Jokowi Antek AS dan Vatikan

Rabu, 23 April 2014 - 16:07 WIB | Dilihat : 367699
Jokowi Antek AS dan Vatikan Jokowi bersama seorang pengusaha yang juga tokoh CSIS Jacob Soetoyo (foto: elshaddaischool.com)

Gubernur Jakarta dan Capres PDIP itu bertemu secara tertutup dengan para dubes asing (termasuk Dubes AS dan Vatikan) di rumah seorang cukong. Untuk apa?
 

Gubernur Jakarta Joko Widodo alias Jokowi menghadapi babak baru dalam kehidupannya sebagai politisi. Inilah untuk pertama kalinya kunjungannya ke suatu tempat disambut kecaman dan caci-maki demonstran yang kemudian berujung kerusuhan.
 
Itu terjadi ketika calon presiden PDIP itu mengunjungi kampus ITB Bandung, Kamis, 17 April lalu. Jokowi yang biasanya dielu-elukan rakyat (yang sudah direkayasa tim suksesnya untuk menyambutnya setiap kali mengunjungi suatu tempat) kali ini  ditantang ratusan mahasiswa. Mereka berdemo menolak kunjungan Jokowi yang dituduh telah mempolitisasi kampus.
 
Jokowi yang berada satu mobil dengan Rektor ITB Akhmaloka hendak memaksa masuk ke dalam kampus. Tapi rupanya, ratusan mahasiswa telah menduduki akses masuk itu terlebih dahulu. Ratusan mahasiswa berkerumun di tepi jalan sambil berteriak-teriak mengejek Jokowi. Mereka membawa spanduk bertuliskan "tolak politisasi kampus".

Mungkin untuk menebus rasa malu karena kehadirannya ditolak mahasiswa,  Jokowi beserta rombongan dan Rektor tetap berusaha memaksa masuk ke dalam kampus. Kericuhan pun meletus. Mobil pengawal pribadi Jokowi yang berada paling depan jadi bulan-bulanan mahasiswa. Mereka memblokir mobil itu dengan spanduk sambil berteriak-teriak. Polisi dan para petugas keamanan kampus mendorong mahasiswa dan akhirnya berhasil memukul mundur para mahasiswa yang marah. Tapi Jokowi pun terpaksa kabur terbirit-birit meninggalkan kampus ITB sehingga acara itu pun gagal.

Wakil Sekjen DPP PDIP Achmad Basarah menyayangkan terjadinya insiden ITB. Kedatangan Jokowi, kata Basarah, bukan sebagai calon presiden PDIP tapi Gubernur Jakarta. Jokowi diundang Rektor ITB untuk acara penandatanganan nota kerja sama Pemda DKI Jakarta dengan ITB.

‘’Protes yang dilakukan sekelompok mahasiswa Bandung pada kedatangan Jokowi di kampus ITB dengan tuduhan politisasi kampus adalah sikap yang tak sesuai dengan kondisi obyektifnya,’’ kata Basarah dalam pernyataan tertulis Kamis, 17 April lalu. Jokowi, kata Basarah, berhak memenuhi undangan tersebut karena kapasitasnya sebagai Gubernur Jakarta. Sebaliknya, kata politisi PDIP itu, bila tak memenuhi undangan tersebut, Jokowi bisa dianggap tak menjalankan tugasnya sebagai gubernur. ‘’Saat ini bukan masa kampanye pemilihan presiden, dan memang belum dimulai,’’ katanya.

Tapi di sinilah masalahnya. Sekarang Jokowi sulit membedakan diri sebagai calon Presiden PDIP atau Guberur Jakarta. Berkali-kali terbukti Jokowi seenaknya meninggalkan kantor pada jam kerja (pukul 12 atau pukul 13 siang) untuk menghadiri acara di rumah Megawati di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, atau acara PDIP lainnya. Masyarakat pun (seperti mahasiswa ITB itu) tentu sulit membedakan Jokowi datang ke kampusnya sebagai Gubernur atau Capres sebuah partai politik.
 
Mohamad Sanusi dari Fraksi Gerindra di DPRD Jakarta menuduh tindakan Jokowi yang seenaknya ngacir pada jam-jam kerja Gubernur itu sebagai ‘’korupsi waktu’’. Oleh karenanya, untuk menghindari masalah itu, Sanusi mengusulkan agar Jokowi mengundurkan diri dari Gubernur Jakarta, dan berkonsentrasi pada pencalonannya sebagai presiden.
 
Apa yang dipermasalahkan Sanusi dan Fraksi Gerindra (adalah Gerindra bersama PDIP yang dulu mencalonkan Jokowi sebagai Gubernur Jakarta) tampaknya memang tepat. Sudah lama jadi pembicaraan di kalangan para staf Pemda DKI Jakarta, betapa Jokowi terlalu sibuk dengan urusan pencalonnya sebagai Presiden, sehinggah pekerjaannya sebagai Gubernur telantar.
 
