#Kriminalisasi Habib Rizieq

Tangkap dan Tahan Dahulu, Pengadilan Soal Lain

13 Juni 18:14 | Dilihat : 5622
 Tangkap dan Tahan Dahulu, Pengadilan Soal Lain  Habib Muhammad Rizieq Syihab menyampaikan ceramah di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan.

Jokowi bilang, ‘’Kerja... kerja... kerja.... Artinya, itu merupakan tekad bulat sang presiden untuk bekerja keras memakmurkan rakyat.  Itu juga berarti, segenap aparat pemerintahannya dari atas sampai terbawah untuk jangan banyak omong, melainkan harus terus bekerja untuk kepentingan rakyat.

Tapi kenyataannya selama lebih dua tahun menjadi Presiden, Jokowi bukanlah tipe pemimpin yang betah di kantor.  Ia lebih suka berkeliling ke mana-mana, apakah ke daerah mau pun ke luar negeri (tampaknya dia terhitung Presiden yang paling sering bepergian ke luar negeri). Walau pun begitu tak berarti hubungan kita dengan negara-negara sahabat menjadi lebih akrab.

Contohnya, hubungan Indonesia dengan Arab Saudi sekarang ini tak bisa dibilang dalam kondisi yang sangat baik, sekali pun Raja Salman belum lama ini berkunjung ke Indonesia, dan malah sempat berwisata ke Pulau Bali. Pada saat itu, Jokowi selalu terlihat mendampingi Raja Salman ke mana saja sang tamu melakukan kunjungan. Bahkan, tak cukup cuma mendampingi, Presiden Jokowi tak sungkan-sungkan memayungi Sang Raja agar terhindar dari sengatan panas matahari negeri tropis ini.

Tapi belakangan Presiden Jokowi tampak gondok, ketika media menulis bahwa investasi Arab Saudi jauh lebih besar jumlahnya di China dibanding di Indonesia. Saking gondoknya, Presiden Jokowi sempat membangkit-bangkit betapa dia menghormati Raja Salman begitu rupa, sampai-sampai dia payungi sendiri Sang Raja agar terhindar dari sengatan terik matahari Jakarta.

Tentu saja sikap Presiden terhadap Raja Salman itu kurang tepat. Jokowi menghormati tamunya adalah tindakan yang seharusnya, sesuai dengan basa-basi diplomasi internasional. Tapi soal investasi modalnya di Indonesia tentu soal lain lagi. Itu lebih tepat bila disebut tergantung hitung-hitungan bisnis. Pemodal menanamkan investasi di sebuah proyek di satu negara, bila menurut hitung-hitungannya investasi itu kelak mendatangkan untung  dan aman dari berbagai gangguan, termasuk gangguan instabilitas politik di negara itu.

Kalau Arab Saudi menanamkan modalnya jauh lebih besar di China dibanding Indonesia, artinya: iklim investasi di China memang lebih menarik dibanding Indonesia. Yang seharusnya dilakukan pemerintahan Presiden Jokowi adalah berusaha memperbaiki iklim investasi itu, bukan mengungkit-ungkit soal Presiden Jokowi memayungi Raja Salman ketika Sang Raja mengunjungi Jakarta.

Sekarang hubungan yang kurang ‘’mulus’’ itu semakin nyata, ketika polisi kita gagal memanggil pulang Habib Rizieq Syihab ke Indonesia. Habib Rizieq adalah seorang ulama yang amat berpengaruh, dan pendiri organisasi FPI (Front Pembela Islam). Adalah Habib Rizieq yang dianggap sebagai tokoh penting dibalik aksi 212, yang berhasil mengumpulkan jutaan ummat di kawasan Monas Jakarta, Desember lalu. Aksi ini mengejutkan orang sampai ke level dunia internasional, dan merupakan sesuatu yang belum pernah terjadi selama ini.

Gerakan itu sesungguhnya merupakan bentuk manifestasi kemarahan ummat Islam Jakarta terhadap Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang sekarang menjalani hukuman dua tahun penjara karena menghina Kitab Suci Alquran. Perlu diingatkan bahwa Ahok dulunya adalah pasangan Jokowi ketika memenangkan Pilkada DKI Jakarta. Hubungan keduanya dianggap dekat selama ini.

Malah menurut versi Ahok, Jokowi menjadi Presiden tak lepas dari ‘’bantuan’’ para pengembang pulau-pulau di Teluk Jakarta. Pembangunan pulau-pulau itu adalah ‘’hasil kerja’’ Gubernur Ahok. Jadi yang hendak dikatakan di sini oleh Ahok, bahwa dia punya peran atas naiknya Jokowi ke kursi Presiden.  Tampaknya saking dekatnya hubungannya dengan Jokowi, Ahok berani bicara terbuka kepada wartawan, tentang soal itu. Dan Presiden Jokowi diam saja, tak pernah membantah tuduhan Ahok tentang bantuan para pengembang teman-teman Ahok itu.

