#Selamatkan Rohingya

UNICEF: 200.000 Anak-anak Rohingya Memprihatinkan dan Butuh Bantuan

13 September 13:22 | Dilihat : 447
UNICEF: 200.000 Anak-anak Rohingya Memprihatinkan dan Butuh Bantuan Anak Rohingya (foto: reuters)

Dhaka (SI Online) - Organisasi PBB yang menanggani anak-anak (UNICEF) mengungkapkan, lebih dari 200.000 anak-anak Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh dari Myanmar berada dalam kondisi yang memprihatinkan dan membutuhkan bantuan sesegera mungkin.

"Krisis kemanusiaan semakin parah dan anak-anak menjadi korban utama krisis tersebut," kata Jean Lieby, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Bangladesh dalam konferensi pers di Cox's Bazar, Bangladesh, dekat perbatasan Myanmar, Selasa (12/9).

Berdasarkan data awal, Lieby menyebutkan 60 persen pengungsi adalah anak-anak. "Yang paling tampak di kamp-kamp Rohingya adalah banyaknya jumlah anak-anak. Anak-anak tidak tidur selama berhari-hari. Mereka tampak lemas dan kelaparan," jelasnya.

Ia juga mengatakan bahwa UNICEF meyakini sebanyak 200.000 anak-anak tengah membutuhkan bantuan darurat. 

"Kami telah mengidentifikasi 1.128 anak yang terlantar, namun kami memperkirakan bahwa jumlah ini akan terus meningkat dalam beberapa hari mendatang," tambah Lieby.

"Seiring bertambahnya jumlah kamp setiap harinya, kita harus menyediakan air minum yang aman untuk dikonsumsi dan sanitasi dasar. Kami ingin mencegah timbulnya penyakit bawaan air," katanya.

Menurut PBB, sejak 25 Agustus, lebih dari 370.000 Rohingya telah mengungsi dari negara bagian Rakhine, Myanmar, ke Bangladesh.

Mereka mengungsi untuk menghindari operasi militer yang dilancarkan oleh pasukan keamanan dan umat Buddha yang membunuh, menjarah, dan membakar desa-desa Rohingya. Menurut Otoritas Bangladesh, sekitar 3.000 Rohingya tewas dalam operasi militer tersebut. 

Turki telah berada di garis terdepan dalam menyalurkan bantuan bagi pengungsi Rohingya dan Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan akan membawa isu tersebut di PBB.

PBB menyebut kaum Rohingya sebagai kaum yang paling teraniaya di dunia, yang telah menderita akibat sejumlah serangan sejak kekerasan komunal terjadi pada 2012 yang menewaskan puluhan jiwa.

Oktober tahun lalu, pasukan keamanan Myanmar melancarkan operasi di Distrik Maungdaw, Rakhine, selama lima bulan, yang menurut perwakilan Rohingya telah menewaskan 400 jiwa.

PBB mencatat adanya kejahatan kemanusiaan, termasuk pemerkosaan massal, pembunuhan – terhadap bayi dan anak-anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan paksa oleh pasukan keamanan selama operasi tersebut.

red: adhila
sumber: anadolu

0 Komentar