Kalau hal seperti ini berlangsung terus, Jokowi bukan hanya melakukan korupsi waktu seperti yang dituduhkan Mohamad Sanusi, tapi juga korupsi dalam arti yang sesungguhnya. Betapa tidak? Jokowi selalu membawa fasilitasnya sebagai Gubernur (seperti mobil, pengawal, ajudan) yang digaji atau dibiayai negara, untuk keperluan partai politik PDIP. Satu hal yang pasti, rakyat Jakartalah yang dirugikan oleh perbuatan Jokowi ini.
 
Sebuah sumber mengungkapkan bahwa banyak surat-surat penting yang sampai sekarang belum sempat ditanda-tangani Jokowi sebagai Gubernur, sehingga urusannya jadi macet. Surat-surat yang macet di meja Gubernur Jokowi itu kebanyakan surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) rumah atau apartemen. Malah yang paling parah Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah yang sudah diketok DPRD dan disetujui Menteri PU, sampai sekarang ngangkrak di meja Jokowi.
 
Saking sibuknya mengurusi Capres, belakangan Jokowi dan Megawati ‘’terpeleset’’.  Para wartawan memergoki mereka berada di sebuah rumah di Jalan Sircon, kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan. Ngapain Mega dan Jokowi ada di sana?
 
Malam itu, Senin, 14 April 2014, Jokowi beserta Megawati dan putrinya, Puan Maharani, rupanya mendatangi rumah kediaman pengusaha Jacob Soetoyo, pemilik Hotel J.S Luwansa itu. Jacob, selain pengusaha pernah aktif sebagai salah satu pengurus CSIS, lembaga pengkajian milik para aktivis Katolik yang di awal Orde Baru sangat berkuasa karena dekat dengan penguasa. CSIS juga dituduh sangat anti-Islam. Jacob diketahui dekat dengan Sofyan Wanandi, pemimpin CSIS.
 
 MENGAPA BUKAN DI RUMAH MEGA
 
 Pertemuan ini tampaknya memang dirahasiakan. Tapi sempat diketahui sejumlah wartawan yang malam itu mengikuti sedan Mercy warna putih milik Megawati. Ternyata mobil yang berangkat dari rumahi Mega di kawasan Menteng menuju ke rumah Jacob Soetoyo di kawasan Permata Hijau. Ternyata pula, Jokowi mengendarai mobil lain, sebuah kijang Inova yang juga berwarna putih, mengiringi mobil Megawati menuju tempat yang sama. Dikabarkan Sabam Sirait (ayah Maruarar Sirait, anggota DPR dari PDIP), politisi yang sudah sangat renta itu ikut dalam rombongan.
 
Tapi yang paling mengagetkan ternyata di rumah itu hadir pula Duta Besar Amerika Serikat Robert O Blake, Dubes Vatikan Antonio Guido Fillipazzi, Dubes Inggris Mark Cunning, Dubes Norwegia Stig Traavik, Dubes Meksiko Melba, dan Dubes Peru Roberto Seminario Purtorrero. Ada yang menyebutkan Dubes China Liu Jianchao dan Dubes Turki Zekeriya Akcam juga ada di sana.
 
Pertemuan tertutup sekitar dua setengah jam antara pimpinan partai dan seorang calon Presiden dengan sejumlah Duta Besar negara asing di rumah pengusaha pula, tentu saja sangat mencurigakan. Terutama karena kita sekarang di ambang Pemilu pemilihan Presiden. Apakah Sang Capres sedang minta bantuan negara asing agar terpilih dengan imbalan negara ini digadaikan kepada pihak yang membantunya?
 
Dan Jokowi, bekas pedagang mebel itu, adalah seorang calon Presiden. Apalagi selama ini sudah menjadi isu dan bisik-bisik yang luas dari mulut ke mulut bahwa Jokowi adalah antek asing yang direkayasa untuk menjadi Presiden Indonesia guna menguasai Indonesia – negara yang memiliki bahan-bahan tambang dan kekayaan alam lainnya.
 
Kehadiran Dubes Amerika dalam pertemuan dengan Capres Jokowi bisa dilihat dari segi banyaknya kepentingan negara adidaya itu terhadap Indonesia. Paling tidak, negara itu punya  tambang emas Freeport di Papua dan Newmont di NTB yang selalu harus dijaga keamanannya.
 
Kehadiran Dubes China juga relevan karena China adalah negara yang selama ini paling agresif memburu bahan tambang di seluruh dunia – tentu termasuk ke Indonesia. Sejumlah negara lain seperti Inggris, Turki, Norwegia, atau bahkan Myanmar, adalah negara-negara teman dekat Amerika Serikat, selain tentu mereka juga berkepentingan punya hubungan baik dengan Jokowi calon Presiden Indonesia itu.
 
Tapi yang paling menarik adalah hadirnya Dubes Vatikan Antonio Guido Fillipazzi. Negara mini yang terletak di Kota Roma, Italia, tentu tak ada keperluan bisnis apa pun di Indonesia. Kalau begitu untuk apa Dubes Fillipazzi hadir di rumah Jacob?
 
