#Selamatkan Rohingya

Ranjau Darat Incar Pengungsi Rohingya

24 September 11:16 | Dilihat : 514
Ranjau Darat Incar Pengungsi Rohingya Pengungsi Rohingya

Yangon (SI Online) - Lembaga Human Right Watch (HRW) mengungkapkan bahwa Militer Myanmar diduga menanamkan ranjau di negara bagian Rakhine barat.

HRW mengutip bukti seperti laporan saksi mata, laporan independen serta rekaman foto. Mereka menyebut, militer Myanmar telah menempatkan ranjau darat anti-personel di titik-titik penyebrangan utama di perbatasan barat Myanmar. 

Sejak akhir Agustus hingga kini, sekitar 420 ribu warga Muslim Rohingya telah melarikan diri dari kekerasan di negara tersebut.

HRW menilai ranjau darat yang diletakkan oleh tentara di sepanjang perbatasan menimbulkan risiko besar bagi warga desa Rohingya yang melarikan diri dari kekejaman yang sedang berlangsung di daerahnya.

“Bahaya yang dihadapi ribuan orang Rohingya yang melarikan diri dari kekejaman di Burma cukup mematikan, tanpa perlu menambahkan ranjau darat," kata Direktur HRW kawasan Asia Selatan Meenakshi Ganguly dikutip dari Anadolu Agency, Ahad (24/9/2017).

“Militer Burma perlu berhenti menggunakan senjata terlarang yang bisa langsung membunuh ini,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Saksi mata mengatakan kepada HRW, bahwa personel militer Myanmar juga menanamkan ranjau di jalan-jalan di dalam wilayah Rakhine sebelum serangan ke desa-desa Rohingya digencarkan.

Kelompok tersebut mewawancarai para pengungsi yang bersaksi bahwa tentara-tentara menanamkan ranjau anti-personel di jalan.

Mohammad, 39, mengatakan bahwa dia melihat saat anak laki-laki tetangganya saat menginjak ranjau yang diletakkan oleh militer. “Ranjau itu seketika menghancurkan kaki kanannya,” ujar dia. 

Ledakan di sekolah agama 

Secara terpisah, menurut laporan media Myanmar, sebuah ledakan di sebuah sekolah agama Muslim di salah satu desa Rohingya di Kotapraja Buthidaung juga terjadi pada hari Jumat.

Pemerintah Myanmar menyalahkan ledakan itu merupakan aksi dari kelompok militan. Namun pernyataan itu tidak dikuatkan dengan bukti apapun. 

Pemerintah Bangladesh baru-baru ini juga memprotes penggunaan ranjau darat oleh pasukan keamanan Myanmar di daerah perbatasan, setelah sebuah ledakan menewaskan tiga warga desa Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di daerah Maungdaw.

Sejak 25 Agustus, PBB mencatat, sudah lebih dari 421 ribu orang Rohingya yang menyeberang dari negara bagian Myanmar di Rakhine ke Bangladesh. PBB mengatakan, secara total, lebih dari 700.000 pengungsi Rohingya saat ini diyakini berada di Bangladesh, termasuk mereka yang sudah datang sejak 25 Agustus.

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari operasi yang dilakukan oleh militer dan kelompok Buddha. Mereka disebut-sebut telah membunuh pria, wanita dan anak-anak, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya. 

Menurut Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hasan Mahmood Ali, ada sekitar 3.000 orang Rohingya tewas dalam aksi kekerasan tersebut.

red: adhila
sumber: anadolu

0 Komentar