GISS: Lahirkan Pemimpin dari Masjid

25 September 08:46 | Dilihat : 549
GISS: Lahirkan Pemimpin dari Masjid Seknas GISS H Usamah Hisyam. [foto: syaiful falah/si]

Tiga orang meriung di ruang tamu kamar President Suit Hotel Aston Sentul, Rabu tengah malam, 12 Juli lalu. Ketiganya terlibat pembicaraan serius tapi santai. Walaupun muka mereka nampak lelah. 

Ketiga orang itu, Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH Muhammad Al Khaththath, Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI) H Usamah Hisyam dan satu lagi, seorang mubaligh Ustaz Bukhori Muslim. 

Malam itu adalah malam pertama bebasnya Ustaz Al Khaththath dari tahanan Direskrimum Polda Metro Jaya. Permintaan penangguhan penahanannya atas tuduhan fitnah makar dikabulkan. Istimewanya, ia langsung dijemput oleh Usamah Hisyam dengan mengendarai VW Caravelle-nya. 

Dari Markas Polda Metro Jaya, Usamah membawa Al Khaththath yang ditemani istrinya ke rumah mertuanya di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Sejumlah kawan dekat dan aktivis pergerakan berkesempatan menemui penanggung jawab aksi 313 itu. 

Jelang tengah malam, Usamah mengusulkan supaya Al Khaththath tidak pulang dulu ke rumahnya di Bogor. Menurut Usamah, lebih baik Al Khaththath istirahat terlebih dahulu. Usulan itu pun diterima. Akhirnya mereka berbelok ke arah Sentul City menuju Hotel Aston. Sesampai di lokasi ternyata kamar di hotel itu full. Tinggal satu saja, President Suit. Mau tidak mau diambillah kamar tersebut. 

Sebelum Bukhori datang, di ruang tamu itu Al Khaththath bicara cukup serius dengan Usamah. Topiknya terkait aktivitasnya di  dalam tahanan dan pertemuan antara dirinya dengan Ki Gendeng Pamungkas, yang dikenal sebagai paranormal dan dimasukkan ke tahanan dengan tuduhan SARA. 

“Ki Gendeng Pamungkas memberikan saran, supaya umat Islam keluar dari berbagai persoalan harus dilakukan gerakan shalat subuh berjamaah,” kata Usamah kepada Suara Islam di suatu sore di kantornya, kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. 

Gayung pun bersambut. Nyambung. PARMUSI, kata Usamah, juga memiliki program gerakan shalat subuh berjamaah. Program ini bahkan telah dicanangkan di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, tahun lalu bertepatan dengan Mukernas II Parmusi. “Ketika PARMUSI mencanangkan, kurang menggema, sambutannya kurang,” kata dia. 

Lalu Usamah pun memberikan saran. Untuk mewujudkan gagasan itu perlu dibuat sebuah gerakan yang berbasis di masjid. Keduanya pun sepakat. 

Selang dua pekan kemudian, Al Khaththath menghubungi Usamah. Ia menyodorkan nama Forum Silaturahim Subuh (FSS). Menurut Usamah, shalat subuh berjamaah ini harus menjadi sebuah gerakan bagi bangsa Indonesia. Karena itu ia mengusulkan Gerakan Indonesia Shalat Subuh Berjamaah disingkat GISS. 

Bukan tanpa alasan nama GISS itu diusulkan. Nama itu dipandang memiliki brand awareness, sehingga lebih mudah diingat oleh masyarakat. GISS juga terdiri dari satu suku kata saja yang sangat mudah dilafalkan. Dengan nama ini pula, tidak berarti Gerakan Indonesia Shalat Subuh Berjamaah akan mengeliminir gerakan-gerakan shalat subuh yang lain, baik yang bernama gerakan subuh berjamaah, subuh gabungan, termasuk Gerakan Nasional Shalat Subuh (GNSS) yang sudah berjalan.

“Semua brand yang ada sekarang tetap berjalan, tetapi ada brand baru Indonesia Shalat Subuh,” jelas Usamah yang juga Ketua Umum Kerukunan Keluarga Muslim BSD (KKMB). 