Orang pun segera menghubungkannya dengan gosip yang ramai beredar sebelum Jokowi terpilih menjadi Gubernur Jakarta, bahwa kekuatan asing (terutama Amerika Serikat) berada di belakang Jokowi. Bila terpilih Jokowi akan memberi fasilitas dan kemudahan bagi negara-negara asing itu untuk berbisnis dan menyebarkan agama Kristen/Katolik di Indonesia atau mengkristenkan Indonesia. Kalau bukan karena urusan penyebaran agama, untuk apa Dubes Fillipazzi perlu-perlunya datang ke sana pada malam itu?
 
Meski pun perhelatan di rumah Jacob Soetoyo malam itu sudah tersebar di media, anehnya tak ada bantahan atau penjelasan dari Jokowi mau pun PDIP atas peristiwa itu. Mengapa pertemuan dilaksanakan di rumah Jacob, pengusaha yang pasti punya kepentingan bisnis bila kelak Jokowi terpilih menjadi Presiden?
 
Artinya, Presiden Jokowi kelak akan diatur cukong. Mengapa pertemuan tak dilakukan di rumah Megawati saja? Pantaskah seorang bekas Presiden seperti Megawati, atau seorang calon Presiden seperti Jokowi, datang malam-malam ke rumah seorang pengusaha? Sangat jelas, bungkemnya Megawati, Jokowi, mau pun para tokoh PDIP, karena tak bisa menjawab pertanyaan ini.
 
Maka dari apa yang terjadi bisa ditebak bahwa pertemuan Jokowi dan Megawati dengan para Dubes asing itu dilatar-belakangi hal-hal yang negatif. Misalnya, para Dubes negara asing itu akan membantu Jokowi untuk terpilih menjadi Presiden. Lalu Jokowi mau pun Megawati memberi janji atau konsesi kalau Jokowi terpilih sebagai Presiden. Kalau itu benar, sebenarnya dengan kata lain, Megawati dan Jokowi telah ‘’menggadaikan’’ Indonesia kepada perwakilan-perwakilan negara asing itu.
 
Soalnya, Megawati sudah membuktikan ketika menjadi Presiden, bagaimana dia dengan mudahnya melego sejumlah BUMN ke pihak asing seperti yang terjadi dalam kasus Indosat. Bagaimana pula Megawati melepaskan Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan pemerintah Malaysia.
 
Pantas kalau bekas Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad punya hubungan yang akrab dengan Megawati. Baru-baru ini, misalnya, Mahatir mengunjungi rumah kediaman Megawati dan diperkenalkan Mega pada Gubernur Jokowi. Mungkin kalau Jokowi terpilih Malaysia akan dapat lagi ‘’hadiah’’ pulau-pulau lain dari Indonesia.

Kembali cerita pertemuan Megawati dan Jokowi dengan para pejabat perwakilan negara asing itu, pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak, menilai tindakan itu sebagai sebuah kesalahan besar yang diperbuat PDIP. Hal itu semakin memperjelas dan mempertegas dugaan publik terhadap kepentingan asing atas Jokowi. "Pertemuan Dubes asing itu langkah blunder PDIP. Ini menpertegas sisi gelap pencalonan Jokowi," kata Zaki kepada wartawa di Jakarta, 15 April malam yang lalu.

Terungkapnya pertemuan itu, kata Zaki, membuat masyarakat semakin melek dan mengerti pada ambisi Jokowi untuk menjadi penguasa di Indonesia. Semakin memperjelas ada kepentingan asing di belakang mantan Wali Kota Solo itu. "Pertemuan tersebut difasilitasi konglomerat besar. Makin jelas pengaruh cukong dalam gerakan pemenangan Jokowi,"  kata Zaki.

Makin jelas saja bahwa Jokowi hanya sekadar boneka Megawati. ‘’Ia diminta hadir dalam pertemuan tersebut oleh Mega tapi tak kuasa menolak," kata Zaki menduga. Untuk itu, menurut Zaki, sebaiknya Capres PDIP ini memperjelas maksud dan tujuan dari pertemuan tersebut. Hal itu guna menghindari dugaan publik terhadap kepentingan asing di Pilpres 2014 nanti. "Sebagai calon presiden Jokowi berkewajiban menjelaskan kepada publik apa agenda pertemuan tersebut. Semakin ditutupi, semakin menggerus kepercayaan publik kepadanya," kata  Zaki. Tapi tampaknya sekarang Jokowi mau pun Megawati dan PDIP tetap bungkem.

Seperti diketahui ketika pertemuan malam itu usai dan para tamu bubar, Jokowi, Megawati dan Puan Maharani tampak terkejut karena di halaman rumah Jacob, di Jalan Sircon, Jakarta Selatan itu, para wartawan telah menunggu mereka.

Jokowi bersama Megawati dan Puan langsung saja menaiki mobil Mercy B 609 HPM warna putih. Jokowi yang biasa akrab menyapa wartawan, malam itu tampak berusaha bersembunyi dan menghindari wartawan. Sementara, Megawati yang duduk di bangku belakang mobil hanya melemparkan senyuman kecut. Tampaknya mereka semua kaget karena pertemuan rahasia itu bocor kepada wartawan. (AN)

0 Komentar