Yang jelas dari informasi yang beredar Ahok berteman dekat dengan Kapolri Tito Karnavian. Hubungan keduanya terbina ketika Ahok menjabat Gubernur Jakarta dan Jenderal Tito menjabat Kapolda Metro Jakarta. Sebagai bentuk kedekatan Gubernur Ahok dan Sang Kapolda, Pemda DKI membangunkan lapangan parkir Polda Metro Jaya.

Kalau Kepolisian memeriksa dan kemudian memposisikan Gubernur Ahok sebagai tersangka penistaan agama karena pernyataannya sebelumnya di Kepulauan Seribu, menurut informasi karena perintah Presiden Jokowi kepada Kapolri Tito Karnavian agar kasus penistaan agama itu ditangani dengan serius, sekali pun tersangkanya adalah Ahok. Seperti sama diketahui, Ahok kemudian divonis hukuman 2 tahun penjara oleh pengadilan, dan kini dia harus menjalani hukumannya.

Tampaknya hubungan Jokowi dengan Ahok sudah berakhir. Sampai Ahok dijebloskan ke penjara Cipinang dan kemudian dipindahkan ke Markas Komando Brimob di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Presiden Jokowi tak pernah menaruh perhatian, apalagi menjenguknya. Jadi bisa dibilang hubungan Jokowi dengan Ahok telah berakhir, sekali pun dulu keduanya pernah akrab sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta.

Jadi kalau sekarang Mabes Polri sedang memburu Habib Rizieq, itu tak ada hubungannya dengan Presiden Jokowi. Tampaknya, kalau pun mau dicari-cari itu lebih dekat hubungannya kepada Jenderal Tito Karnavian yang kini menjabat Kapolri. Seperti disebut tadi, ketika menjabat Kapolda Metro Jaya, Tito berteman dekat degan Gubernur DKI Ahok.   

Apa kesalahan Habib Rizieq? Ini dimulai dari seorang wanita yang bernama Firza Hussein. Wanita ini konon disebut kenal dengan Budi Gunawan yang kini Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Yang jelas, Firza kemudian terlihat rajin mengikuti pengajian oleh Habib Rizieq. Tiba-tiba belakangan beredar di internet sebuah tulisan yang seolah-olah omongan Habib Rizieq dengan Firza.

Tulisan di dunia maya itulah dijadikan alasan oleh polisi untuk memanggil dan memeriksa Habib Rizieq. Tuduhan polisi bahwa tulisan yang beredar di internet itu, mengandung konten pornografi. Padahal Habib Rizieq sedang berada di Arab Saudi, tentu ia tak bisa mengadiri panggilan polisi itu.

Anehnya, sampai sekarang Mabes Polri tak pernah mencari tahu siapa yang mengunggah tulisan tadi ke internet. Padahal menurut undang-undang yang ada, orang yang mengunggah konten pornografi itu, adalah pihak yang paling bertanggung jawab dan karenanya sudah semestinya orang itu seharusnya yang dicari polisi.

Oleh karenanya mudah dimengerti, mengapa polisi internasional (Interpol) yang dihubungi oleh Mabes Polri dalam kasus Habib Rizieq, ternyata menolak. Mereka dengan mudah melihat bahwa kasus ini adalah politis. Maka harapan polisi untuk segera memenjarakan Habib Riziek tampaknya akan gagal. Apalagi Habib Riziek telah mendapat surat izin tinggal selama setahun dari pemerintahArab Saudi.

Belakangan ini, Polri di zaman Presiden Jokowi  tampaknya senang bermain politik. Lihat kasus penangkapan sejumlah aktivis seperti Rahmawati  Soekarnoputri, Sri Bintang Pamungkas, Al-Khaththath, dan sejumlah nama lainnya. Mereka ditahan polisi berbulan-bulan, belakangan diam-diam mereka dibebaskan. Anehnya perkara mereka tak disidangkan di pengadilan. Dalam isoal  ini rupanya, polisi sudah menggantikan posisi Pangkopkamtib di zaman Orde Baru. Pada zaman Orba, Kopkamtib bisa menangkap dan menahan orang berbulan-bulan, kemudian dilepaskan tanpa pernah diadili, sebagaimana sekarang dialami Bintang Pamungkas, Rachmawati Soekarno, dan kawan-kawan.

[AMRAN NASUTION]

0 Komentar