Jalal Terpojok di Milenium

Senin, 16 Maret 2015 - 13:58 WIB | Dilihat : 31836
Jalal Terpojok di Milenium

Jalaluddin Rahmat, dedengkot Syiah Indonesia keteteran menghadapi argumentasi dan bantahan ilmiah yang dilontarkan ustaz muda, Fahmi Salim.

Mukanya terlihat merah seperti menahan amarah, geraknya terlihat panik kurang tenang. Tak cukup sambil duduk, Jalaluddin Rahmat (66) yang ketika itu mengenakan baju hitam lengan panjang dan celana abu-abu, harus berdiri. Suaranya meninggi tapi agak gemetar. Sekitar 30 orang yang menyaksikan adegan itu pun terdiam.

Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat Ustaz Fahmi Salim (35) masih merekam peristiwa tiga tahun lalu itu, tepatnya pada Senin 17 Desember 2012 di ruang Melati, Hotel Milenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Fahmi hadir dalam acara itu sebagai pembanding atas buku berjudul “40 Masalah Syiah” karya istri Jalal, Emilia Renita Az, yang hari itu dibedah oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Agama (Balitbang Kemenag).

Fahmi mengaku, hari itu merupakan pertemuan keduanya dengan Jalal. Sebelumnya, dia telah bertemu dengan Jalal di PP Muhammadiyah dalam diskusi rekonstruksi hubungan Sunni-Syi’i.

Hari itu, seyogyanya yang akan membedah buku setebal 240 halaman itu adalah penulisnya sendiri, Emilia. Sayang, Emilia masih berada di Karbala.

Namun demikian, peran Jalal dalam penyusunan buku itu juga tidak sedikit. Selain sebagai editor, ia mengaku juga melakukan berbagai tugas dalam penyusunan buku ini. "Saya masuk ke dalam buku ini sebagai penyunting, penggunting, pembanding dan pembanting," katanya.

Sementara istrinya, dalam kata pengantarnya malah menuliskan, "(sebetulnya, saya malu kalau saya claimed, buku ini hasil saya sendiri padahal suami saya kerja lebih keras dari saya!!...)". Artinya, buku ini memang tidak murni karya Emilia, ada saham Jalal di sana.

Dalam pemaparannya, Jalal tidak menjelaskan seluruh isi buku itu. Menurutnya, perbedaan antara Sunni dan Syi'i banyak yang tidak esensial. Soal nikah mut'ah contohnya, kata Jalal, tidak esensial. Maka, Jalal hanya membahas satu persoalan saja yang merupakan perbedaan esensi (mendasar) antara Sunni dan Syi'i, yakni tentang wasiyat Rasulullah kepada Ahlul Bayt.

Intinya, kata Ketua Dewan Syuro Ikatan Ahlul Bait Indonsia (Ijabi) itu, Syiah meyakini Rasulullah berwasiyat kepada Ahlul Bayt dalam soal kepemimpinan, sementara Ahlussunnah tidak meyakini. Dari konsep inilah kemudian konsep-konsep lainnya menjadi berbeda. Itu saja yang dijelaskan Jalal dalam sesi pemaparan. Padahal isi buku yang dibedah itu sangatlah luas, yang mencakup soal: Alquran, hadits, akidah, dan fiqh.

Berbeda dengan Jalal, giliran mendapatkan waktu untuk menyampaikan tanggapan, Ustaz Fahmi Salim ternyata menyampaikan secara komprehensif. Kesempatan itu digunakan Fahmi untuk menyampaikan kritik dan beragam koreksi atas banyakanya kekeliruan dalam buku yang dijadikan sebagai panduan dakwah anggota Ijabi itu.

"Buku ini tipis, tapi banyak sekali mengutip buku-buku yang ditulis ulama-ulama Ahlusunnah. Harapan saya Ibu Emilia ini bisa hadir sekedar untuk memverifikasi apakah beliau betul-betul sudah melihat catatan-catatan kaki yang ditulis dalam kitab-kitab Ahlusunnah," kata master dalam bidang tafsir Alquran dari Universitas Al Azhar, Kairo ini.

Maka Fahmi pun secara kritis menyampaikan catatan-catatannya. Menurutnya, sebagai buku resmi panduan dakwah anggota Ijabi, buku karya Emilia itu hadir bukan untuk mendamaikan tetapi malah mengundang konflik antara Sunni dan Syiah. Sebab dalam buku itu berserakan fitnah dan hujatan kepada istri dan sahabat Nabi Saw. “Selain memperkosa teks ayat dan hadits yang diarahkan untuk menopang ideologi mereka,” ungkapnya.

