Dalam safari dakwah kali ini, Ustaz al Khaththath didampingi pengurus GISS lainnya yaitu Ustaz Bernard Abdul Jabbar dan Ustaz Bukhari Muslim.

Keesokannya pada Sabtu subuh, Masjid Jenderal Ahmad Yani, Kota Malang dipenuhi jamaah dari berbagai wilayah untuk mengikuti tabligh akbar sekaligus deklarasi GISS. Deklarasi dipimpin oleh Ustaz al Khaththath yang diikuti seluruh jamaah yang hadir. Ada tiga poin yang terkandung pada deklarasi tersebut. 

Pertama, umat Islam diminta bertekad melaksanakan salat subuh berjamaah secara istiqomah. Kedua, umat Islam diminta untuk terus mengajak keluarga, saudara, tetangga, dan temannya untuk melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid daerah masing-masing. "Dan yang ketiga, kita bertekad dan bercita-cita bahwa pada tahun 2020 salat subuh di Indonesia seperti salat Jumat," ungkap Ustaz al Khaththath.

Dengan suara lantang, ia membacakan deklarasi ditemani para pimpinan ormas, DKM Masjid dan tokoh masyarakat serta diikuti seluruh jamaah yang hadir. Deklarasi GISS tersebut diucapkan secara bersama-sama agar menjadi tanggung jawab setiap muslim secara fardiyah maupun tanggung jawab bersama untuk mewujudkan tiga poin deklarasi mulia itu. "Deklarasi ini insyaallah menjadi langkah awal agar diikuti masjid-masjid lainnya dengan harapan ke depan shalat subuhnya ramai seperti shalat jumat," kata Ustaz al Khaththath.

Ia berharap, gerakan shalat berjamaah ini bisa terus berkembang sampai terwujudnya kehidupan bangsa di NKRI yang berkah aman dan sentosa, atau biasa disebut negeri yang Baldatun Toyibatun Warobun Ghofur.

Selain itu, adanya GISS juga diharapkan bisa meningkatkan cara berfikir umat Islam menjadi lebih Islami. Seorang Muslim harus menyadari bahwa ia adalah makhluk ciptaan Allah yang akan kembali kepada Allah, karenanya ia harus berfikir bagaimana agar sukses menjadi hamba Allah sehingga ketika kembali ia mendapatkan ridho dan masuk ke dalam surgaNya.

"Jadi harus ada kesadaran bahwa bahwa tugas manusia itu untuk beribadah kepada Allah, itulah yang akan meningkatkan cara berfikir seorang Muslim," kata Ustaz al Khaththath.

Termasuk dalam konteks negara, kata dia, kalau ingin negeri kita tercinta ada perubahan menjadi lebih berkah, aman sentosa, harus ada perubahan pemikiran yang mendasar. "Sesuai pembukaan UUD 45 bahwa Indonesia merdeka itu berkat Rahmat Allah SWT, dan Allah punya ketentuan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan sehingga kita sebagai hambaNya harus tunduk patuh pada hukum-hukum-Nya," jelasnya.

Karena itu, untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat salah satunya dilakukan gerakan shalat subuh berjamaah. "GISS menjadi salah satu gerakan yang berharap ada peningkatan jamaah shalat subuh di seluruh masjid di Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Ustaz Bukhari Muslim berpendapat, jika gerakan shalat berjamaah dilakukan oleh pemimpin negara maka akan dahsyat hasilnya.

"Jika pemimpin yang memulai gerakan ini, maka para pejabat dibawahnya termasuk rakyatnya akan ikut semua. Dengan begitu tidak membututuhkan waktu tahunan cukup bulanan insyaallah akan ada perubahan lebih baik. Allah akan turunkan keberkahan baik dari dalam maupun atas bumi jika penduduk bumi itu bertakwa," ujarnya.

Namun sayangnya pemimpin hari ini belum melakukan itu. Karenanya, kata Ustaz Bukhari, kita rakyat di bawah yang harus memulai gerakan ini terlebih dahulu, berarti polanya dari bawah ke atas.

Meski gerakan dari bawah, dari masjid ke masjid, GISS menargetkan pada tahun 2020 jamaah shalat subuh di masjid-masjid di Indonesia bisa ramai layaknya jamaah shalat Jumat.

