Kasus Taat Pribadi: Dari Pembunuhan Hingga Emas Batangan Bergambar Palu Arit

Senin, 03 Oktober 2016 - 17:50 WIB | Dilihat : 7579
Kasus Taat Pribadi: Dari Pembunuhan Hingga Emas Batangan Bergambar Palu Arit Emas batangan berlogo palu arit yang dimiliki Taat Pribadi. (foto: detik.com)

 

Surabaya (SI Online) - Sebelumnya masih terbatas dipersangkakan sebagai otak dari pembunuhan terhadap dua orang pengikut dekatnya. Kini, setelah Posko Kepolisian menerima pengaduan dan sejumlah barang bukti, Taat Pribadi  Jumat (30 September 2016) sore kemarin, resmi pula dipersangkakan berlapis dengan penipuan yang mengakibatkan kerugian ratusan miliar rupiah.
 
Terkait perkara Taat Pribadi yang sedang berkembang, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur membuka Pos Komando (Posko) untuk menampung pengaduan masyarakat luas. Dibuat Posko, karena yang menjadi korban kemungkinan hingga mencapai ribuan orang. Posko  dibuka didua tempat; di Polres Probolinggo dan di Polda Jawa Timur; serta tidak menutup kemungkinan, pengaduan warga masyarakat, dapat pula disampaikan di jajaran kepolisian di manapun di seluruh Indonesia.
 
Dari sejumlah pengaduan melalui Posko di Polda Jawa Timur hingga Jum’at (30 September 2016) kemarin, diterima laporan berikut barang bukti berupa  logam-logam dalam kantongan kain berwarna merah,  berbentuk perhiasan;  terdiri dari gelang, cincin,  dan kalung, menyerupai emas namun palsu. 
 
Sebuah kotak kayu, berisi batangan logam warna kuning emas,  namun juga emas palsu.  Pada emas palsu batangan, tercetak beragam gambar. Diantaranya ada yang  bergambar kepala bersongkok; menyerupai potret Presiden Soekarno. Paling mengejutkan ada pula batangan dengan gambar logo palu arit,  berbentuk persis dengan yang pernah dipakai sebagai logo sebuah partai terlarang.
 
Seorang petugas mengungkap, logam-logam berwarna kuning “sepuhan” emas tersebut, ketika menimpa  meja berlapis kaca; mengeluarkan bunyi yang sama dengan bunyi emas asli. Dari  pengusutan yang kini telah ditingkatkan menjadi penyidikan, mungkin perkara dapat dikembangkan menjadi lebih berlapis lagi;  terutama terkait ada logam batangan bergambar palu arit, logo terlarang di Indonesia. 
 
Sejumlah barang bukti tersebut terakhkir diterima dari M. Nur Najmul Muin, putra bungsu Almarhumah Hj. Najmiah Muin dari Makassar,  yang sejauh ini, sudah banyak disebut  sebagai  korban penipuan Taat Pribadi yang paling besar, dengan nilai kerugian lebih dari Rp 200 miliar, berupa uang tunai dan belum termasuk sejumlah barang berharga.
 
Bergelar Raja
 
Sebagai ganti, Taat Pribadi, memberi sejumlah benda yang disebutnya akan dapat menjadi benda-benda berharga,  berlipat jumlahnya dari benda berharga yang telah diberikan. Termasuk logam batangan menyerupai emas batangan dan sejumlah perhiasan emas palsu, disebut sebagai emas muda, dalam waktu sebulan akan berubah menjadi emas murni.
 
M. Nur Najmul Muin, saat berada di Mapolda Jawa Timur membeber penipuan tersebut, dan Jumat sore kemarin sekira pukul 16.00, resmi melapor ke Polda Jawa Timur. Kedatangannya didampingi Akbar Faizal,  kerabat dekatnya yang juga anggota Komisi III DPR. Dengan membawa satu kopor berisi alat bukti, langsung masuk ke ruang Kapolda Jawa Timur, Irjen Anton Setijadi. Namun hanya selama sekitar 15 menit di ruang ini, kemudian diantar petugas ke gedung Direktorat Reserse dan Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur, untuk menyampaikan laporannya. 
 
