Syawalan, Tradisi Meriah Saat dan Sesudah Lebaran

Senin, 11 Juli 2016 - 10:39 WIB | Dilihat : 989
Syawalan, Tradisi Meriah Saat dan Sesudah Lebaran Grebeg Syawal di Keraton Yogyakarta

Yogyakarta (SI Online) - Di Kota Raja Yogyakarta dan kota-kota di sekitarnya di  wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur bagian barat, hingga empat-lima hari setelah Lebaran lewat tepatnya di sekitar Sabtu dan Minggu (9-10 Juli 2016) ada berbagai bentuk kemeriahan yang telah menjadi tradisi. Kemeriahan itu umumnya disebut dengan Syawalan. 

Tempat-tempat wisata di Yogyakarta, seperti kebun binatang Gembira Loka dan pantai laut selatan di Parangtritis yang diantaranya disebut Pantai Samas, dipadati pengunjung. Di lingkungan candi Prambanan di perbatasan dengan Jawa Tengah, dipadati ribuan pengunjung. Di  selatan kota Kabupaten Klaten-Jawa Tengah, kendati hanya berupa bendung kecil atau embung penampung air di perbukitan yang ditanami pohon jambu yang berbuah lebat, dikenal dengan sebutan Rowo Jombor;  juga padat pengunjung menjadi pilihan menghabiskan libur Lebaran. Satu-satunya akses hanya berupa jalanan pedesaan, namun beraspal  ‘mulus’ da tidak terlalu luas, kontan menjadi macet. 
 
Di Kota Surakarta, Kebun Binatang Satwa Taru dan Taman Gesang Maestro Kroncong serta taman-taman lain di Jurug tepian barat Bengawan Solo, juga menjadi target serbuan pengunjung Syawalan di sekitar Lebaran. Akses ke tempat wisata yang juga sebagai jalur jalan raya di mulut kota Surakarta dari arah timur (Sragen dan Karanganyar), terjadi kemacetan yang cukup parah.
 
Puncak kemeriahan Syawalan, adalah hari ke tujuh setelah Lebaran. Pada Tahun ini adalah di hari Selasa atau Rabu (12-13 Juli 2016). Hari-hari tersebut  dikenal dengan sebutan Kupatan.  Berbeda dengan di wilayah Jakarta dan sekitarnya, kupat atau ketupat, justru menjadi sajian utama di saat hari Lebaran. Disajikan dengan diiris-iris kemudian diguyur opor ayam berkuah santan kental dan di atasnya ditaburi bubuk (halus) kedelai yang gurih. 
 
Kupatan, berbahan beras, dalam tradisi Jawa;  untuk memaknai pengakuan salah (lepat) dan permintaan maaf. Kecuali Ketupat yang dibungkus anyaman daun kelapa masih muda (janur), masih dilengkapi dengan lepet yang gurih, terbuat dari beras ketan dengan serutan kelapa muda dan juga dibungkus janur namun tidak dianyam yang diikat dengan tali dari iratan bambu.
 
Kupatan di hari ke tujuh setelah Lebaran, juga menandai berakhirnya Puasa Syawal enam hari. Kerenanya, Kupatan juga disebut dengan Riaya Kupat (Hari Raya Ketupat). Menandai pengakuan salah dan permintaan maaf.  Rangkaian sajian makanan (Ketupat, Lepet lengkap dengan Opor Ayam dan Sambal Goreng Kentang + Hati) ini,  kemudian menjadi hantaran;  ke sanak famili, saudara atau kerabat dekat dan jauh, sahabat dan para tetangga.
 
Grebeg Syawal
 
Tradisi Kupatan  yang hingga sekarang di kota-kota di Jawa Timur bagian barat---diantaranya di Kota dan Kabupaten Madiun, Pacitan, Ponorogo, Magetan dan Ngawi, masih sangat dipertahankan.  Pasar tradisional  kembali sepenuhnya memulai aktivitas di hari ke empat setelah Lebaran Minggu  (10 juli 2016). Sejak itu, sudah ada yang menawarkan mata dagangan pembungkus ketupat yang terbuat dari anyaman janur berwarna hijau kekuningan. Ketupatan sebenarnya cukup ribet dalam mempersiapkan. Karenanya dalam tradisi ini, sajian makanan ketupat, diantaranya ada yang mengganti dengan Lontong/Tepo, juga terbuat dari beras  namun dengan pembungkus daun pisang. 
 
Di “Kota-Raja” Yogyakarta kemeriahan Lebaran, terasa terutama setelah salat Idul Fitri.  Saat yang paling ditunggu oleh masyarakat kota Yogyakarta, adalah puncak Grebeg Syawal. Ditandai sepasang gunungan (menggambarkan Lanang-wadon/lelaki-perempuan), dibuat dari susunan berbagai jenis hasil bumi hingga membentuk tumpeng besar---menggunung,  dibawa  keluar dari gerbang halaman Masjid Agung. Di arak oleh para prajurit kerajaan menuju ke tengah alun-alun utara kota Yogyakarta.
 