Setelah nama dan logo disepakati, kemudian dilakukan peluncuran GISS di berbagai masjid di Jakarta dan Tangerang. Di Jakarta, deklarasi GISS pertama kali dilakukan di Masjid Al Falah, Pejompongan. Kemudian dilanjutkan di Masjid Salamah, Cibubur, Jakarta Timur. Di Tangerang, GISS dideklarasikan di Masjid As-Syarif Al Azhar, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan. 

“Sekarang ini antusiasme masyarakat luar biasa dahsyat. Dimana-mana minta Al Khaththath datang mendeklarasikan GISS,” kata Usamah. 

Ditunjuk sebagai Sekretaris Nasional (Seknas) GISS, Usamah sempat diprotes oleh jajaran pengurus PARMUSI. “Kok Ketua Umum mau jadi sekretaris,” kata Usamah menirukan protes kawan-kawannya. 

Kepada jajaran pengurusnya, Usamah mengatakan posisi sebagai Seknas bukanlah yang dia cari. Jadi Ketua Umum PARMUSI saja sudah sangat sibuk. Tetapi demi menghormati sosok Al Khaththath yang dia nilai tulus dan lurus dan berjuang, ia menerima amanah itu saat diberikan dalam rapat di Masjid Az Zikra dengan sejumlah aktivis dan ulama. 

“Ana lihat koordinatornya nawaitunya lurus. Nggak ada muatan politik apapun. Oleh sebab itu ana mau. Karena ana sebagai Ketua Umum Parmusi juga sudah sibuk,” kata dia. 

Shalat Subuh Seramai Shalat Jumat

GISS dilahirkan dalam sebuah musyawarah sejumlah ulama dan aktivis pergerakan Islam pada Jumat, 4 Agustus 2017 di Masjid Az-Zikra, Sentul, Bogor. 

Tugas utama GISS adalah menjalin kerja sama dengan seluruh organisasi kemasyarakatan, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), lembaga-lembaga Islam untuk bersama-sama mengajak, mengimbau dan menggerakkan segenap komponen umat Islam, khususnya laki-laki untuk menunaikan ibadah shalat subuh berjamaah di masjid semata-mata agar keidupan bangsa Indonesia mendapat ridha Allah Swt. 

Koordinator Nasional GISS KH Muhammad Al Khaththath, mengatakan, saat ini sebagian besar masjid sudah mengadakan kegiatan shalat subuh berjamaah, meskipun banyak yang belum maksimal. Tetapi DKM cenderung pasif menunggu kedatangan jamaah hanya dengan azan. 

“Baru sebagian kecil DKM yang pro-aktif menggerakkan warga lingkungan agar shalat subuh di masjid,” ungkap dia. 

Oleh sebab itu, lanjut Al Khaththath, shalat subuh di masjid harus dijadikan suatu gerakan massif di seluruh Indonesia dengan memerankan DKM untuk bergerak mengajak warga setempat shalat Subuh di Masjid melalui pembentukan laskar/satgas masjid. 

GISS juga diharapkan menjadi identitas pergerakan Islam keindonesiaan yang akan go international. Dengan nama tersebut, orang lebih cepat menangkap bahwa shalat subuh sebagai suatu gerakan ada di Negara Indonesia bukan negara lain. GISS milik Indonesia. 

“GISS adalah Indonesia, Indonesia adalah GISS. Bila GISS sudah massif dan menjadi ikon nasional, secara faktual teritori GISS telah mencerminkan keindonesiaan yang Islami,” lanjutnya. 

Target jangka pendek GISS adalah, pada 2020 nanti, suasana shalat subuh di masjid-masjid di Indonesia sudah sama dengan shalat Jumat. Jika ini terjadi, kata Seknas GISS Usamah Hisyam, masyarakat akan lebih cepat memahami Islam. “Kita bisa melahirkan dan membangun pemimpin dari Masjid,” pungkas dia. 

[shodiq ramadhan]

0 Komentar