Pada halaman 43 buku itu, penulis menukil sebuah hadits tentang Aisyah yang ceroboh meletakkan sahifah di bawah tempat tidurnya, sehingga ketika Rasulullah meninggal sahifah itu tidak terurus dan kemudian masuklah kambing ke dalam dan memakannya. Ini dilakukan Emilia untuk membuktikan tuduhannya tentang adanya tahrif dalam hadits-hadits sahih kaum Sunni.

Menurut Fahmi, riwayat hadits yang ada tambahan"Masuklah kambing ke dalam dan memakannya" adalah riwayat yang dhaif, karena ada perawi yang majhul dan pendusta. Apalagi hadits itu hanya ada dalam riwayat Ibnu Majah.

"Ini adalah tambahan yang dibuat oleh Syiah Rafidhah. Syiah Rafidah ini beda dengan Syiah Zaidiyah. Mereka menolak keimamahan Abu Bakar dan Umar. Mencaci maki mereka, mencela, mengkafirkan mereka. Ini karakter khusus Syiah Rafidhah. Menurut para ulama, Syiah Rafidhah ini julukan untuk Syiah Imamiyah Istna Asyariyah," jelasnya.

Menurut Fahmi, dalam Sahih Muslim tidak ditemukan tambahan itu. Riwayat Ibnu Majah tidak bisa disamakan dalam satu catatan kaki sehingga seolah-olah riwayat Muslim sama dengan Ibnu Majah. Ini bisa membuat orang berkesimpulan ini sama. Padahal jika diteliti tidak demikian.

"Kita memang harus berhati-hati dan berkeringat dulu membaca buku ini untuk menelitinya. Jangan langsung diterima," kata Fahmi yang juga Wakil Sekjen MIUMI ini.

Ketidakjujuran intelektual dan ilmiah juga dipertontonkan penulis buku ini di halaman 54. Ketika membahas tentang hadits 12 khalifah, Emilia mengkritik Imam Ibn Hajar Al Asqalani dengan kalimatnya, "Dalam kebingungannya, Ibn Hajar al-Asqalani menulis, "Aku tidak menemukan seorang pun yang mengetahui secara pasti arti hadits ini". Emilia lantas menulis, "Aneh juga kalau ahli hadits sebesar Ibn Hajar tidak memahami arti hadits ini, padahal nama-nama dua belas imam diriwayatkan banyak sekali dalam khazanah Ahlussunah."

Yang dimaksud ulama Ahlussunah yang telah meriwayatkan bayak hadits terkait dengan masalah ini, menurut Emilia, adalah Al-Qanduz al-Hanafi, penulis buku Yanabi' al-Mawwadah.

"Hebat kutipan ini. Ulama hadits selama 1400 tahun tidak pernah menyebutkan dalam kitab hadits, sekarang ada ulama abad 15 yang menyebut ada banyak ulama Ahlussunah menulis nama 12 imam dan hanya menyebut satu orang, Al Qanduzi Al Hanafi," sindir Fahmi.

Lantas, Fahmi pun mulai membuka tabir siapa sesungguhnya Al Qanduzi al-Hanafi itu?. Di hadapan peserta diskusi, dengan gamblang dan disertai bukti-bukti kitabnya, Fahmi membeberkan bahwa Al Qanduzi al-Hanafi bukanlah ulama Sunni melainkan tokoh Syiah.

"Yanabi' al Mawwadah dikarang Sulaiman bin Ibrahim Al Qanduzi Al Hanafi, disebut ini adalah karya tulis Syiah. Al Qanduzi ini banyak menukil dari Jakfar Shadiq. Ini bukan tulisan ulama Ahlusunnah, ini Syiah," ungkapnya.

Fahmi pun lantas mempefrtanyakan di mana kejujuran intelektual dan ilmiah penulis buku "40 Masalah Syiah" itu. "Mana kejujuran intelektual dan ilmiah, dari penulis buku ini dan editornya ketika menyebut itu banyak kitab ulama Ahlussunah?", tanyanya.

Hal yang lebih fatal dan konyol juga ditulis Emilia dalam halaman 74. Dia menulis, "Syiah tidak pernah mengkafirkan semua sahabat Nabi Saw seperti kaum Khawarij. Tetapi Syiah juga tidak memaksumkan semua sahabat Nabi seperti Ahlussunnah."

