Ahed Tamimi, Gadis Pemberani Penghadang Pasukan Zionis

Senin, 25 Desember 2017 - 13:22 WIB | Dilihat : 1553
Ahed Tamimi, Gadis Pemberani Penghadang Pasukan Zionis Foto Ahed Tamimi kecil yang menghadang pasukan zionis

Seharipun rasa takut tidak pernah menyusup ke dalam hatinya. Dia telah mencabut ketakutan itu dari hatinya. Sebagaimana dia cabut tiga peluru Zionis dari tubuhnya yang kurus. Bukan hanya sekali pasukan penjajah Zionis ingin membunuhnya. Namun tidak pernah berhasil menutup dua mata hijau yang menyalakan kebebasan dan kemauan tersebut.

Tulislah nama “Ahed Tamimi” di mesin pencarian di internet, maka akan Anda dapatnya puluhan foto seorang gadis berambut pirang yang lantang dan pemberani. “Dunia telah mengenalnya sebagai seorang gadis pemberontak yang tidak bisa menerima penindasan.” Begitu juga kata-kata abadinya yang lantang dan nyaring setiap kali menghadapi serdadu-serdadu penjajah Zionis: “Keluar kalian dari Palestina”. Gemanya masih saja terus mengetuk-ngetuk telinga.

“Ahed” (janji), seakan dia telah mengambil bagian dari namanya ketika berjanji pada diri dan keluarganya agar tidak diam dan jangan tunduk kepada siapapun ketika kehormatan tanah air dan negerinya dinodai. Karena itu, sudah sepatutnya kalau penjajah Zionis mengerahkan pasukannya untuk menangkapnya.

Diungkapkan ayah Ahed Tamini, Basem Tamimi, yang dilansir Pusat Informasi Palestina, lebih dari 20 patroli (jip) pasukan Zionis dikerahkan untuk menangkap gadis kecilnya pada saat-saat menjelang akhir malam di desa Nabi Shaleh di barat kota Ramallah, wilayah tengah Tepi Barat.

Pasukan penjajah Zionis mengklaim bahwa Ahed (17) menghadang para serdadu penjaja Zionis pada saat mereka berusaha menyerbu rumah keluarganya selama terjadi aksi protes rakyat Palestina terhadap keputusan Amerika yang mengakui kota suci al-Quds sebagai ibukota penjajah Zionis Israel.

Basem Tamimi menegaskan bahwa pasukan penjajah Zionis dengan bersenjata lengkap menyeru rumah mereka pada jam-jam akhir malam Senin (18/12/2017). Mereka menyita sejumlah komputer dan telpon genggam, sebelum kemudian menangkap putrinya “Ahed”.

Diketahui kemudian, pasukan penjajah Zionis menangkap Nariman Tamimi, ibu Ahed Tamimi, di depan barak militer Zionis Benjamin di utara Ramallah. Saat itu korban sedang dalam perjalanan untuk mengetahui kondisi dan status putrinya yang ditangkap pagi-pagi hari itu.

Gadis Pemberani

Di kalangan teman-temannya, Ahed dikenal sebagai bocah yang paling pemberani dalam menghadang pasukan penjajah Zionis saat menyerang keluarga dan tetangganya. Dia bersama ibunya pernah berhasil membebaskan saudara kandungnya, Muhammad Tamimi (12) dari tangan pasukan penjajah Zionis yang berusaha menangkapnya. Aksi berani penuh kepahlawanan itu sempat terekam oleh kamera media.

Ayahnya, Basem Tamimi, juga menegaskan bahwa Ahed tidak pernah tidak ikut dalam aksi-aksi pawai pekanan setiap hari Jum’at di desa Nabi Shaleh. Dia berteriak lantang di muka pasukan penjajah Zionis “Keluar kalian dari Palestina. Keluar kalian dari tanah kami. Tanah ini bukan milik kalian.” Basem mengungkapkan, Ahed selalu bercita-cita ingin kuliah hukum agar bisa menjadi pengacara yang bisa membela tanahnya, keluarganya dan bangsanya.

Pawai dan aksi pekanan di desa Nabi Shaleh sudah dimulai sejak Desember tahun 2009. Aksi ini sebagai protes pekanan yang dilakukan warga desa dan para aktivis internasional untuk menentang tembok pemisah rasial dan penggusuran tanah desa untuk keperluan pembangunan kompleks permukiman Yahudi “Hilmish”. Aksi pekanan ini dilakukan dalam konteks perlawanan rakyat menentang tembok pemisah rasial yang melahap sebagian besar tanah desa.

Media-media dipenuhi dengan foto bocah gadis “Ahed” yang masyhur dengan keberaniannya. Dia menerima sebuah kehormatan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menerima penghargaan "Courage to Courage" pada bulan Desember 2012, yang diberikan oleh pemerintah kota "Pakash Shahir" di Istanbul, Turki, sebelum Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan bertemu dengannya dan memuji keberaniannya.

Keluarga Pejuang

“Ahed” berasal dari keluarga Palestina yang sudah lama dikenal dengan kepahlawanan dan perjuangannya melawan penjajah Zionis. Hampir setiap hari mereka hidup sebagai buron dikejar-kejar penjajah Zionis, karena mereka tigal di daerah yang berada di bawah kontrol penjajah Zionis. Ayahnya ditangkap dan ditahan lebih dari 9 kali. Ibunya ditangkap dan ditahan lebih dari 5 kali, begitu juga saudara laki-lakinya. Paman dari ayah dan bapaknya gugur ditembak pasukan penjajah Zionis.

Sejak usia 14 tahun, ayahnya bilang, “Dia tidak pernah meninggalkan pawai atau aksi melawan penjajah Zionis, untuk menolak kebijakan-kebijakan penjajah Zionis. Dia tidak takut sama penjajah Zionis. Dia yakin penuh apa yang dia lakukan. Dia berpendapat, keluar mengikuti pawai melawan kebijakan penjajah Zionis adalah motivasi bagi orang-orang untuk terus berjuang.”

Selasa (19/12/2017), surat kabar Zionis Yedeot Aharonot, judul di halaman utama tentang apa yang disebutnya fenomena gadis-gadis di bawah umur dan wanita-wanita Palestina menyerang para serdadu penjajah Zionis dalam aksi-aksi demo dan konfrontasi yang terjadi di Tepi Barat dan al-Quds, memprotes keputusan Presiden Amerika Donald Trump yang mengakui al-Quds sebagai ibukota penjajah Zionis.

Surat kabar Zionis ini memastikan bahwa setelah ditangkapnya Ahed Tamimi, militer penjajah Zionis melakukan operasi khusus dengan target para gadis-gadis Palestina yang wajah mereka terekam dalam video selama aksi menghadang para serdadu penjajah Zionis dan ikut dalam konfrontasi yang meletus di wilayah Palestina.

3 Peluru Melukai Tubuhnya

Sebelum ditangkap, Ahed bukanlah seorang bocah gadis biasa. Tiga buah peluru Zionis pernah melukai tubuh kurusnya, salah satu tangannya pernah patah. Meski demikian, tidak tidak kehilangan keberanian untuk menghadang para serdadu penjajah Zionis. Terus membela diri dan keluarganya, berterik keras di muka para serdadu penajah Zionis.

Meskipun Ahed sudah ditangkap, keluarga Tamimi masih dihantuan ancaman “pengusiran paksa”, akibat ancaman pasukan penjajah Zionis yang terus dilancarkan keapda mereka untuk menghancurkan rumahnya dengan dalih tidak berizin.

red: adhila
sumber: infopalestina

 

0 Komentar