Waspada, Kekuatan Anti Islam di Belakang Prabowo

Jumat, 20 Juni 2014 - 16:58 WIB | Dilihat : 24466
Waspada, Kekuatan Anti Islam di Belakang Prabowo Hashim Djojohadikusumo (kanan) saat berkunjung ke rumah Hary Tanoesoedibjo di kawasan Ciranjang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (22/5/2014).

Dukungan terhadap pasangan Prabowo-Hatta dari mayoritas umat Islam jangan sampai seperti cek kosong. Di belakang pasangan ini pun ada kekuatan anti Islam yang patut diwaspadai.


Rumah Polonia, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Senin 19 Mei 2014 siang. Halaman rumah yang pernah ditinggali oleh Ir Soekarno itu dipasang tenda yang didominasi warna putih dan merah. Pendukung-pendukung partai koalisi dan para tokohnya yang mengenakan seragam putih memenuhi halaman tempat deklarasi pasangan Prabowo-Hatta. Termasuk para habaib dan jamaahnya dari berbagai majelis taklim di Jakarta.

Sejak massa berkumpul, kumandang shalawat, tahmid, tahlil dan takbir terus berkumandang. Dipandu oleh artis yang kini lolos menjadi anggota DPR Dessy Ratnasari, acara deklarasi dimulai. Dessy sendiri tampil dengan busana muslimah dan kerudung putih yang rapi. Ustaz Ali Sibromalisi dengan syahdu membacakan ayat suci Alquran. Selanjutnya, penonton di seluruh Indonesia yang menyaksikan tayangan itu melalui siaran televisi pun dapat berkesimpulan bila deklarasi itu lebih mirip tabligh akbar ketimbang sebuah acara politik.

Betapa tidak Islami, selain Partai Gerindra dan Golkar, para pengusung pasangan Prabowo adalah partai-partai Islam dan berbasis massa Islam: PKS, PPP, PBB dan PAN. Hatta Rajasa, Ketua Umum PAN dan Cawapres, saat kuliah di ITB juga menjadi aktivis Salman ITB. Hatta anak didik Bang Imad atau lengkapnya Dr Imaduddin Abdul Rahim, seorang mentor aktivis Islam di zamannya.

Hingga kini, lebih dari 500 organisasi/relawan telah mendeklarasikan dukungannya terhadap pasangan ini di Rumah Polonia. Pun demikian dengan dukungan para relawan di berbagai daerah. Bila ditelisik, mayoritas mereka adalah umat Islam, tokoh-tokoh Islam dan ulama dari berbagai ormas dan pesantren.

Saat tim pemenangan diumumkan, bisa diketahui bila kubu Islam negeri ini berada di belakang pasangan ini. Amien Rais, KH Maemun Zubair, Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, Hj. Tuty Alawiyah, Hj. Suryani Tahir, Surachman Hidayat, Salim Segaf Aljufri, H. Rhoma Irama, Ahmad Satori Ismail, KH. Muslih Abdul Karim, duduk dalam jajaran Dewan Penasehat Tim Pemenangan. Sementara politisi Islam lainnya seperti Lukman Hakim Saifuddin, Sohibul Iman, Hidayat Nur Wahid, Al Muzamil Yusuf, Fuad Amsyari, Fuad Bawazier, Marwah Daud Ibrahim, duduk di jajaran Dewan Pakar. Selanjutnya tim pelaksana yang diketuai oleh Mahfud MD juga diisi oleh para politisi-politisi Muslim negeri ini.

Bagai euforia, pasangan ini dianggap sebagai representasi umat Islam. Mereka memahami dua pasangan calon dalam Pilpres 2014 ini –Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta- pada hakikatnya tidak ada yang memenuhi syarat idel sebagai calon pemimpin menurut islam. Tetapi, dengan menggunakan dasar kaidah “irtikab akhofu dhararain”  (menjalankan kerusakan yang lebih ringan diantara dua kerusakan) akhirnya para tokoh ormas Islam, kiyai, ulama, ramai-ramai berbondong-bondong mendukung Prabowo-Hatta.

Lalu, benarkah pasangan nomor urut satu ini benar-benar akan menjadi represantasi kekuatan umat Islam Indonesia?. Umat Islam tetap harus waspada. Di belakang Prabowo-Hatta juga terdapat anasir anti Islam.

Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo, yang duduk di Dewan Penasehat dan pengusaha Harry Tanoesoedibjo yang duduk di Dewan Pakar, setidaknya menjadi faktor negatif pasangan ini di mata umat Islam.

Harry Tanoesoedibjo (HT), taipan keturunan Cina kelahiran Surabaya, 26 September 1965 ini adalah bos MNC Group. MNC adalah raksasa baru dalam dunia informasi. RCTI, Global TV, MNC TV adalah bagian dari kelompok ini. Termasuk juga Radio Trijaya Network, Koran Sindo dan okezone.com. Pada 2011, menurut Forbes total kekayaan Hary berjumlah 1,19 miliar dolar AS. Karena itu ia duduk pada peringkat 22 dari 40 orang terkaya di Indonesia.

Permusuhan HT kepada umat Islam mengemuka taktala pada 2013 lalu ia nekad menggelar ajang kontes kecantikan Miss World di Bali. Sebelumnya, bahkan kontes maksiat itu akan digelar di SICC, Sentul, Bogor. Padahal kontes ini terang-terangan telah ditolak umat Islam se-Indonesia. Berulang kali kantor MNC di Kebon Sirih dikepung umat Islam, bahkan Imam Besar FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab turun langsung memimpin demonstrasi. Saat itu tekad telad bulat, bila HT tetap menggelar Miss World di SICC, umat Islam yang dimotori FUI dan FPI itu telah bersiap untuk mengepung dan menggagalkannya dengan segala akibat dan risikonya.

