Dari Utara Rakyat Melawan (Bag-2)

Jumat, 03 Juni 2016 - 11:17 WIB | Dilihat : 1727
 Dari Utara Rakyat Melawan (Bag-2) Masjid Keramat Luar Batang (foto: shodiq/si)

 

Sekretaris Masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, Mansur Amin menilai penggusuran Luar Batang oleh Pemprov DKI Jakarta adalah sebuah penjajahan gaya baru yang hanya menguntungkan pihak pengembang.
 
Atas dasar itulah, Mansur bersama warga akan mempertahankan Kampung Luar Batang, yang diketahui masuk ke dalam salah satu cagar budaya di Jakarta. Untuk itu warga telah menggandeng mantan Menteri Kehakiman Yusril Ihza Mahendra sebagai kuasa hukumnya. Dari Utara warga melawan. 
 
"Saya sudah ketemu dengan Pak Yusril makan malam. Pak Yusril udah pesan terus berjuang. Berjuang sama-sama, intinya, ya kita jihad fisabillah lah?," katanya. 
 
Kuasa hukum warga Luar Batang, Yusril Ihza Mahendra, pada Sabtu petang (21/5/2016) kembali datang dan berdialog dengan warga Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Ia datang bersama salah seorang kawannya yang juga Wali Kota South Windsor, New York, Amerika Serikat, Saud Anwar.
 
Tak kurang 500 warga hadir dalam dialog yang digelar di halaman masjid Luar Batang. Kepada warga, Yusril mengingatkan mereka tidak terprovokasi melakukan aksi kekerasan meskipun ada beberapa warga yang luka-luka saat mengikuti aksi unjuk rasa di depan Balai Kota Pemprov DKI dan Gedung KPK, Jumat (20/5/2016) sehari sebelumnya.
 
Yusril menambahkan, dirinya sebagai kuasa hukum warga Luar Batang akan tetap menempuh jalur hukum menghadapi rencana Pemprov DKI menggusur kampung Luar Batang. Selain itu, Yusril dalam waktu dekat juga berencana melakukan gugatan class action terhadap Pemprov DKI.
 
"Kami tetap akan menempuh langkah hukum, seperti yang kami lakukan di Bidara Cina. Kita akan melakukan gugatan, tetapi di Luar Batang ini tidak ada surat putusan makanya akan kita tempuh class action untuk mencegah penggusuran," kata Yusril melalui keterangan tertulisnya Ahad (22/5/2016). 
 
Pemerintah Provinsi DKI, kata Yusril, mestinya tidak memaksakan kehendak untuk menggusur Kampung Luar Batang. Selain secara hukum posisi Pemprov DKI lemah, sudah banyak ormas Islam dan LSM yang meminta agar kampung Luar Batang tidak digusur.
 
Yusril menegaskan, penggusuran terhadap kampung Luar Batang merupakan upaya menghancurkan peradaban. Sebab, penggusuran akan memisahkan masyarakat dan budayanya dari Masjid Luar Batang yang merupakan simbol Islam. 
 
"Buat apa merenovasi masjid menjadi lebih mewah dan plaza perparkiran yang megah kalau masyarakatnya disingkirkan dari situ?," kata Yusril.
 
Sebelumnya Yusril juga mengungkap, sejatinya Gubernur Ahok tidaklah sehebat omongannya. Ahok yang selama ini sok jagoan dengan sesumbar menantang rakyat agar melawan Pemprov DKI di pengadilan nyatanya malah keok di pengadilan.
 
Ia mencontohkan, Ahok ternyata tidak berkutik setelah PTUN Jakarta memenangkan gugatan warga Bidara Cina. Padahal sebelumnya Ahok selalu sesumbar agar warga melawan dirinya di pengadilan.
 
"SK Gubernur DKI No. 2779 yang diteken Ahok tahun 2015 yang memperluas lahan rakyat yang digusur untuk pelebaran sungai di Bidara Cina dinyatakan oleh PTUN bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan asas-asas umum pemerintahan yang baik," ujar Yusril.
 
Bersamaan dengan itu, gugatan class action warga Bidara Cina atas SK yang diteken Gubernur Jokowi dan SK 2779 yang diteken Ahok diputuskan oleh hakim PN Jakarta Pusat untuk ditunda pelaksanaannya sampai ada putusan hakim yang berkekuatan tetap.
 
"Kedua SK Gubernur DKI itu juga terkait penggusuran tanah rakyat di Bidara Cina yang dilakukan tanpa perundingan, tanpa kesepakatan dan tanpa ganti rugi," ujarnya. 
 
Menurut Yusril, dari dua perkara ini ternyata Ahok tidaklah sesakti yang dia duga. Apalagi Ahok dua kali keok di pengadilan. 
 
"Sekarang masih nantang lagi agar kami menggugatnya di pengadilan sehubungan dengan rencananya untuk menyerobot tanah rakyat di Luar Batang. Coba kalau berani Ahok keluarkan SK penggusuran di Luar Batang. Saya yakin Ahok bakal keok untuk kesekian kalinya melawan rakyat di pengadilan," tutupnya.
 
Warga Luar Batang sudah menyerahkan sepenuhnya urusan class action kepada Yusril.  "Untuk masalah hukum masyarakat Luar Batang sepenuhnya percaya dengan Bang Yusril, bukan 100 persen tapi satu miliar persen dengan Bang Yusril, jadi tindakan apapun yang beliau lakukan ya kami ikut saja, karena kami tidak ngerti hukum sedangkan beliau pakar hukum," ujar Juru Bicara Masyarakat Luar Batang Mansur Amin. [HABIS]


[shodiq ramadhan]
 
0 Komentar