Erdogan: Yerusalem adalah Garis Merah bagi Umat Muslim

07 Desember 10:13 | Dilihat : 808
Erdogan: Yerusalem adalah Garis Merah bagi Umat Muslim Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan

Ankara (SI Online) - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menegaskan status Yerusalem adalah 'garis merah' bagi seluruh muslim. Hal itu terkait kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Erdogan juga memperingatkan bahwa Turki bisa saja memutuskan hubungan dengan Israel jika AS secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaannya ke sana. 

"Saya merasa sedih mengetahui laporan-laporan yang menyebut AS bersiap untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel," ucap Erdogan dalam pernyataannya dalam rapat parlemen.

"Pak Trump, Yerusalem adalah garis merah untuk muslim. Ini adalah pelanggaran hukum internasional untuk mengambil keputusan mendukung Israel sementara luka masyarakat Palestina masih mengeluarkan darah," imbuh Erdogan.

"...ini bisa berujung pada pemutusan hubungan antara Turki dengan Israel. Saya memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak mengambil langkah yang akan memperdalam masalah di kawasan," tegasnya. 

Erdogan menambahkan, jika Trump sungguh secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, maka dia akan meminta digelarnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dalam 5-10 hari ke depan. Turki saat ini memegang kepemimpinan bergilir OKI.

"Kita akan menggerakkan seluruh dunia Islam," ujarnya.

Tahun lalu, Turki dan Israel mengakhiri pertikaian yang dipicu serangan mematikan Israel terhadap sebuah kapal yang berlayar ke Gaza yang membawa aktivis kemanusiaan Turki. Sedikitnya 10 aktivis Turki tewas dalam serangan itu. Hubungan diplomatik Turki dengan Israel memburuk. Beberapa waktu belakangan, kedua negara kembali meningkatkan kerja sama, khususnya dalam sektor energi.

Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Israel terkait pernyataan Erdogan soal potensi pemutusan hubungan itu. Namun Menteri Pendidikan Israel, Naftali Bennett, yang merupakan mitra senior koalisi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengabaikan komentar itu. 

"Akan selalu ada pihak-pihak yang mengkritik, tapi pada akhirnya, lebih baik memiliki Yerusalem yang bersatu daripada simpati Erdogan," ucapnya.

red: adhila
sumber: AFP/reuters/dtk

 

0 Komentar