Kepada sejumlah wartawan yang setia menunggu up date perkara menghebohkan ini, M. Nur. Najmul Muin mengungkap; sebenarnya sudah cukup lama ingin melaporkan Taat Pribadi, yang menyebut dirinya Dimas Kanjeng, Guru Besar Padepokan bergelar Sri Raja Prabu Rajasanagara.  Namun, setiap hendak melapor, almarhumah ibunya, Hj. Najmiah, selalu mencegah dan meminta agar bersabar.
 
Diungkap pula, M. Nur Najmul Muin, semula tidak mengetahui almarhumah ibunya menjadi pengikut Taat Pribadi. Baru mengetahui di dalam tahun 2015, berbarengan dengan kondisi keuangan perusahaan ibunya sedang goyah. Almarhumah Hj. Najmiah Muin ternyata  sejak tahun 2014, yaitu setelah salah satu utusan Taat Pribadi yang menyebut diri sebagai Khalifah, datang dan menggelar sebuah acara  memukau di Makassar.  
 
Sejak itu, Hj. Najmiah yang pengusaha besar ini, menyerahkan duit secara bertahab. Hingga saat ini, total uang tunai yang sudah diserahkan lebih dari Rp200 miliar, belum termasuk sejumlah barang berharga lainnya. dahulu.
 
“Pernah sekali diminta membantu pengawalan penghantaran uang Rp10 miliar tunai. Uang dalam lima koper, masing-masing berisi Rp2 miliar, pecahan seratus ribuan,  untuk diserahkan ke Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Dusun Sumber Cangkelek, Kelurahan Wangkal, Kdecamatan Gading Kabupaten Probolinggo. Saat itu, pergi bersama Ibu dan beberapa saudara. Terpikir, lima kopor berisi baju. Setelah akan naik pesawat, baru mengetahui berisi uang, menyusul ketika dalam pemeriksaan barang, ada masalah, karena koper berisi uang tunai dalam jumlah sangat besar,” ungkap M. Nur Najmul Muin.
 
Perkara Berlapis
 
Sebelumnya Polisi juga menerima laporan dari Prayitno Sukohadi, warga Kabupaten Jember-Jawa Timur, yang merasa dirugikan hingga mencapai Rp 900 juta. Uang diserahkan melalui Ismail Hidayah----orang dekat Taat Pribadi yang belakangan justru  menjadi korban penculikan dan pembenuhan. Kemudian ada pelapor lain yaitu; Rahmadi Suko Ari Wibowo, lahir di Blitar dan tinggal di Bondowoso, menyerahkan uang sebesar Rp1,5 miliar, yang jelas-jelas  disebut untuk digandakan jumlahnya.
 
Dua bukti laporan dari dua orang ini, diangkat dalam gelar perkara di Mapolda Jawa Timur. Dalam kesempatan itu, Kabidhumas Polda Jawa Timur Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menyebut, penyidik membeber dua alat bukti dari dua pelapor,  sudah dapat menyimpulkan perbuatan Taat Pribadi telah memenuhi unsur pada Pasal tindak pidana penipuan, dan menegaskan Taat Pribadi sudah menjadi tersangka; sehingga statusnya dinaikkan dari pengusutan menjadi penyidikan. Persangkaan itu kemudian menjadi lebih kuat lagi, setelah M. Nur Najmul Muin, melapor dan menambah alat bukti. 
 
Jadilah, Taat Pribadi, berhadapan perkara berlapis. Disamping terlibat sebagai otak pembunuhan berencana terhadap dua orang dekatnya, Ismail Hidayah dan Abdul Ghani, juga perkara penipuan bernilai ratusan miliar rupiah, dan mungkin terkait pula kematian mendadak Hj. Najmiah di Makassar.
 
Akbar Faizal, anggota Komisi III DPR, kerabat dekat Hj. Najmiah, saat berada di Mapolda Jawa Timur sempat mengungkap kecurigaan atas  kematian Hj. Najmiah, yang tidak kecil kemungkinan juga terkait dengan Taat Pribadi. Sebab, Hj. Najmiah sebelumnya tidak mengeluh sakit. Tetapi, dengan sangat tiba-tiba mengeluh sakit, setelah meminum "air doa"  yang didapat dari Taat Pribadi.   
 
 Rep : Muhammad Halwan/dbs
0 Komentar