Jelas dan tegas, Emilia menuduh kalangan Sunni menganggap sahabat Nabi terbebas dari kesalahan (ma'shum).

"Ini keliru pak. Ahlussunnah tidak pernah menganggap mereka maksum. Tolong dikoreksi. Ahlusunnah tidak pernah menganggap sahabat Nabi maksum, tapi mereka 'adil (adil) dalam meriwayatkan. Beda antara ishmah dan 'adalah," jelasnya.

Anehnya, setelah pada halaman 74 menuding bahwa Ahlusunnah memaksumkan sahabat, lantas pada halaman 76 Emilia menulis bahwa " 'adalah semua sahabat bertentangan dengan Alquran." "Ini berarti mengakui kesalahan sebelumnya. Ini tidak konsisten," komentar Fahmi.

Pemutarbalikkan fakta sejarah juga banyak dilakukan Emilia dalam buku ini. Pada halaman 83, ia menuduh istri dan sahabat Nabi, Aisyah, Thalhah, Zubayr dan sahabat-sahabat "yang satu aliran dengan mereka" memerangi Imam Ali. "Sebelumnya, mereka berkomplot untuk membunuh Utsman," tulisnya.

Fahmi membantah tuduhan gembong Syiah ini. Menurutnya ini merupakan tuduhan yang luar biasa terhadap para sahabat. Ia menduga tudingan ini diambil dari kitab Al Muraja'at, karangan Abdul Hussein Syarafuddin al-Musawi. Buku tersebut kini telah diterjemahkan dengan judul "Dialog Sunnah-Syiah".

"Ini tuduhan yang jahat, palsu sumbernya dan fiktif. Itu merupakan hasil dialog imajiner penulisnya dengan Syaikh Salim Al Bisyri, ulama Al Azhar. Al Azhar telah mengjklarifikasi hal ini, dan membuktikan bahwa buku itu palsu karena diterbitkan 20 tahun setelah Syaikh Al Bisyri meninggal," ungkapnya.

Jalal dan istrinya juga memfitnah sahabat Khalid bin Walid telah mengambil istri orang setelah Khalid membunuh suami perempuan itu. Tuduhan keji ini lantaran Khalid telah membunuh Malik bin Nuwairah, pimpinan kelompok yang menolak membayar zakat di masa Abu Bakar Asshiddiq.

"Bahwa Khalid membunuh Malik itu benar. Karena ini kemudian memunculkan Perang Riddah. Tapi menuduh Khalid bin Walid mengawini istri Malik di malam harinya, ini saya tidak melihat satupun sanad riwayat sejarah. Ini tuduhan palsu dan fitnah. Ini memecah belah umat Islam pak," tegasnya.

Mendapat serangan bertubi-tubi, rupanya cukup membuat Jalal keteteran. Apalagi bantahan atas tulisan istri Jalal itu juga disampaikan oleh salah satu peserta diskusi. Perwakilan Forum Umat Islam (FUI), HM Abu Saad misalnya, menyampaikan bahwa buku yang diterbitkan IJABI ini tidak konsisten.

Dalam soal jumlah Ahlul Bayt misalnya, di halaman 23 ditulis bahwa yang termasuk Ahlul Bayt hanya empat orang. Sementara pada halaman 92 jumlah Ahlul Bayt menjadi empat belas orang. "Apalagi sekarang, jumlah anggota Jemaah Ahlul Bayt menjadi lebih banyak lagi," katanya.

Karena amunisinya habis dan kesempatan untuk menjawab satu persatu persoalan tidak memungkinkan, maka alal berkali-kali meminta kepada Fahmi Salim agar memberikan semua makalah dan catatan kritiknya kepada dia. Tujuannya agar bisa dijawab dan terjadi dialog. "Saya ingin menanggapi secara ilmiah tanpa bicara (dengan kata-kata) manipulasi, kedustaan, fitnah, dan lainnya," kata Jalal.

Aneh, rupanya Jalal menganggap semua "serangan" yang datang dari Fahmi Salim dan peserta diskusi sebagai "violence communication". "Orang Syiah memang banyak yang tolol. Sebagaimana di Sunni juga banyak yang tolol. Tapi saya tidak termasuk yang tolol itu," katanya.

Para peserta pun hanya tersenyum penuh arti mendengar ungkapan Jalal. Jalal seperti lupa bila hujatan dia dan istrinya kepada para sahabat dan istri Nabi Saw lebih menyakitkan umat Islam karena telah menyerang pondasi ajaran Ahlussunah.

[shodiq ramadhan]

0 Komentar