Bukan hanya 2013 lalu, dalam buku “Hary Tanoesoedibjo Apa (lagi) yang Dicari?”, halaman 157, rupanya ditulis bila HT telah menandatangani MoU penyelenggaraan Miss World 2013 dan 2015 di Indonesia dengan pimpinan Miss World Organization Julia Morley. Artinya, bila informasi ini benar, dan katakanlah Prabowo-Hatta nanti terpilih menjadi Presiden-Wakil Presiden, maka umat Islam yang saat ini turut mendukung Prabowo akan berhadapan lagi dengan HT pada 2015 mendatang.

Hary Tanoe sendiri adalah seorang politisi “kutu loncat”. Terjun ke politik, pertama kali singgah di Partai Nasdem pada 9 Oktober 2011. Di partai besutan bos Media Group Surya Paloh ini, HT diberi jabatan sebagai Ketua Dewan Pakar. Diisukan, saat bergabung dengan Partai Nasdem HT telah menggelontorkan dana senilai ratusan milyar, meski belum tentu berupa uang tetapi berupa spot iklan di tiga televisi MNC Grup. Namun rupanya nasib HT di Partai Nasdem tak bertahan lama. Terjadi perseteruan antara HT dengan SP soal jabatan di tubuh partai. Ujungnya HT keluar.

Keluar dari Partai Nasdem, bersama sekocinya HT mendirikan ormas Perindo (Persatuan Indonesia), hingga kemudian pada 17 Februari 2013, ia bergabung dengan partai besutan Wiranto, Hanura. Di Hanura, HT diberi jabatan tak kalah prestisius, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu). Tapi rupanya, kebersamaan HT di Hanura cukup satu tahun saja. Dianggap gagal mendongkrak perolehan suara partai pada Pileg 2014, sejumlah fungsionaris Hanura mulai bersuara mengusir HT. Ujungnya, ketika Hanura resmi berkoalisi dengan PDIP untuk mendukung pasangan Jokowi-JK, HT malah bersikap sebaliknya, mendukung Prabowo-Hatta. Maka diusirlah HT dari Hanura secara resmi.

Sosok lain yang dimungkinkan mengganjal aspirasi Islam adalah Hashim Djojohadikusumo. Hashim adalah adik kandung Prabowo Subianto sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Di mata Prabowo, adiknya inilah orang yang sangat berpengaruh bagi dirinya.

Baru-baru ini Hashim mengeluarkan sejumlah pernyataan kontroversial terkait Front Pembela Islam (FPI), Ahmadiyah dan GKI Yasmin-Bogor.

Dalam pernyataan yang disampaikan dihadapan Jakarta Foreign Correspondents Clubs (JFCC) pada Jumat (6/6/2014) lalu, Hashim menyatakan Gerindra dan lima partai pendukung lainnya yang mengusung pasangan capres/cawapres Prabowo Subianto - Hatta Rajasa menyatakan tidak akan mengikutsertakan organisasi Front Pembela Islam (FPI) dalam koalisi Merah Putih.

"Tidak, saya tidak akan bodoh untuk melakukan itu. Hanya politisi bodoh yang meminta mereka untuk tidak memilih kami. Tentu saya akan meminta mereka untuk memilih kami." tegasnya.

"Saya Kristen. Kakak perempuan saya Katolik. (Dan) Prabowo sudah berjanji kepada kami. Kita memang harus melakukan kompromi-kompromi taktis, tetapi kita tidak akan berkompromi dalam menjaga dan mempertahankan Pancasila," ujar adik Prabowo ini.

Tentang sikapnya terhadap kelompok minoritas seperti jemaat Ahmadiyah yang acap menjadi sasaran kekerasan kelompok-kelompok intoleran seperti FPI, Hashim menyatakan tugas pertama pemerintah adalah melindungi seluruh warga negara.

"Melindungi jemaat Ahmadiyah adalah tugas dasar pemerintah Indonesia berikutnya. Jika mereka menjalankan ibadah secara damai, tidak ada alasan bagi pemerintah atau siapa pun untuk mengganggu mereka."

Sebelumnya, dalam kesempatan berbeda Hashim juga mengatakan bahwa Prabowo Subianto mampu mengendalikan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan mengembalikan izin ibadah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin.

"Saya yang beri izin Prabowo untuk berkoalisi dengan PKS. Karena saya ingat Matius 10:16, yang intinya kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Karena bila Prabowo presiden, dia mampu kendalikan itu," ucap Hashim saat menghadiri Diskusi Publik Gereja Mendengar Visi Misi Capres 2014, yang diselenggarakan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), di aula Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, Senin (2/6/2014).

Soal kasus GKI Yasmin di Bogor, Hashim yang tak mengerti duduk persoalan ini lantang mengatakan bila Prabowo jadi presiden akan membuka gereja liar itu. "Perihal GKI Yasmin, di depan puluhan pendeta, Prabowo pernah katakan, bila nanti dia jadi presiden, dia akan perintahkan Kapolri untuk membuka kembali GKI Yasmin," tegas Hashim.

Jadi, waspadalah umat Islam. Jangan pernah lengah dan berikan cek kosong pada siapapun calon penguasa. Wallahu a’lam bissawab.

[shodiq ramadhan, dbs]

0 Komentar