Di tengah alun-alun ini, warga masyarakat yang menunggu sejak pagi, memperebutkan segala macam hasil bumi yang tersusun menjadi semacam gunungan tumpeng besar. Mereka berkeyakinan, dua gunungan itu sebagai lambang keberkahan dari bumi yang gemah ripah loh jinawi---bumi subur dan mampu memberikan hasil yang melimpah ruah. Karenanya, yang sudah terlanjur salah kaprah,  apapun yang ada di dua gunungan diperebutkan. Kemudian apapun yang didapat, dibawa pulang dan dijadikan semacam jimat. 
 
Menyertai kemeriahan Grebeg Syawal di tengah alun-alun utara kota Yogyakarta ini, terdapat puluhan penjaja jajanan khas yang hanya ada setahun sekali----hanya ada di saat  Grebeg Syawal. Diantaranya; telur bebek direbus dan diberi warna merah. Telur masak ini, dijajakan dengan ditusuk bilah bambu (menjadi seperti sate). Satu tusuk berisi tiga telur, dijual ddengan harga Rp 15 ribu. Anak-anak, pulang dari kemeriahan Sawalan di alun-alun, ada yang membonceng sepeda motor orang tuanya,  tampak riang ceria--senang sekali,  membawa setusuk telur bebek.  
 
Panjat Pinang
 
Prosesi arak-arakkan gunungan yang dilakukan keluarga Keraton Ngayogyakarta, juga dilakukan oleh keluarga Trah Pakualam, di lingkungan Puro Kadipaten Pakualaman. Seluruh keluarga Trah dari Pakualam I hingga X  hadir dipersilakan mengambil isi gunungan. Setelah itu gunungan di serahkan kepada para prajurit agar di bawa ke Alun-alun Sewandanan, isinya untuk diperebutkan oleh warga yang sudah menunggu. Sementara pada Trah Hamengku Buwana, setelah upacara “sungkeman pangabekten”  gunungn diarak menuju Masjid Gedhe Kauman. Penghulu Keraton Ngayogyakarta memberikan doa, dan dua Gunungan diarak ke Alun-alun, isi gunungn untuk diperebutkan segenap warga.  
 
 
Tradisi Grebeg Syawal yang dikaitkan dengan hari besar keagamaan Islam---Idul Fitri, dilakukan sudah turun-temurun dari masa Sultan Hamengku Buwono I hingga X yang saat ini bertahta, serta dari masa Adipati Pakualam I hingga X yang saat ini bertahta. Dipertahankan hingga sekarang, bahkan kemudian banyak pihak menyebut pula sebagai sarana perekat bbagi terjalinnya tali silaturahmi dari segenap keluarga di ke dua trah ningrat ini. 
 
Sementara itu di kampung-kampung,  Syawalan dengan berbagai bentuk kemeriahan setelah Lebaran, juga tidak kalah meriahnya. Pentas-pentas musik—terutama musik dangdut digelar di berbagai tempat desinasi wisata, sebagai penambah daya tarik agar tempat  wisata terangkat menjadi ramai pengunjung.  Pesta rakyat lainnya juga diselenggarakan hingga di pelosok-pelosok kampung.
 
Pergelaran panjat pinang dijumpai dibanyak tempat. Diantaranya, Seperti di Desa Kedungputri  Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi. Bahkan yang digelar di halaman Masjid Nur Iman; sebuah masjid persis di perbatasan Desa Teguhan dengan Desa Jambangan Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi Jawa Timur, tidak hanya panjat pinang, melainkan juga panjat pohon pisang dan berbagai lomba lainnya untuk anak-anak.
 
Sejumlah warga yang tengah mudik dari Jakarta, yang dikoordinir Sarimin, menjadi penyandang dana untuk  menyelenggarakan kemeriahan bagi para tetanggganya. ‘Tahun lalu saat Lebaran,  kami banyak yang tidak dapat pulang, sehingga kemeriahan ini tidak dapat berlangsung,” ungkap salah seorang perantau.
 
Panjat Pinang untuk dewasa, dan panjat batang pisang untuk anak-anak. Hadiah yang disediakan sangat beragam. Ada buku tulis, sandal, sepatu, baju, kaos dan celana. Untuk Panjat Batang Pinang,  menjadi sangat menarik, karena tersedia hadiah uang tunai 50-an dan seratus ribuan, ada pula TV, radio, CD player, kipas angin dan seekor kambing.  Setelah tuntas, kambing kemudian dipotong dan dibakar ramai-ramai hingga dini hari.
 
Pohon pinang, sulit di dapat. Kemudian diganti dengan batang bambu yang sudah dihaluskan, setinggi lebih meter. dilicinkan dengan olie bekas berwarna hitam. Di puncak bambu ini,  digantung hadiah. Di puncak dikibarkan bendera, yang berhasil mencapai puncak  tersedia hadiah sebuah TV. Cukup meriah, menjadi tontonan menarik. Ada satu regu peserta, hampir berhasil menggapai hadiah puncak, tumpuannya goyah. Mereka gagal dan meluncur kembali  ke bawah. Bgi yang gagal, masih mendapat kesempatan berikutnya, untuk kembali memanjat.
 
Rep  : Muhammad Halwan
0 Komentar