Untuk mencapai target tersebut, Ustaz al Khaththath menerangkan bagaimana strateginya menambah jamaah shalat berjamaah di setiap masjid yang ada. Strategi tersebut berdasarkan firman Allah SWT di dalam surat Al Hajj ayat 41 yang berbunyi, "(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

"Orang-orang yang dikokohkan kedudukannya dalam hal ini siapa saja yang diberi amanat jabatan mengurusi umat, misalnya dari lingkup kecil yaitu Ketua RT RW. Pimpinan wilayah ini bertanggungjawab untuk menegakkan shalat seluruh warganya, mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya untuk diberikan warga miskin, lalu amar makruf nahi munkar mengamankan wilayahnya dari penyakit masyarakat seperti miras, judi atau prostitusi," kata Ustaz al Khaththath yang menjelaskan hal ini di agenda GISS berikutnya di Masjid Darussalam, Sumenep, Madura, Jawa Timur, Ahad (15/10/2017).

Untuk memakmurkan masjid, Ketua RT RW dan Ketua DKM perlu dibantu oleh anggota jamaah masjid terutama anak-anak muda dalam menjalankan programnya. "Bisa dibentuk semacam satuan tugas atau satgas masjid," katanya.

Fungsi utama Satgas Masjid sebagai penyangga dan penggalang jamaah. Kalau tiap anggota Satgas dari 100 anggota Satgas Masjid misalnya, mereka mengajak satu orang tetangga sebelah rumahnya, maka insyaallah masjid di lingkungannya makmur, karena ada sekitar 200 orang yang sholat berjamaah.
 
Satgas Masjid juga bisa ditugasi untuk mengambil infak zakat shadaqah dari orang-orang yang kaya untuk keperluan warga miskin. "Ini menumbuhkan kepedulian dan sikap saling sayang antar jamaah. Yang kaya peduli kepada yang miskin, yang miskin mendoakan yang kaya. Keduanya saling peduli," jelas al Khaththath.

Dalam konteks amar makruf nahi munkar, Satgas Masjid yang ditugaskan harus ikut memelihara keamanan lingkungan. Dalam hal ini bisa bekerja sama dengan pihak kepolisian. "Jika Satgas Masjid menemukan anak remaja di jalanan sedang mabuk minum miras, maka Satgas Masjid wajib menghentikannya dan membawanya ke Masjid. Orang tua yang bersangkutan dipanggil dan diminta menandatangani pernyataan bersedia menitipkan anaknya untuk dibina akhlaknya dalam pengajian anak muda di masjid. Kalau tidak bersedia bisa saja diserahkan ke Polsek terdekat. Dengan demikian Satgas Masjid bisa mengawal akhlak bangsa," jelasnya.

Untuk satgasnya sendiri, agar mereka senang ke masjid, perlu dibuatkan acara yang menarik bagi anak-anak muda sehingga tiap malam Ahad bisa kumpul bahkan mabit di masjid. "Tiap malam ahad anak-anak muda ngumpulnya di masjid, sambil diberikan taushiyah bisa juga sambil bakar jagung atau nonton bareng film-film Islami seperti Ar Risalah, Umar bin Khaththab, Sholahuddin Al Ayyubi, atau Muhammad al Fatih," tuturnya.

"Insyaallah kalau setiap Ketua RT RW dan Ketua DKM punya banyak laskar, itu cakep. Mereka akan gagah berwibawa untuk mengurusi umatnya," tandas Ustaz al Khaththath. 

Dalam menjalankan tugas dakwah, siapapun termasuk DKM dan satgas masjid harus mengutamakan persatuan umat. Soal khilafiyah harus disikapi sebagai sebuah perbedaan yang wajar dan jangan dijadikan masalah. Hal ini diingatkan oleh Ustaz Bernard Abdul Jabbar, menurutnya shalat berjamaah merupakan salah satu momen bersatunya umat meski di dalam jamaah tersebut terdiri dari berbagai latar belakang pemahaman mazhab atau organisasi yang berbeda.

Masjid sebagai berkumpulnya umat merupakan tempat strategis untuk menyatukan berbagai potensi. Karena itulah diperlukan sikap mengedepankan persatuan dan menghindari perpecahan. "Bersatu dalam akidah, berjamaah dalam ibadah dan bertoleransi dalam khilafiyah. Itulah ungkapan yang bagus untuk mengingatkan kita akan pentingnya persatuan," tandasnya. [ ]

0 Komentar